harmono 14/09/2015

prambanan-2POSKOTA.CO – Diana senang berada di rumah eyang putrinya. Rumah yang bagus dan asri, semua tertata dan terawat dengan baik. Meubel-meubel kuno dari kayu jati, meja-meja marmer, sangat antik dan membuat betah di rumah. Semua serba ada….sangat berbeda dengan rumah bapaknya. Air disini mengalir dengan deras tanpa harus menimba. Ada pompa listrik yang menggantikan timba, makanan berlimpah dan rumah yang cukup luas.

Eyang Praja hari ini tidak pergi ke Pasar berdagang di Beringardjo, dia ingin berikan waktu dan perhatiannya khusus untuk cucu yang baru diketumukan. Ingin berbincang untuk mengurai kehidupan Diana yang cukup rumit. Ia panggil cucunya dan Mbak Dewi ke ruang tengah untuk membicarakan kemauan Diana.

” Eyang putri sebenarnya tidak mempunyai hubungan yang harmonis dengan ibumu Woek….cah ayu. Waktu Eyang Kakung masih ada, Eyang mu ini secara sembunyi-sembunyi masih sering berhubungan dengan ibumu”!

Eyang Praja putri bagaimanapun seorang ibu. Semarah apapun kepada Mbak Retno anaknya….dia tidak tega. Tidak mungkin dia tega membiarkan Mbak Retno tidak punya uang untuk makan. Atau ketika Mbak Retno mengeluh anaknya sakit dan butuh uang untuk pergi ke dokter dan membeli obat.

Sekilas cerita tentang Perkawinan bapak dan ibu Diana juga ia ceritakan agar Diana paham mengapa Eyangnya dan ibunya mempunyai hubungan yang dingin. Diana sudah cukup dewasa untuk tahu persoalan keluarga yang ada. Ada bagian yang Eyang Praja ingin katakan sendiri. Tapi ada bagian dari Mbak Retno yang biar Diana tahu sendiri. Ini agar adil dan bijak….agar Diana nanti memilih sendiri mau ikut eyang atau ibunya. Berbeda pendapat
boleh, tetapi Eyang Praja tidak mau mempengaruhi Diana untuk memusuhi/menjauhi Ibunya. Pelan- pelan Ia menjelaskan tentang Mbak Retno anak kesayangannya.

Wita saat berlibur ke Bali
Wita saat berlibur ke Bali

” ibumu sudah menikah kembali Woek, tetapi statusnya sebagai istri ke dua….istri simpanan…atau istri siri…wong pernikahannya tidak ada kekuatan hukumnya” ” Eyang tidak setuju, sedih dan prihatin dengan langkah-langkah hidup ibumu.Eyang memang menentang dan tidak sepaham! Tetapi eyang bisa apa Woek?

Matahari sudah mulai tinggi, tetapi jejak hujan semalaman menyisakan kesejukan. Sebuah suasana yang tenang dan nyaman untuk berbincang. Diana mendengarkan dengan seksama cerita-cerita kehidupan ibu kandungnya. Sebagai anak yang terpusah sejak kecil Dia rindu hadirnya seorang ibu.

Diana menyampaikan kerinduannya itu kepada Eyang putrinya. Ia rindu di peluk ibunya seperti teman-temannya. Hidupnya terbiasa timpang….tanpa ibu kandung! Setiap waktu harus mengalah kepada adik-adik tirinya. Harus rela salah walau benar. Harus rela salah besar walau kesalahannya kecil. Harus rela lapar….harus….

” Eyang…..Diana senang tinggal bersama eyang putri, tetapi Diana ingin merasakan hidup bersama seorang ibu”

” Iya woek…kalau sudah kamu sembuh biar tante mu nanti yang antar kamu ke Jakarta. Kamu bebas memilih mau ikut siapa” Pikiran dan keinginan Diana benar dan wajar. Ibu adalah orang yang melahirkan anak-anaknya.

Sebaik-baiknya ibu sambung pasti lebih baik dan lebih enak kalau ikut ibunya sendiri. Tentang gaya dan polah Mbak Retno yang lain, Eyang Praja akan membiarkan Diana melihat dengan mata sendiri setelah mereka jadi satu. Rasanya lega sudah bisa bercerita kepada cucunya.
Memang bukan hal yang mengenakan….tetapi cucunya harus tahu kedinginan hubungannya dengan ibunya. Matanya menerawang dalam kegetiran….mengapa lelakon anaknya seperti ini?
(Bersambung..By : Wita Lexia)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*