PRESIDEN JOKOWI BLUSUKAN KE PLAZA PEKALONGAN CARI SARUNG – Poskota.co

PRESIDEN JOKOWI BLUSUKAN KE PLAZA PEKALONGAN CARI SARUNG

POSKOTA.CO – Sebelum menghadiri acara Maulid Nabi SAW yang digelar di Gedung Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri blusukan ke Plaza Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (8/1) malam, untuk membeli sarung dan bertemu masyarakat kota tersebut.

Masyarakat setempat terlihat terkejut dengan kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu. Para pengunjung plaza seketika berkumpul untuk melihat dan mencoba berjabat tangan dengan Presiden yang sedang memilih koleksi sarung di Toko Qoni yang terletak di lantai 1.

Presiden Jokowi saat blusukan ke Plaza Pekalongan untuk membeli sarung, sebelum menghadiri acara Mauid Nabi SAW, Minggu (8/1) malam, di Gedung Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Presiden Jokowi saat blusukan ke Plaza Pekalongan untuk membeli sarung, sebelum menghadiri acara Mauid Nabi SAW, Minggu (8/1) malam, di Gedung Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

“Tadi Pak Presiden beli dua sarung, satu putih dan satu lagi motif kotak-kotak,” kata penjaga Toko Qoni, Rustahul Jannah, yang akrab disapa Ita itu mengaku kaget dan gugup saat Kepala Negara berkunjung ke toko yang dijaga olehnya.

Menurut Ita, Presiden membeli sarung dengan harga Rp60 ribu dan Rp425 ribu. “Saya masih kaget Mas. Tidak disangka-sangka Jokowi masuk ke toko,” ujar Ita dilansir dari Antara.

Usai membeli sarung, Presiden Joko Widodo menuju ke lantai dua Plaza Pekalongan untuk melihat kegiatan ekonomi warga di lokasi tersebut

Warga yang berkumpul semakin ramai ketika Presiden keluar dari toko. Beberapa dari mereka mengabadikan momen itu menggunakan kamera selularnya, dan yang lainnya memanggil-manggil nama Jokowi.

Selama kunjungan kerja di Pekalongan, Minggu (8/1), Presiden mengenakan pakaian kemeja putih dibalut jas hitam dan memakai bawahan sarung berwarna cokelat muda.

Presiden mengenakan sarung sejak berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta untuk mengikuti prosesi perayaan Maulid Nabi SAW.

Jokowi telah menyambangi Pondok Pesantren At Taufiqy, dan mengikuti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 Hijriah di Gedung Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)