POLISI CINTA KASIH, DICINTAI SELURUH UMAT – Poskota.co

POLISI CINTA KASIH, DICINTAI SELURUH UMAT

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Nilai hakiki kalian tidak akan pernah tersentuh. Kalian akan tetap berdiri kokoh setelah terjatuh. Kalian akan memaksa seluruh orang untuk mengakui harga diri kalian.

Bila kalian kehilangan kepercayaan terhadap diri kalian sendiri dan nilainya, saat itulah kalian kehilangan segala-galanya. Pesan moral itu menyerap dalam semangat insan Polri. Polri harus memiliki welas asih (cinta kasih). Peduli tanpa memandang perbedaan.

Ada dua catatan untuk polisi yang berjuang keras dalam melakukan tugasnya. Dua catatan ini yang sering kali luput atau hilang dari pemberitaan. Yang ada malah sebaliknya, polisi menjadi puncak kekesalan dan disalahkan.

Berita jeleknya pun tersebar di berbagai media yang ada saat ini. Rasanya sangat tidak adil jika kerja keras polisi selalu dikesampingkan. Seolah hilang begitu saja.

Brigadir Purwono, misalnya. Sebagai anggota Bhayangkara, dia tak pedulikan sumbangsih tenaganya untuk tugas negara.

Dia mengkesampingkan dirinya yang memiliki anak dan tanggung jawab sebagai suami. Dia hanya tahu tugas negara, sebagai seorang polisi yang harus mengabdi kepada masyarakat.

Anggota Polsek Rembang, Resort Purbalingga dengan Nrp 86081176 itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam menjalankan tugas mengamankan libur lebaran.

Hasil cek Inafis, diketahui penyebab meninggalnya karena kecapean, yang berdampak kepada serangan jantung mendadak.

Informasi yang berhasil dikumpulkan, menyebut bahwa yang bersangkutan mendapat jatah tugas piket 24 jam.

Karena personil sudah habis dikerahkan semua dalam rangka ORC, yang bersangkutan melanjutkan tugas dinas Pengamanan Bola, pengamanan kegiatan hiburan malam. Hal itu dia lakukan dengan kesadaran sendiri sebagai abdi negara.

Karena polisi ‘hebat’ itu sudah merasa letih, kecapaian, ngantuk, dan paginya harus tugas pengamanan BRI, ia meminta ijin kepada Kapolseknya. Pada Minggu, 10 Juli 2016, ternyata Tuhan berkehendak lain, Brigair Purwono pada pagi harinya, sekitar pukul 08.30 WIB, ditemukan sudah meninggal dunia dalam keadaan kaku.

MENOLONG IBU HAMIL

Peristiwa memilukan itu, bagian dari salah satu pengabdian seorang polisi. Lainnya yang perlu menjadi perhatian juga adalah, di mana polisi berjibaku menolong seorang ibu melahirkan saat terjebak kemacetan liburan lebaran di jalur Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada Jumat, 8 Juli 2016, di tengah kemacetan panjang saat berlaku sistem satu arah bagi kendaraan dari bawah ke atas menuju puncak.

Dijelaskan Kasatlantas Polres Bogor, AKP Bramastyo Priaji, ia mengetahui adanya ibu yang mau melahirkan dan terjebak macet dari radio panggil.

“Begitu di radio ramai ada seorang ibu yang menahan kesakitan karena mau melahirkan, sementara posisi jalur macet, saya perintahkan anggota terobos jalur. Pikiran saya hanya berkata bahwa Ibu ini harus diselamatkan nyawanya bersama bayinya,” ungkap Bramastyo Priaji.

Mendapatkan perintah itu, empat petugas Satlantas yang berada dekat ibu hamil tersebut langsung responsif. Mereka mempertaruhkan nyawa berjibaku menolong seorang ibu mau melahirkan di dalam kendaraan, dengan melawan arus.

Suara sirine motor patroli anggota dihidupkan, guna meminta pengendara, agar memberi ruang untuk jalannya anggota. Mereka tak pedulikan lagi nyawa mereka yang harus berhadapan dengan kendaraan lain yang melaju dalam kecepatan tinggi menuju ke atas.

Satu motor patroli polisi mengawal di depan saat kendaraan yang ditumpangi sang ibu mengarah ke Jakarta dari arah Puncak.

Motor anggota ini berlawanan arus saat rekayasa satu jalur ke atas Pukul 11.30 WIB. Sedang mobil sedan Sedan silver Hyundai bernomor polisi B 1958 GRA yang ditumpangi Ibu hamil beriringan dengan motor patroli dari arah Pasing Muncang menuju Simpang Gadog bersama anggota.

“Ibu ini duduk di kursi belakang sudah pendarahan. Awalnya mau di bawa ke bidan deket Pasir Muncang, tapi karena tempat bidan tutup, maka mau di bawa ke rumah sakit,” katanya.

Menurut Bramastyo, Ibu yang mau melahirkan di arah Pasir Muncang, ia duga suaminya kemungkinan mengambil jalur alternatif, guna menghindari macet. Namun saat di Pasir Muncang, mereka terjebak macet.

Bramastyo pun menyebut ‘alhamdulillah’, si ibu hamil yang belum diketahui indentitasnya dapat ditolong di dokter RSUD Ciawi. “Semoga ibu dan bayinya selamat. Kebangaan kami hanya dapat menolong masyarakat. Itu saja ,”kata Bramastyo.

Ia pun berpesan kepada masyarakat, di saat seperti arus ramai untuk mudik dan wisata, harus lebih siap lagi atas segala kemungkinan.

Kepada anggotanya pun, Bramastyo, berpesan melakukan pelayanan maksimal, dengan mengatur waktu dan kesehatan secara maksimal.

“Tetap semangat melaksanakan tugas. Kalau sudah capek harus jangan dipaksakan, tapi tidak harus meninggalkan tempat tugas,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_445" align="alignleft" width="300"] Kuasa hukum pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Surjadi Sumawiredja dalam pilkada Jawa Timur 2013, Kenny Hasibuan, menunjukkan surat yang akan diberikan kepada Mendagri Gamawan Fauzi di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (3/2). (ANTARA)[/caption] POSKOTA.CO - Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Suryadi Sumawiredja meminta Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi membatalkan jadwal pelantikan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) terpilih Soekarwo-Saifullah Yusuf, 12 Februari 2014. "Kami ke sini untuk menemui Mendagri guna menjelaskan permohonan klien kami (Khofifah-Herman) untuk tidak melantik pasangan Soekarwo-Saifullah," kata Kuasa Hukum Khofifah, Romulo HSA Silaen, di Jakarta, Senin. Menurut Romulo, permohonan pembatalan pelantikan ini karena ada pernyataan dari Akil (mantan Ketua MK Akil Mochtar) bahwa dalam putusan panel yang dimenangkan adalah Khofifah-Herman. "Ini karena ada statement dari Pak Akil bahwa dalam putusan panel yang dimenangkan adalah Khofifah, kenapa setelah Akil ditangkap, putusan itu berubah. Ada yang merugikan klien kami," katanya. Selain itu, Romulo menilai, MK telah melanggar undang-undang MK, yang tidak melibatkan ketua dalam RPH. "Ada cacat hukum dari putusan MK, pertama tidak melibatkan Akil sebagai ketua panel, dan tidak sesuai isi putusan panel yang diputus oleh panel sebelumnya, yang 3 orang itu, Akil, Maria, Anwar Usman, ini melanggar pasal 28 ayat 1 Undang-Undang MK, yaitu diputuskan oleh 9 atau dalam keadaan luar biasa 7 orang, dan dipimpin oleh ketua MK, putusan itu tidak melibatkan Akil dan putusan itu berbeda dengan putusan panel yang ditetapkan sebelumnya," katanya. Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Dedy Suprayitno mengatakan hingga saat ini  belum ada rencana pengunduran pelantikan Soekarwo-Saifullah Yusuf pada 12 Februari 2014. "Rencana itu masih berjalan, pelantikan sudah direncanakan, belum ada (pengunduran)," kata Dedy. (djoko/ant)