POLISI CINTA KASIH, DICINTAI SELURUH UMAT – Poskota.co
Saturday, September 23

POLISI CINTA KASIH, DICINTAI SELURUH UMAT

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Nilai hakiki kalian tidak akan pernah tersentuh. Kalian akan tetap berdiri kokoh setelah terjatuh. Kalian akan memaksa seluruh orang untuk mengakui harga diri kalian.

Bila kalian kehilangan kepercayaan terhadap diri kalian sendiri dan nilainya, saat itulah kalian kehilangan segala-galanya. Pesan moral itu menyerap dalam semangat insan Polri. Polri harus memiliki welas asih (cinta kasih). Peduli tanpa memandang perbedaan.

Ada dua catatan untuk polisi yang berjuang keras dalam melakukan tugasnya. Dua catatan ini yang sering kali luput atau hilang dari pemberitaan. Yang ada malah sebaliknya, polisi menjadi puncak kekesalan dan disalahkan.

Berita jeleknya pun tersebar di berbagai media yang ada saat ini. Rasanya sangat tidak adil jika kerja keras polisi selalu dikesampingkan. Seolah hilang begitu saja.

Brigadir Purwono, misalnya. Sebagai anggota Bhayangkara, dia tak pedulikan sumbangsih tenaganya untuk tugas negara.

Dia mengkesampingkan dirinya yang memiliki anak dan tanggung jawab sebagai suami. Dia hanya tahu tugas negara, sebagai seorang polisi yang harus mengabdi kepada masyarakat.

Anggota Polsek Rembang, Resort Purbalingga dengan Nrp 86081176 itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam menjalankan tugas mengamankan libur lebaran.

Hasil cek Inafis, diketahui penyebab meninggalnya karena kecapean, yang berdampak kepada serangan jantung mendadak.

Informasi yang berhasil dikumpulkan, menyebut bahwa yang bersangkutan mendapat jatah tugas piket 24 jam.

Karena personil sudah habis dikerahkan semua dalam rangka ORC, yang bersangkutan melanjutkan tugas dinas Pengamanan Bola, pengamanan kegiatan hiburan malam. Hal itu dia lakukan dengan kesadaran sendiri sebagai abdi negara.

Karena polisi ‘hebat’ itu sudah merasa letih, kecapaian, ngantuk, dan paginya harus tugas pengamanan BRI, ia meminta ijin kepada Kapolseknya. Pada Minggu, 10 Juli 2016, ternyata Tuhan berkehendak lain, Brigair Purwono pada pagi harinya, sekitar pukul 08.30 WIB, ditemukan sudah meninggal dunia dalam keadaan kaku.

MENOLONG IBU HAMIL

Peristiwa memilukan itu, bagian dari salah satu pengabdian seorang polisi. Lainnya yang perlu menjadi perhatian juga adalah, di mana polisi berjibaku menolong seorang ibu melahirkan saat terjebak kemacetan liburan lebaran di jalur Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada Jumat, 8 Juli 2016, di tengah kemacetan panjang saat berlaku sistem satu arah bagi kendaraan dari bawah ke atas menuju puncak.

Dijelaskan Kasatlantas Polres Bogor, AKP Bramastyo Priaji, ia mengetahui adanya ibu yang mau melahirkan dan terjebak macet dari radio panggil.

“Begitu di radio ramai ada seorang ibu yang menahan kesakitan karena mau melahirkan, sementara posisi jalur macet, saya perintahkan anggota terobos jalur. Pikiran saya hanya berkata bahwa Ibu ini harus diselamatkan nyawanya bersama bayinya,” ungkap Bramastyo Priaji.

Mendapatkan perintah itu, empat petugas Satlantas yang berada dekat ibu hamil tersebut langsung responsif. Mereka mempertaruhkan nyawa berjibaku menolong seorang ibu mau melahirkan di dalam kendaraan, dengan melawan arus.

Suara sirine motor patroli anggota dihidupkan, guna meminta pengendara, agar memberi ruang untuk jalannya anggota. Mereka tak pedulikan lagi nyawa mereka yang harus berhadapan dengan kendaraan lain yang melaju dalam kecepatan tinggi menuju ke atas.

Satu motor patroli polisi mengawal di depan saat kendaraan yang ditumpangi sang ibu mengarah ke Jakarta dari arah Puncak.

Motor anggota ini berlawanan arus saat rekayasa satu jalur ke atas Pukul 11.30 WIB. Sedang mobil sedan Sedan silver Hyundai bernomor polisi B 1958 GRA yang ditumpangi Ibu hamil beriringan dengan motor patroli dari arah Pasing Muncang menuju Simpang Gadog bersama anggota.

“Ibu ini duduk di kursi belakang sudah pendarahan. Awalnya mau di bawa ke bidan deket Pasir Muncang, tapi karena tempat bidan tutup, maka mau di bawa ke rumah sakit,” katanya.

Menurut Bramastyo, Ibu yang mau melahirkan di arah Pasir Muncang, ia duga suaminya kemungkinan mengambil jalur alternatif, guna menghindari macet. Namun saat di Pasir Muncang, mereka terjebak macet.

Bramastyo pun menyebut ‘alhamdulillah’, si ibu hamil yang belum diketahui indentitasnya dapat ditolong di dokter RSUD Ciawi. “Semoga ibu dan bayinya selamat. Kebangaan kami hanya dapat menolong masyarakat. Itu saja ,”kata Bramastyo.

Ia pun berpesan kepada masyarakat, di saat seperti arus ramai untuk mudik dan wisata, harus lebih siap lagi atas segala kemungkinan.

Kepada anggotanya pun, Bramastyo, berpesan melakukan pelayanan maksimal, dengan mengatur waktu dan kesehatan secara maksimal.

“Tetap semangat melaksanakan tugas. Kalau sudah capek harus jangan dipaksakan, tapi tidak harus meninggalkan tempat tugas,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.