Djoko Waluyo 23/02/2014

Simulasi pencegahan aksi radikal
Simulasi pencegahan aksi radikal

POSKOTA.CO – Pemuda di Kota Tangerang, Banten, diminta kritis terhadap hal-hal yang baru dalam rangka menangkal radikalisme.

“Sebagai penerus bangsa  harus kritis serta tidak mudah menerima ajaran radikalisme,” ungkap

Kapolres Metro Tangerang, Kombespol Riad dalam acara Dialog Anti Radikalisme di Pondok Pesantren Roudlotussalam Cimone.

Ia mengatakan, secara organisatoris radikalisme tidak nampak, tetapi telah masuk keseluruh elemen yang ada di masyarakat baik pelajar, santri, pejabat, pns, dan sebagainya.

Kemudian secara fisik para pelaku radikalisasi tidak bisa dilihat dari penampilan luar tetapi dilihat dari pemahamannya.

 Misalnya saling mengkafirkan, mencaci maki sehingga apa yang kita perbuat dan kita ucapkan cerminan dari Thogut.

“Maka itu, pemuda harus membentengi dengan nilai-nilai yang positif karena doktrin – doktrin radikalisme akan merasuk kedalam jiwa-jiwa yang kosong,” ujarnya.

 KETUA MUI

 

Ketua MUI KH. Edi Juanedi, menambahkan, dalam mencegah pemahaman – pemahaman radikal tidak hanya tugas Kepolisian serta TNI. Ulama pun turut serta masuk kedalamnya dengan menjadi tuntunan bukan tontonan.

“Teladi empat sifat rasul yakni jujur atau Shiddiq, bertanggung jawab atau Amanah, mau terus belajar atau Fathonah kemudian menyampaikannya kepada umat atau Tabligh,” ungkapnya.

 KETUA ANSOR

 Ketua PW GP. Ansor Provinsi Banten, Ahmad Imron, mengatakan, Radikalisme dikalangan pemuda khususnya sudah amat memperihatinkan terutama di bidang keagamaan.

 Sebab, banyak generasi muda yang di iming – imingi masuk surga secara instan yaitu dengan cara melakukan bom bunuh diri.

“Biasanya, pemuda yang pemahaman agamanya setengah – setengah akan mudah untuk di doktrin,” katanya.

 

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*