PEMBUNUH JESICCA DITANGKAP BUSER DI CITEUREUP – Poskota.co

PEMBUNUH JESICCA DITANGKAP BUSER DI CITEUREUP

terorisPOSKOTA.CO – Pembunuh Jesicca, bocah berusia 7 tahun dan penikam ibunya, Yunida,31, berhasil diungkap. Pelakunya ternyata Noval Fajar Bakti,31, motifnya tak diberikan pinjaman uang. “Kami jerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana,” ungkap Kapolres Bogor Kabupaten AKBP Suyudi Ario Seto, yang dikonfirmasi, Jumat (12/2/).

Pelaku juga dikenakan pasal 338 yang sudah siap dengan membawa pisau saat datang ke rumah korban, menjadi salah satu unsur adanya perencanaan.”Pisau dibeli di tengah perjalanan ke rumah korban,” tambah Suyudi.

Hari itu, kata Noval di kantor polisi sedianya akan menemui Bina Sitorus, suami Yunia, namun sudah keburu berangkat kerja. “Saya tikam ibunya, Jesicca menghalngi,” kata pria warga Ciracas Jaktim itu merunduk lirih.

Noval mengungkapkan, saat datang ke rumahnya Yunida sedang menyisir rambut Jesicca, karena mau sekolah. Lelaki tersebut ditangkap petugas ketika hendak masuk bekerja di kawasan Citeureup.

Polisi sebelumnya sudah mengendus pelaku setidaknya sudah mengenal korban, karena berkasi menggunakan masker atau penutup muka. “Dari keterangan saksi ada yang melihat pelaku ke rumah korban, sebelum kejadian,” tandas kapolres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)