PEMBUNUH JESICCA DITANGKAP BUSER DI CITEUREUP – Poskota.co
Wednesday, September 20

PEMBUNUH JESICCA DITANGKAP BUSER DI CITEUREUP

terorisPOSKOTA.CO – Pembunuh Jesicca, bocah berusia 7 tahun dan penikam ibunya, Yunida,31, berhasil diungkap. Pelakunya ternyata Noval Fajar Bakti,31, motifnya tak diberikan pinjaman uang. “Kami jerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana,” ungkap Kapolres Bogor Kabupaten AKBP Suyudi Ario Seto, yang dikonfirmasi, Jumat (12/2/).

Pelaku juga dikenakan pasal 338 yang sudah siap dengan membawa pisau saat datang ke rumah korban, menjadi salah satu unsur adanya perencanaan.”Pisau dibeli di tengah perjalanan ke rumah korban,” tambah Suyudi.

Hari itu, kata Noval di kantor polisi sedianya akan menemui Bina Sitorus, suami Yunia, namun sudah keburu berangkat kerja. “Saya tikam ibunya, Jesicca menghalngi,” kata pria warga Ciracas Jaktim itu merunduk lirih.

Noval mengungkapkan, saat datang ke rumahnya Yunida sedang menyisir rambut Jesicca, karena mau sekolah. Lelaki tersebut ditangkap petugas ketika hendak masuk bekerja di kawasan Citeureup.

Polisi sebelumnya sudah mengendus pelaku setidaknya sudah mengenal korban, karena berkasi menggunakan masker atau penutup muka. “Dari keterangan saksi ada yang melihat pelaku ke rumah korban, sebelum kejadian,” tandas kapolres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_1031" align="alignleft" width="300"] Hakim sang wakil Tuhan di dunia[/caption]POSKOTA.CO - Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon mengharapkan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) jangan ada yang berasal dari partai politik. "Hakim MK haruslah merupakan orang yang benar-benar kompeten dalam bidang hukum tata negara dan bukanlah seseorang yang pernah bergabung dengan partai politik," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dalam rilisnya, di Jakarta, Jumat. Menurut dia, bila hakim MK yang terpilih berasal dari partai politik dikhawatirkan hanya mementingkan kepentingan golongannya saja sehingga mengakibatkaan potensi penyelewengan menjadi sangat besar. "Independensi hakim MK sangat penting untuk menjaga kredibilitas MK sebagai lembaga hukum tertinggi. Perlu diperhatikan juga bahwa keputusan yang dibuat MK adalah bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Oleh karena itu Hakim MK sebagai pembuat keputusan haruslah orang yang benar-benar mempunyai integritas," paparnya. Kasus Akil Mochtar hendaknya menjadi pelajaran bagi MK untuk bisa menjaga kredibilitasnya. "Kredibilitas MK dalam penegakan hukum tengah disorot karena kasus Akil Mochtar. Oleh karena itu MK harus memastikan bahwa kasus seperti itu tidak terulang kembali. Jangan sampai rakyat hilang kepercayaan terhadap penegakan hukum," kata Fadli. Di tempat terpisah, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berpendapat persoalan pemilihan anggota Hakim MK bukan pada asas legalitas tetapi adalah asas kepantasan, etika, dan moral.