Djoko Waluyo 25/06/2015

taci4aPOSKOTA.CO – Peristiwa paling mengesankan sejak dia mengikuti Guru dalam berlatih rohani selama beberapa tahun terakhir adalah ketika dia dimarahi oleh Guru di depan banyak orang di Hong Kong. Dia bertutur, “Pada waktu itu, ketika saya tiba-tiba dimarahi dengan suara keras oleh Guru, saya sangat terhenyak sehingga saya melompat mundur.

Lompatan itu mungkin tak berarti banyak bagi kebanyakan orang, tapi itu memiliki arti penting bagi seorang praktisi seni bela diri Tai Chi.” Chiu selalu berpikir bahwa dia sangat hebat dalam hal seni bela diri.

Dia bisa bertahan tak bergerak meski didorong oleh beberapa laki-laki bertubuh besar yang mendorong bersama-sama. Namun, akar yang telah dia tumbuhkan selama lebih dari 20 tahun berlatih dengan keras telah tercabut ke luar dengan satu teriakan.

Rentetan omelan sesudahnya membuat dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap dirinya. Dia tak pernah dimarahi seperti itu selama hidupnya. Dia selalu merasa bahwa apa pun yang dia kerjakan, dia kerjakan dengan sangat serius dan sebaik-baiknya.

Dia bahkan lebih bangga atas fakta bahwa dia adalah seorang perfeksionis, tidak membolehkan dirinya memiliki cacat apa pun. Dia merasa dia sangat menghormati Guru, dan bahwa dia adalah murid teladan. Tidak peduli bagaimana dia merenungkan tentang itu, dia tak bisa mendapatkan jawaban mengapa Guru telah memarahi dia seperti itu.

Setiap hari selama enam bulan setelah dia kembali ke Formosa, dia bergulat dalam dirinya, berusaha untuk mendapatkan jawaban mengapa Guru telah memarahi dia. Dia tetap merasa bahwa dia tidak membuat kesalahan apa pun dan bahwa dia telah berlaku sempurna. Di sisi lain, dia tahu dalam hatinya bahwa Guru yang paling dia percayai dan hormati tak mungkin memarahi dia tanpa alasan.

Bertemu Dengan Ahli yang Benar-Benar Tinggi Tingkatnya

Dalam keadaan pikiran yang penuh konflik dan ruwet, karena dia tahu bahwa Guru tentunya benar, tapi dia tak bisa membuat dirinya mengakui bahwa dia salah, dia sering tidak bisa menanggung masalah rumit ini dalam hatinya, dan menjadi sangat frustrasi sehingga dia menangis keras selagi bermeditasi. Dia bahkan memukul dirinya sebagai penebusan dosa.

Kemudian, pada suatu malam setelah enam bulan, seorang saudara yang menjadi asisten Guru kebetulan mengunjungi dia untuk membahas beberapa persoalan. Selama berbincang-bincang, saudara itu menceritakan tentang perjalanannya bersama Guru di jalur rohani. “Suatu kali, Guru membawa beberapa murid dan aku ke tepi sungai San Di Men di Pintung untuk retret dan bersantai.

Melihat Guru sangat memperhatikan saudara-saudara yang lain, aku menjadi sangat iri, bahkan sampai-sampai aku salah paham terhadap Guru. Ketika pikiran-pikiran buruk muncul dalam pikiranku, aku segera dimarahi dengan keras oleh Guru. Dia bahkan tak mengizinkan aku berada di sisi-Nya. Aku tidak membuat kesalahan apa pun pada saat itu, jadi murid-murid lainnya tidak tahu mengapa Guru menegurku. Hanya aku yang memahami.

Sesungguhnya, aku tahu bahwa aku tak seharusnya merasa iri, tapi aku tak bisa menekannya. Berulang kali, agar tidak merusak suasana retret yang damai, Guru mengizinkan aku untuk melakukan suatu pekerjaan di sisi-Nya lagi. Namun, jika aku menciptakan getaran buruk, aku segera diperintahkan untuk pergi. Aku bolak-balik seperti itu setiap hari.

Pada waktu itu, aku berpikir bahwa Guru menggunakan kekuatan supernatural. Jika tidak, bagaimana Dia tahu benar apa yang ada dalam pikiranku? Aku terus berupaya mengatasi hal yang tak kuinginkan ini, tapi semakin Guru menghukumku, semakin aku merasa iri.

Itu berlangsung selama beberapa hari, dan aku tak bisa tersenyum meski aku ingin. Setiap hari aku merasa, secara fisik maupun mental, seakan-akan aku membawa batu besar di punggungku dan di hatiku. Itu sangat berat sehingga aku tak bisa tahan lagi. Beberapa kali aku berpikir untuk meninggalkan Guru.

Aku tak menginginkan gejolak dalam hatiku lagi. Pada suatu malam sekitar seminggu kemudian, aku duduk seperti biasa di atas batu di sisi sungai untuk bermeditasi dan bertobat.

Ketika mendekati tengah malam, aku tiba-tiba menjadi tercerahkan dan simpul yang ada dalam hatiku selama berhari-hari telah terurai. Aku merasa lega dan cerah dalam tubuh dan pikiran. Batu besar tak kasatmata yang menekan diriku lenyap pada saat itu.

Air mata hangat mengalir ke luar, dan aku sangat bersimpati kepada Guru. Mengapa, tanpa alasan, Dia harus menanggung semua jenis siksaan mental dan kesalahpahaman yang diberikan oleh murid-murid-Nya? Aku berkata kepada diriku pada saat itu bahwa hal pertama yang harus kulakukan di pagi hari adalah menemui Guru, untuk meminta maaf kepada-Nya dan memberitahu Dia bahwa aku sudah berhasil mengatasinya. Malam itu aku tak sabar menunggu, dan berharap fajar akan datang lebih cepat.

Pagi-pagi benar, ketika berkas cahaya pertama muncul, aku tiba-tiba merasakan ada seseorang bergerak di luar tendaku. Aku bangun dan melihat bahwa itu adalah Guru. Segera aku berlari ke luar tenda. Guru tersenyum sementara Dia duduk dengan tenang di tempat tidur gantung di dekat situ. Aku dengan gembira berlari mendatangi-Nya dan berkata, “Guru! Aku akhirnya memahami semalam.

Aku sangat menyesal karena telah menyulitkan-Mu selama beberapa hari terakhir. Aku bermaksud meminta maaf kepada-Mu pagi ini.” Guru berkata dengan senyuman ceria, “Saya menerima pesan ini di tengah malam. Saya merasa lebih gembira daripadamu, mengetahui bahwa kamu telah mengatasi rintangan ini.

Saya ingin datang menemuimu semalam, tapi sudah larut malam dan saya tak ingin membangunkanmu. Itu sebabnya saya datang pagi-pagi.” Guru menambahkan, “Bukannya saya tidak tahu bahwa sangat menyakitkan bagimu untuk mengalami siksaan semacam itu dalam pikiranmu selama beberapa hari ini.

Saya bahkan khawatir kamu tidak tahan dan akan meninggalkan jalur rohani ini. Saya bisa saja memaafkanmu ketika itu, tidak memarahimu dan berkata manis kepadamu. Tapi, saya tak bisa melakukan itu, karena jika tidak, kamu takkan pernah belajar pelajaran ini.

Saya ingin kamu melampaui kebiasaan buruk yang telah kamu dapatkan selama kehidupan-kehidupan yang lampau. Saya bahkan lebih gelisah daripadamu.” Setelah mendengarkan kata-kata Guru ini, aku dipenuhi dengan air mata keharuan, dan bahkan lupa untuk mengucapkan ‘Terima Kasih’. (bersambung)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*