Djoko Waluyo 02/04/2014
Pak RW
Pak RW

POSKOTA.CO – Beginilah Rumah Sakit Di Jakarta, selalu tidak tanggap, walau ada perintah dahulukan penanganan medis, namun tetap prosedural menjadi birokrasi yang tak pernah tuntas. Seperti yang dialami, tiga bocah kakak beradik yang tinggal di Kelurahan Tanah Sereal, yang terkatung-katung karena penolakan rumah sakit.

Tiga bocah kakak beradik ini mengidap penyakit AIDS. Ketua RW 9 Kelurahan Tanah sereal, Tantowi menuturkan, ketiganya sakit parah, rumah sakit hanya menerima satu bocah dan sempat menolak dua bocah lainnya.

Ketiga bocah tersebut adalah LTP,12, NS,6, dan NSR,4, warga RW 05/09 Kelurahan Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat.
Ketiganya tertular penyakit mematikan tersebut dari ayah dan ibu mereka yang sudah meninggal tiga bulan lalu.

Ketiga bersaudara tersebut kini hanya dirawat oleh neneknya, Ronih,50, yang sehari-harinya hanya bekerja sebagai buruh cuci. Saat ketiganya menderita sakit parah, Ronih tidak bisa berbuat banyak.

Beruntung, kabar sakitnya ketiga kakak-beradik itu beredar di lingkungan ibu-ibu PKK warga Tanah Sereal. Tantowi, Ketua RW setempat bersama warga memutuskan ketiga bocah tersebut ke RSUD Cengkareng.

“Awalnya kita minta rujukan dari Puskesmas Tambora. Kita sudah berniat merawat NS di Rumah Sakit Tarakan, tapi ditolak dengan alasan ruang perawatannya penuh. Kemudian kita menuju ke RSUD Cengkareng dan mendapatkan ruangan di sana,” terang Tontowi, Selasa (1/4/2014).

Di RSUD Cengkareng ini, hanya NS yang diterima sementara kedua saudaranya ditolak dengan alasan belum memiliki kartu Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS). Alhasil, Tantowi dan warga setempat pun langsung bergerak mengurus kartu BPJS untuk anak-anak tersebut. Namun hingga kini, kakak beradik itu belum mendapat persetujuan untuk mendapatkan BPJS.

Meski demikian, beruntung, Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan suku dinas Pemprov Jakarta Barat langsung turun tangan. Kini kedua bocah tersebut juga dirawat di RSUD Cengkareng dengan biaya yang ditanggung Pemprov DKI.

Warga sendiri tidak tahu menahu jika ketiga kakak beradik itu menderita AIDS. Ketiganya diketahui menderita AIDS saat diperiksa ke Puskesmas Tambora. Salah seorang dokter yang memeriksa mengenali mereka sebagai anak dari pasangan suami-istri yang meninggal dunia karena AIDS.

Dokter tersebut menyebutkan bahwa ketiganya sudah memiliki riwayat penyakit AIDS. Hanya saja ketiganya jarang kontrol sehingga makin parah. Setelah diperiksa hasilnya, kini NS mengalami HIV/AIDS stadium 4, LTP stadium 2, dan NSR stadium 1.

Sungguh miris hal seperti ini harus kembali terjadi lagi. Lagi-lagi hanya karena faktor kemiskinan, menjadi hambatan warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Sebelumnya ada kasus Kakek Suparman dibuang dari rumah sakit di Lampung karena tak punya biaya berobat hingga si kakek meninggal.

Kini, bocah-bocah miskin yang terkena AIDS itu sempat mengalaminya. Jika merujuk pada UUD 1945 Pasal 34 (1) disebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Sehingga secara tidak langsung, ketiga bocah miskin ini menjadi tanggung jawab negara.

Dan kabar terakhir mereka kini di rawat di Puskesmas kelurahan Tanah Sereal Tambora, Jakarta Barat. Ketua RW 9 Tantowi sigap terhadap warganya. Berkali-kali ia menghubungi berbagai pihak, ketika rumah sakit menolaknya. Sikap kepedulian Ketua RW 9 ini patut dianjungi jempol. Di Jakarta membutuhkan pemimpin lingkungan yang ekstra peduli seperti Tantowi. (hais).

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*