Djoko Waluyo 27/03/2014
Pedagang asongan menolak ditertibkan blokir perjalanan KA -dok-
Pedagang asongan menolak ditertibkan blokir perjalanan KA -dok-

POSKOTA.CO – Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto Surono mengatakan bahwa pengasong semakin sering bertindak anarkis melawan petugas saat dilakukan penertiban terhadap pedagang asongan yang nekat berjualan di dalam KA.

“Tindakan anarkis yang terakhir terjadi dilakukan sejumlah pengasong dan sekelompok orang tidak dikenal di Stasiun Purwokerto pada Rabu (26/3), sekitar pukul 18.30 WIB, dengan menyiramkan air panas dari termos dagangan ke arah petugas,” katanya, di Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis.

Bahkan beberapa orang di antaranya, kata dia, mengintimidasi dan memegangi Kepala Stasiun Purwokerto Kutarto sambil menandukkan kepalanya berulang-ulang.

Menurut dia, kejadian tersebut berawal dari upaya Kutarto bersama anak buahnya melakukan penertiban terhadap enam pengasong yang nekat naik ke KA Progo jurusan Lempuyangan-Pasar Senen dari Stasiun Notog.

Setelah diturunkan di Stasiun Purwokerto, kata dia, para pengasong itu dikumpulkan untuk didata dan diberi pengarahan.

Akan tetapi, lanjut dia, para pengasong menolak dan melakukan perlawanan hingga terjadi keributan.

“Tiba-tiba pengasong yang membawa termos berisi air panas membuka termosnya dan menyiramkan ke arah petugas. Akibatnya Kutarto dan Junior Supervisor Perjalanan KA Tri Waluyo menjadi korban penyiraman itu,” katanya.

Dalam hal ini, kata dia, kaki Kutarto tersiram air panas dan Tri Waluyo terkena di leher.

Sementara itu, lanjut dia, sejumlah perempuan pengasong berteriak-teriak histeris sambil memrovokasi sehingga puluhan pengasong yang berada di luar Stasiun Purwokerto menerobos masuk ke dalam peron.

“Di antara pengasong yang menerobos masuk ke dalam peron, ada beberapa orang yang tidak dikenal,” kata Surono.

Menurut dia, orang-orang itu selanjutnya ikut mengejar, memegang, serta menyeret Kutarto dan Tri Waluyo.

Bahkan, kata dia, beberapa orang menanduk-nandukkan kepalanya ke kepala Kutarto yang mereka pegang sambil mengintimidasi.

Akibat kejadian tersebut, lanjut dia, Kutarto dan Tri Waluyo merasakan sakit dan pusing-pusing akibat siraman air panas dan penganiayaan melalui tandukan kepala.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*