harmono 09/08/2016

POSKOTA.CO – Ketakutan terbesar seorang wanita yang sedang hamil adalah terserang penyakit dan menularkannya pada buah hati. Salah satu penyakit yang sering menghantui adalah hepatitis B. Benarkah hepatitis B dapat ditularkan ibu kepada janinnya?

Menurut dr Khanisyah Erza Gumilar SpOG, penularan ke janin bisa saja terjadi pada ibu hamil (bumil) yang terkena hepatitis B. Penularan ini dikatakan juga terjadi pada 90 persen wanita hamil dengan HBeAg positif. HBeAg adalah singkatan dari Hepatitis-B envelope Antigen, yang menunjukkan ada atau tidaknya keadaan yang infeksius.

“Jika HBeAg sudah positif, idealnya diperiksa kembali HBV DNA-nya. Dilihat seberapa banyak virusnya. Sayangnya di lapangan pemeriksaan ini masih terpentok dana, cek HBV DNA masih belum ditanggung BPJS Kesehatan,” ungkap dokter spesialis kebidanan dan kandungan divisi fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya dan RS Pendidikan Universitas Airlangga ini.

Selain itu, penularan ke janin juga terjadi pada 90 persen wanita hamil trimester 3 dengan infeksi hepatitis B akut. Kondisi hepatitis B akut biasanya muncul dengan beberapa gejala khas seperti demam, hilang nafsu makan, mual dan kulit menguning. “Yang jelas risiko penularan ke janin amat besar pada kehamilan dengan hepatitis B,” imbuh dokter yang akrab disapa dr Erza ini.

Jika bayi sudah telanjur tertular dengan hepatitis B sejak dalam kandungan, maka akan tetap diberikan vaksin hepatitis B. Namun memang, menurut dr Erza, proses perubahan infeksi menjadi kronis pada bayi, balita dan anak-anak di bawah lima tahun lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa.

Vaksin Hepatitis B Penting
Sebelumnya dr Irsan Hasan SpPD, KGEH dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) juga pernah menuturkan, bayi baru lahir sangat penting untuk mendapatkan vaksin hepatitis B. “Bila ibu mengalami hepatitis B, maka anak harus diberikan vaksin sebelum 12 jam setelah dilahirkan. Maka dari itu, ibu harus tahu kondisinya saat hamil,” ungkap dr Irsan.

Virus hepatitis B 10 kali lipat lebih menular dari virus hepatitis C. Karena itu, prevalensi hepatitis B di masyarakat lebih banyak dari hepatitis C. Untuk itu penting bagi bayi baru lahir mendapatkan vaksin hepatitis B.

“Bila ibu mengalami hepatitis B, maka anak harus diberikan vaksin sebelum 12 jam setelah dilahirkan. Maka dari itu, ibu harus tahu kondisinya saat hamil,” kata dr Irsan.

Jika berdasar hasil laboratorium ibu hamil diketahui positif HbsAg, dan jika 90 persen positif HbsAg dan HbeAg maka berisiko tinggi menularkan penyakitnya kepada janinnya. HBsAg merupakan Hepatitis B Surface Antigen, ini adalah pertanda infeksi virus hepatitis B yang bisa dideteksi dua minggu sampai dua bulan sebelum adanya gejala klinis.

Sementara HbeAg merupakan penanda yang menunjukkan besarnya peluang seseorang dengan virus hepatitis B di tubuhnya untuk menularkannya kepada orang lain.

Pada kesempatan yang sama, Dr dr Hanifah Oswari Sp(K) menambahkan, pada orang dewasa imunitasnya sudah bagus, tapi pada bayi imunitasnya tidak cukup bagus. Sehingga, kalau seseorang terkena hepatitis B sejak bayi, imun tubuh tidak menganggap virus itu sebagai musuh. “Sudah dianggap sebagai kawan. Karena sejak dini sudah ada di dalam tubuh,” ujar dr Hanifa yang juga staf Gastroenterohepatologi FKUI/RSCM. (*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :