BUS ITU TIBA-TIBA NYELONONG KAYAK GAK ADA REMNYA – Poskota.co
Saturday, September 23

BUS ITU TIBA-TIBA NYELONONG KAYAK GAK ADA REMNYA

POSKOTA.CO – “Bus itu, tiba-tiba nyelonong dan menabrak kendaraan yang ada di depannya. Nggak tahu apakah sopir ngantuk, atau mabuk atau bus iutu tak ada remnya,” kata Asep Sahputra, saksi mata di lokasi kejadian musibah kecelakaan yang merenggut 12 nyawa.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Yusri Yunus memastikan korban tewas dalam kecelakaan di jalur Puncak, Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (30/4/2017) bertambah menjadi 12 orang. “Luka berat tercatat 20 orang,” tambahnya.

Sebelumnya pada libur panjang minggu lalu, sebuah bus wisata juga menabrak belasan kendaraan dan menewaskan 3 orang di Tanjakan Selarong, Puncak, Jawa Barat. Dalam pemeriksaan polisi, Bambang sopir bus mengakui kalau kendaraan yang dibawa tak laik jalan. “Gak laik jalan dipaksakan untuk mengangkut rombongan,” ungkap Kasat Lantas Polres Bogor AKP Hasby Ristama di TKP Kecelakaan, Selasa (25/4/2017).
30 laka

Selain bus dan kendaraan roda empat, ada sekitar 7 motor yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Kendaraan yang mengalami musibah diantaranya:

1. Bus Pariwisata Kitrans B 7058 BGA
2. Avanza Silver B 1608 BKV
3. Avanza Silver B 1087 BIQ
4. Pick Up Hitam F 8312 YA
5. R2 Mio Merah B 4503 BBI
6. R2 Vario Merah B 3370 BXG
7. R2 Vario Hitam B 4503 BBI
8. R2 Satria FU B 6917 BHK

Nama-nama korban meninggal dunia antara lain:

1. Willy Chandra
2. Yoyo Yohanes
3. Wagiroen
4. Mamad
5. Suyono
6. Yatna
7. Mr X (belum diketahui identitasnya)
8. Mr X (belum diketahui identitasnya)
9. Mr x (belum diketahui identitasnya)
10. Mrs X (belum diketahui identitasnya)
11. Mrs X (belum diketahui identitasnya)
12. Mrs X

Akibat kecelakaan yang merenggut belasan jiwa, arus kendaraan arah Cianjur dan sebaliknya mengalami kemcetan mencapat belasan kilometer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara