ATLET SOINA PERINGATI HARI DOWN SYNDROME SEDUNIA – Poskota.co
Wednesday, September 20

ATLET SOINA PERINGATI HARI DOWN SYNDROME SEDUNIA

Sekitar 200 atlet SOIna berkumpul bersama di SLB Pembina Tingkat Nasional di Jalan Perikanan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (30/3), dengan orang tua, guru dan siswa sekolah umum, berolahraga bersama dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia.
Sekitar 200 atlet SOIna berkumpul bersama di SLB Pembina Tingkat Nasional di Jalan Perikanan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (30/3), dengan orang tua, guru dan siswa sekolah umum, berolahraga bersama dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia.

POSKOTA.CO – Sekitar 200 atlet Spesial Olympics Indonesia (SOIna) berkumpul bersama di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina Tingkat Nasional di Jalan Perikanan, Lebak Bulus Jakarta Selatan, Kamis (30/3). Bersama-sama dengan orang tua, guru dan siswa sekolah umum, mereka berolahraga bersama dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia.

Kegiatan yang digagas oleh SOIna bersama Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (Dit PPKLK), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini diselenggarakan sebagai suatu bentuk kampanye untuk mengajak masyarakat agar menerima, menghormati dan menghargai para penyandang down syndrome.

Kegiatan olahraga yang digelar hari ini terdiri dari beberapa jenis kegiatan seperti senam aerobik bersama, fun games, bola bocce dan young athletes.

Dalam sambutannya, Direktur PPKLK Dikdasmen Kemendikbud Ir Sri Renani Pantjastuti MPA mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang masih memberikan stigma negatif tentang down syndrome. “Masih banyak masyarakat yang menganggap down syndrome adalah sebuah penyakit, bahkan kutukan,” katanya.

Akibatnya, sambung Sri, beberapa orang tua yang memiliki bayi down syndrome lantas menelantarkan bayinya, namun begitu pula saat orang tua yang membesarkan anak down syndrome menerima banyak ungkapan sinis yang merendahkan dan menyakiti perasaan keluarga.

Lebih lanjut Sri menjelaskan, SOIna telah membuktikan bahwa melalui pelatihan dan kompetisi olahraga secara rutin, selain dapat membentuk fisik yang sehat, para penyandang down syndrome dan tuna grahita lainnya mampu menunjukkan keberanian, merasakan kebahagiaan dan memperlihatkan kemampuan, keahlian dan persahabatan dengan keluarga, sesama atlet special olympics dan juga masyarakat luas.

Untuk diketahui, setiap ajang kompetisi special olympics tingkat dunia, baik musim panas maupun musim dingin, atlet-atlet SOIna selalu berhasil membawa pulang medali emas. Bahkan SOIna saat ini telah memiliki seorang down syndrome yang menjadi juru kampanye global (International Global Messenger) Special Syndrome International yaitu, Stephanie Handojo.

“Kegiatan ini, SOIna ingin mengajak masyarakat untuk lebih sadar bahwa anak-anak down syndrome sama dengan anak-anak pada umumnya. Dengan mengajak siswa dari sekolah umum, diharapkan antara anak-anak down syndrome dan siswa-siswa dari sekolah umum tersebut dapat saling menumbuhkan interaksi dalam lingkungan sosial masyarakat melalui kegiatan olahraga,” ungkap Sri.

Sementara itu, Ketua Umum SOIna Faisal Abdullah mengatakan, upaya pembinaan olahraga terhadap atlet disabilitas intelektual, termasuk down syndrome di dalamnya, harus terus didukung oleh semua kalangan, baik pemerintah maupun swasta, dan berterima kasih atas dukungan dari Direktorat PPKLK Dikdasmen Kemendikbud terhadap kegiatan ini.

“Kami berharap kerja sama dengan Direktorat PPKLK dapat terus ditingkatkan. Sebab SOIna memiliki banyak program kegiatan bagi atlet-atlet tuna grahita di seluruh Indonesia,” pungkas Faisal. (*/dade/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.