Djoko Waluyo 24/08/2015
Ilustasi
Ilustasi

POSKOTA.CO – Di tangan seorang alumnus D3 Jurusan Manajemen Informatika Universitas Padjadajran Bandung,Ahmad Wiguna, identitas Kota Bandung dituangkan dalam sebuah tulisan dan gambar pada sebuah kaos yakni Bandung Oblong atau “Baong”.

“Kalau di Bali itu kan ‘Jogger” di Yogjakarta ada ‘Dadung’. Dua produk itu seolah mewakili daerahnya masing-masing melalui produk fashionnya. Nah, di kita (Bandung) juga ada namanya ‘Baong’ atau Bandung Oblong,” kata Ahmad Wiguna, di Kota Bandung, Minggu.

Nama Baong di sini, menurut dia, bukanlah Baong dalam bahasa Sunda yang berarti “nakal”, tapi nama yang produk fashion buatannya tersebut singkatan dari Bandung Oblong.

Ia mengatakan, ide awal pembuatan Kaos Baong tersebut karena melihat kondisi sosial dan melestarikan budaya serta bahasa ibu dalam hal ini Bahasa Sunda dalam kehidupan masyarakat,khususnya dikalangan anak muda tanpa harus membuat tersinggung.

Saat ini, ia keseharian para remaja yang berada di dekat tempat tinggalnya, yakni di Gang Nawawi, Haji Kelurahan Pelindung Hewan Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat, yang seolah enggan menggunakan Bahasa Sunda saat berkomunikasi.

“Saat itu saya perhatikan, ada remaja yang ngajak ngobrol temannya pakai Bahasa Sunda, tapi saat membalasnya malah pakai bahasa Indonesia. Dari sana saya terpikir bagaimana ya caranya untuk melestarikan Bahasa Sunda di kalangan remaja atau anak muda, akhirnya tercetuslah untuk membuat ide kaos ini,” kata Ahmad.

Dari sana, sebuah kaos oblong pertama bertuliskan “Nyari Apa Sih di Bandung 5 M Makan, Mojang, Maung, Musik dan Mode” diciptakan olehAhmad pada tahun 2008.

“Kaos `5 M’ itu adalah kaos pertama yang kita buat. Jadi `5 M’ itu menjelaskan tentang Bandung yakni Makan diwakili sama gampar Peuyeun (Tape), Mojang diwakili sama gambar perempuan, Maung diwakili sama Persib, Musiknya diwakili sama angkung dan Mode diwakili sama gambar kaos,” kata dia.

Kritik sosial juga menjadi tema dalam kaos Baong seperti pesatnya pembangunan pusat perbelanjaan di Kota Bandung yang digambarkan melalui pohon yang berdiri ke bawah di atas gedung-gedung, kemudian “Saritem”.is dead Hayu Urang Tobat Euy (ayo kita taubat) dan gambar Bus Damri yang penuh sesak serta mengeluarkan asap hitam.

Tak hanya itu, salah satu tokoh pewayangan Sunda, Cepot, juga menjadi inspirasi bagi kaos ini yakni sebuah desain kaos dengan tulisan “Calon Presiden Republik Sakahayang” (calon presiden republik semaunya).

Modal Kepercayaan-Nekad Dengan modal keberanian dan nekat, ia membuat sebuah proposal usaha dan menawarkannya kepada orang tua, kakak dan saudaranya agar tercipta produk kaos Baong tersebut.

“Dan alhamduillah, waktu itu kakak dan ibu saya memberikan modal untuk membuat kaos beberapa kodi. Total ada 22 desain yang dibuat,” ujar bungsu dari empat bersaudara ini.

Untuk tempat berjualan kaosnya, lanjut Ahmad, ia mendapatkan bantuan dari Bibinya yang meminjam rumah yang berada di dalam gang di depan toko sepatu terkenal di Jalan Cibaduyut Kota Bandung untuk dijadikan toko yang memajang kaos-kaos Baong.

“Tanpa saya sangka, respon terhadap kaos Baong ini luar biasa, banyak wisatawan lokal yang datang ke Cibaduyut membeli kaos saya. Waktu itu saya masih ingat ada rombongan wisatawan dari Bogor yang membeli delapan kaos saya. Itu rasanya bangga sekali,” kata dia.

Ia mengatakan, jika memasuki musim libur panjang seperti libur sekolah dan Idul Fitri dalam seharinya bisa menjual 80 hingga 120 kaos.

Untuk harga satu kaos Baong dipatok antara Rp65.000 hingga Rp99.000. “Harga ini saya rasa masih terjangkau ya, dengan kualitas seperti kaos distro, tapi harga kaos di sini masih di bawah distro,” kata dia.

Saat ini, Kaos Baong sudah menambah produksi, tak hanya kaus melainkan juga tas, sandal, topi, dan berbagai merchandise. “Tetapi semua ini hanya sebagai pelengkap, produk utama kami tetap kaus,” Dodo menambahkan.

Jika penasaran dengan berbagai desain unik Kaos Baong, Anda bisa datang langsung ke outlet-outletnya yang terdapat di Cibaduyut, Jalan Cihampelas dan pusat perbelanjaan Cihampelas Walk.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*