oleh

Satgas Covid-19: Berani di Tempat Kerumunan, Berarti Berani Mati

POSKOTA.CO-Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengingatkan kepada semua pihak tentang bahayanya berkerumun di tengah pandemi Covid-19. Meski seseorang telah menjalani vaksinasi, tetap harus menghindari kerumunan.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menjelaskan, perlindungan dari virus Corona harus dengan metode Swiss Cheese. Dia mengibaratkan perlindungan harus dilakukan secara berlapis tentang bahayanya virus Corona.

“Ya Swiss Cheese model ini gampang semua orang paham kalau ini cheese banyak bolongnya, tapi bolongnya nggak sama. , jadi kalau ditumpuk-tumpuk sebetulnya yang bolong yang sama bisa ketahan sama slice-slice berikutnya. Jadi semakin banyak slice-nya, jadi kita harus berlindung seperti tameng aja, semakin kita banyak berlindungnya dari slice yang kita bikin,” kata Wiku dalam acara webinar PPI London-PPI Greater Leeds.

Menurut Wiku, berhadapan dengan Corona seperti berada di medan perang. Kerumunan diibaratkan sebagai medan perang yang paling sulit dikenali dan mematikan. “Medan perang yang kita nggak ngerti itu, ya medan perang kerumunan. Jangan di tempat kerumunan, kalau kita berani di kerumunan berarti kita berani mati, jadi kuat-kuatan,” tegasnya.

Sedang vaksin diibaratkan sebagai salah satu strategi dalam berhadapan dengan virus Corona. Sementara itu, mematuhi protokol kesehatan seperti 3M itu strategi lainnya yang juga harus dilakukan.

“Mindset di kawan-kawan, vaksin ini obat segalanya, itu salah. Saya sebut sekali lagi, itu salah. Kalau kita hanya satu dengan vaksin kita akan bobol, slice ini apa yang sudah kita miliki 3M pegang dengan teguh exercise dengan baik,” ujarnya.

Dijelaskan Wiku, bahaya virus Corona tidak hanya menyerang saluran pernapasan. Sebab, penyakit yanv satu ini dinilai hebat sekali dan pintar luar biasa. “Kita pikir semua diserang pernapasan, ternyata nggak. Virus ini bisa manifestasi ke pencernaan, bisa sebabkan stroke, penggumpalan darah dan sebagainya. Ini kita lagi diajarin oleh alam, karena keseimbangan alam sekarang kita disuruh kembalikan keseimbangan alam. Sampai kapan? Sampai seimbang,” imbuhnya.

Sementara itu, beberapa hari belakangan penanganan pandemi virus Covid-19 mulai menuai kabar gembira. Selain jumlah kasus harian terkonfirmasi positif terus menurun, jumlah pasien sembuh juga kian menanjak.

Bahkan orang yang memiliki penyakit selain penyakit utama (komorbid) dan kelompok lanjut usia serta penyintas Covid-19 dan sasaran tunda hingga ibu sedang menyusui , sekarang sudah bisa mendapat suntikan vaksin Covid-19 asal sesuai dengan aturan yang ditentukan. Ihwal kabar baik itu tertuang dalam surat edaran Kementerian Kesehatan RI nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 pada Kelompok Sasaran Lansia, Komorbid dan Penyintas Covid-19, serta Sasaran Tunda.

Surat edaran tersebut didasari pada kajian Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional serta Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam (PAPDI) dan Perhimpunan Kardiologi Indonesia (Perki). Hasil kajian menyebutkan, vaksinasi Covid-19 dapat diberikan pada kelompok usia 60 tahun ke atas, Ibu menyusui, penyintas Covid-19 setelah 3 bulan dan komorbid. Adapun pelaksanaan pemberian vaksin harus tetap mengikuti petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi.

Kondisi tubuh atau kesehatan yang lebih berisiko, maka ada syarat khusus yang harus diperhatikan sebelum divaksinasi, seperti wajib melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan tambahan terlebih dulu. Untuk kelompok usia 60 tahun ke atas, pemberian vaksinasi diberikan dua dosis dengan interval 28 hari.

Sedang kelompok komorbid, dalam hal ini hipertensi, dapat disuntik vaksin kecuali jika tekanan darahnya di atas 180/110 MmHg. Bagi kelompok komorbid dengan diabetes dapat divaksinasi sepanjang tidak ada kondisi akut, bahkan seorang penyandang kanker dan penyandang penyakit autoimun masih memungkinkan mendapatkan vaksinasi setelah dikonsultasikan kepada dokter yang merawat.

Penyintas Covid-19 juga dapat disuntik vaksin jika sudah lebih dari 3 bulan.Sementara untuk kelompok sasaran tunda akan diberikan informasi agar datang kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperoleh vaksinasi Covid-19 setelah penyakitnya dapat kondisi terkendali atau telah mendapatkan surat keterangan layak imunisasi dari dokter yang merawatnya.

Sementara update informasi kasus covid-19 dari 510 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi wilayah Indonesia yang diperoleh Satgas Covid-19, hingga Senin 15 Februari 2021 pukul 12.00 Wib. Tercatat jumlah total penambahan kasus terkonfirmasi positif virus covid-19 dan pasien sembuh serta meninggal adalah:

Pasien positif + 6.462 jumlah total 1.223.930 orang
Pasien sembuh + 6.792 jumlah total 1.032.065 orang
Pasien meninggal + 184 jumlah total 33.367 orang

Update informasi data dari fasilitas kesehatan di 267 kelurahan yang telah dilaporkan Pemprov DKI ke Kementerian Kesehatan RI pada Senin 15 Februari 2021. Tercatat jumlah total kasus terkonfirmasi positif, pasien sembuh, pasien dirawat dan isolasi mandiri serta meninggal di wilayah DKI Jakarta adalah:

Pasien Positif + 1.879 jumlah total 317.432 orang
Pasien Meninggal + 45 jumlah total 4.940 orang
Pasien sembuh + 2.085 jumlah total 295.623 orang
Pasien dirawat – 115 jumlah total 7.988 orang
Isolasi mandiri – 136 jumlah total 8.881 orang

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito, mengatakan, penambahan kasus positif dan pasien sembuh harus menjadi perhatian semua pihak, khususnya pemerintah daerah agar konsisten dan lebih maksimal menerapkan kebijakan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Harus memastikan prokes 3M atau memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak atau menghindari kerumunan dilaksanakan dengan displin yang tinggi serta memaksimalkan tindakan 3T atau testing, treacing dan treatmen.(omi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *