oleh

Menkes Ingatkan Pentingnya Humas RS Di Tengah Pandemi Covid-19

POSKOTA.CO – Humas rumah sakit memiliki peran sangat penting di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Menurut Menkes Budi Gunadi Sadikit, humas rumah sakit dapat menjadi ujung tombak untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pandemi, pelayanan kesehatan, serta informasi mengenai apa yang sudah dilakukan dan rencana jangka pendek rumah sakit.

Karena itu saat membuka Musyawarah Nasional II Perhimpunan Humas Rumah Sakit Indonesia (PERHUMASRI) secara daring di Jakarta, Menkes menitipkan tiga pesan penting bagi semua humas rumah sakit di tanah air. Tiga pesan penting tersebut, pertama, humas rumah sakit harus dapat mengedukasi dan menjelaskan kepada masyarakat yang terkena COVID-19 agar tidak panik.

“Sebab, berdasarkan data empiris, dari setiap 100 persen yang terinfeksi COVID-19, 80 persen bisa isolasi mandiri. Sisanya, dirawat, sementara lima persen masuk ke ICU dan 1,6 – 1,7 persen memiliki risiko fatal,” kata Menkes, Kamis (8/7/2021).

Jaid, lanjut Menkes 80 persen pasien terinfeksi umumnya bisa sembuh setelah 14 hari. Adapun cara untuk memastikan yang bersangkutan cukup melakukan isolasi mandiri adalah saturasinya masih di atas 94 persen, tidak ada sesak napas dan tidak memiliki komorbid. “Apabila 80 persen ini bisa kita edukasi dan mendapat informasi yang baik untuk melakukan isolasi mandiri, maka dapat mengurangi beban pasien masuk rumah sakit,” kata Menkes.

Kedua, Menkes berpesan agar humas memastikan bahwa masyarakat tidak menimbun obat di rumah. “Humas rumah sakit juga penting untuk meyakinkan kepada publik bahwa stok obat nasional itu banyak. Bahwa, tidak perlu ada penimbunan obat di rumah masing-masing agar obat tersebut tersedia bagi mereka yang benar-benar membutuhkan,” katanya. “Sebab, obat ini perlu resep dokter dan baru akan diberikan apabila yang bersangkutan benar-benar positif dan bergejala,” imbuhnya.

Ketiga, meyakinkan seluruh jajaran rumah sakit, seluruh tenaga kesehatan (nakes) akan mendapatkan prioritas terkait pelayanan kesehatan. “Saya sudah membuat instruksi agar seluruh nakes yang membutuhkan perawatan harus mendapat prioritas. Sehingga, mereka tenang dalam bertugas,” pungkasnya.

Sementara itu,  Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir menyebut pandemi mendorong humas rumah sakit di seluruh tanah air untuk mempercepat transformasi, inovasi dan kreativitas dalam berkomunikasi, terutama dengan memaksimalkan keberadaan digital.

Tantangan ini tidak mudah apalagi dilakukan di tengah masa sulit, menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025, global burden of disease, dan era Revolusi Industri 4.0. Makin tak mudah, karena humas harus melakukan transformasi di tengah semakin menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit, adanya anggapan ketidakmampuan rumah sakit dalam menjamin mutu pelayanan, dan asumsi rumah sakit lebih mengedepankan aspek komersial dibandingkan fungsi sosial.

Di satu sisi, pandemi telah menyadarkan seluruh warga Indonesia terkait pentingnya kesehatan. Bahwa ekonomi tingkat akan bertumbuh jika tidak didukung dengan kesehatan. Lebih dari itu, pandemi juga telah menunjukkan kenyataan bahwa sistem kesehatan di tanah air masih banyak kelemahan. “Ini tidak mudah bagi Humas, tapi inilah momentum kita untuk berubah,” ujarnya.

Ketua Umum Perhumasri Anjari Umarjianto menyambut baik pesan dari Menkes Budi. Ia tak memungkiri, meski humas adalah bagian atau sekrup kecil dari puluhan profesi di rumah sakit, namun mereka ingin memiliki makna. Khususnya, dalam membangun reputasi rumah sakit di tengah pandemi.

“Melalui Perhumasri, kami ingin membangun semangat kepada seluruh humas rumah sakit untuk menjadi profesi yang profesional, menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai kode etik, didukung dengan sertifikasi, serta komitmen bersama membangun reputasi rumah sakit di Indonesia,” katanya seraya menambahkan saat ini sudah ada 146 humas rumah sakit yang mengantongi sertifikasi profesi dari BNSP.  Selama empat tahun keberadaannya, Perhumasri juga telah membentuk tiga pengurus wilayah yakni Yogyakarta, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan. Menyusul kemudian, Jawa Tengah.

Anjari mengatakan, ada tiga sukses reputasi yang ingin dicapai Perhumasri sebagai organisasi. Antara lain, sukses reputasi personal humas, sukses reputasi rumah sakit di manapun mereka mengabdi, dan sukses reputasi Indonesia di mata nasional dan internasional.

Munas II Perhumasri diikuti lebih dari 200 peserta humas rumah sakit. Acara berlangsung selama dua hari dari tanggal 8 – 9 Juli 2021. Selama dua hari itu, acara yang diselenggarakan secara daring tersebut diisi dengan workshop dan seminar. (in/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *