oleh

Megathrust Selat Sunda Mampu Picu Gempa dengan Magnitudo 8,7 dan Tsunami 20 Meter

POSKOTA.CO-Hingga Sabtu, 15 Januari 2022 pukul 12.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 32 kali aktivitas gempa susulan (aftershock) Pandeglang, Banten. Gempa susulan terjadi dengan magnitudo terbesar 5,7 dan magnitudo terkecil adalah 2,5.

Gempa tersebut bukanlah ancaman yang sesungguhnya. Sebab segmen Megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa dengan magnitudo tertarget hingga mencapai 8,7.

“Ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Inilah ancaman yang sesungguhnya, kapan saja dapat terjadi,” kata Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, kemarin.

Hal tersebut dikarenakan Selat Sunda ini merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar sehingga patut diwaspadai. Karena berada di antara 2 lokasi gempa besar yang merusak dan memicu tsunami yaitu Gempa Pangandaran magnitudo 7,7 (2006) dan Gempa Bengkulu magnitudo 8,5 (2007).

Berdasarkan catatan sejarah gempa dan tsunami, di wilayah Selat Sunda memang sering terjadi tsunami. Tsunami Selat Sunda pada tahun 1722, 1852, dan 1958 disebabkan oleh gempa. Tsunami tahun 416, 1883, 1928, 2018 berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau. Sedangkan, tsunami tahun 1851, 1883, dan 1889 dipicu aktivitas longsoran.

Gempa kuat dan tsunami merupakan proses alam yang tidak dapat dihentikan, bahkan memprediksi kapan terjadinya pun juga belum bisa. Namun dalam ketidakpastian kapan terjadinya sejumlah upaya mitigasi konkret dapat dilakukan.

“Seperti membangun bangunan tahan gempa, memodelkan bahaya gempa dan tsunami, kemudian menjadikan model ini sebagai acuan mitigasi, seperti perencanaan wilayah berbasis risiko gempa dan tsunami, menyiapkan jalur evakuasi, memasang rambu evakusi, membangun tempat evakuasi, berlatih evakuasi/drill secara berkala, termasuk edukasi evakuasi mandiri di samping itu BMKG juga akan terus meningkatkan performa peringatan dini tsunami lebih cepat dan akurat,” ujarnya.

Dia menjelaskan prediksi soal tsunami besar di wilayah Jawa bisa terjadi saat ada gempa megathrust berkekuatan 8,7. Ini bisa berdampak pada wilayah selatan Banten dan Selat Sunda.

Dampak berikutnya bisa mencapai Banten, Jawa Barat dan Lampung. Diprediksi juga bisa mencapai Laut Jawa dan wilayah Pantai Jakarta.

Yang patut diwaspadai jika tsunami terjadi saat pasang purnama. Ini bisa menyebabkan gelombang terjadi lebih tinggi lagi.

Dia menjelaskan BMKG juga melakukan pemodelan atas ancaman tsunami besar itu. Namun memang karena data yang berbeda, tinggi tsunaminya tidak seperti yang dihasilkan oleh tim ITB mencapai 20 meter.

Prediksi tsunami besar sebelumnya oleh Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Heri Andreas. Dari data Global Navigation Satellite System (GNSS), adanya akumulasi energi di bagian megathrust Selat Sunda hingga pesisir selatan Pulau Jawa.

Menurutnya tsunami besar itu bisa masuk ke Jakarta. Pesisir Jakarta yang berada di bawah laut minus 1-2 meter mengakibatkan potensi lebih besar lagi.

“Berdasarkan hasil simulasi model, run-up tsunami dapat mencapai sebagian besar Pluit, Ancol, Gunung Sahari, Kota Tua hingga Gajah Mada. Kalau kita perhatikan modelnya ternyata nyaris menyentuh Istana,” ujar Heri dalam keterangan tertulis. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.