KAPOLRI IMBAU CAGUB DAN CAWAGUB DKI TAK MENGHALALKAN SEGALA CARA – Poskota.co

KAPOLRI IMBAU CAGUB DAN CAWAGUB DKI TAK MENGHALALKAN SEGALA CARA

POSKOTA.CO – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengimbau kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI untuk bersaing secara sehat dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017. Tito meminta tidak ada pasangan calon yang menghalalkan segala cara untuk menang dalam berebut kursi DKI 1 itu.

“Kepada pasangan calon, timses pendukung, saya minta laksanakan demokrasi sesuai dengan aturannya. Tentunya semua berharap ingin menang, tapi tidak dengan menghalalkan segala cara, Jangan menghalalkan segala cara,” jelas Tito usai memberikan arahan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (26/9).

Kapolri juga meminta agar masing-masing calon dan para pendukungnya untuk menjaga stabilitas keamanan dan tidak menggunakan kekerasan dalam pesta demokrasi ini.

“Karena ini pesta demokrasi bukanlah pesta kekerasan. Jangan sampai ada kekerasan,” imbuh Tito.

Kapolri juga mengimbau kepada lembaga pengawas pemilu (Panwaslu), KPUD dan jajarannya untuk bersikap netral terhadap pasangan calon. Mantan Kapolda Metro Jaya ini juga menekankan agar jajaran polisi juga tidak memihak kepada pasangan calon mana pun.

“Kepolisan juga, teman-teman sampai ke bawah juga netral untun mengawal pesta dekokrasi ini,” lanjut Kapolri.

Media massa juga diimbau untuk menyampaikan berita yang dapat menyejukkan suasana, bukan malah memprovokasi.

“Jangan memanaskan situasi, Jangan juga bersifat povokatif yang membuat masyarakat akhirnya jadi terbawa emosi.

Kapolri menambahkan, kepada pengawas independen dan kepada para tokoh asyarakat diharapkan juga ikut memonitor dan memantau serta mendukung pigub ini.

“Kepada pengawas independen, saya pikir kita minta betul-betul mengundang mereka sebanyak-banyaknya untuk ikut memonitor dan memantau, juga pada tokoh-tokoh masyarakat, ormas semua membuat semacam kesepakatan untuk mendukung berlangsungnya pilgub di Jakarta aman, tertib, damai dan demokratis,” pungkas Kapolri Tito Karnavian. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara