BOCAH DICULIK UNTUK DISODOMI LALU DIBUNUH – Poskota.co
Saturday, September 23

BOCAH DICULIK UNTUK DISODOMI LALU DIBUNUH

begengPOSKOTA.CO – Sebelum dibunuh, diduga kuat Jamaludin, bocah berusia 7 tahun disodomi Arifin alias Begeng, 35, di rumahnya di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Korban yang masih duduk di klas satu SD itu diculik sepulang dari sekolahnya, Sabtu (6/2). “Jasad korban ditemukan MInggu di kamar mandi rumah pelaku,” ungkap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Muhammad Iqbal, Minggu (7/2).

Korban ditemukan dengan posisi kepala tertunduk dan masih mengenakan seragam sekolah. Tak menutup kemungkinan
Begeng diduga menyodomi sebelum menghabisi nyawa bocah tersebut. “Tersangka sudah kami amankan dan dijerat Pasal 330 KUHP. Kami masih memeriksa tersangka untuk mengetahui motif dan adanya dugaan sodomi itu,” ujar Iqbal.

Pelaku menculik korban di depan sekolahnya di Beji pada Sabtu (6/2) siang. Korban kemudian dibawa ke rumah tersangka di Cipayung. Polisi saat ini masih melakukan olah TKP di lokasi pembunuhan korban di rumah tersangka. Korban ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumah tersangka.

Jamaludin yang masih duduk di bangku kelas 1 ditemukan tewas di kamar mandi, di sebuah rumah di Jalan Albaido RT 14 RW 09, No.62, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)