BOCAH DICULIK UNTUK DISODOMI LALU DIBUNUH – Poskota.co

BOCAH DICULIK UNTUK DISODOMI LALU DIBUNUH

begengPOSKOTA.CO – Sebelum dibunuh, diduga kuat Jamaludin, bocah berusia 7 tahun disodomi Arifin alias Begeng, 35, di rumahnya di Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Korban yang masih duduk di klas satu SD itu diculik sepulang dari sekolahnya, Sabtu (6/2). “Jasad korban ditemukan MInggu di kamar mandi rumah pelaku,” ungkap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Muhammad Iqbal, Minggu (7/2).

Korban ditemukan dengan posisi kepala tertunduk dan masih mengenakan seragam sekolah. Tak menutup kemungkinan
Begeng diduga menyodomi sebelum menghabisi nyawa bocah tersebut. “Tersangka sudah kami amankan dan dijerat Pasal 330 KUHP. Kami masih memeriksa tersangka untuk mengetahui motif dan adanya dugaan sodomi itu,” ujar Iqbal.

Pelaku menculik korban di depan sekolahnya di Beji pada Sabtu (6/2) siang. Korban kemudian dibawa ke rumah tersangka di Cipayung. Polisi saat ini masih melakukan olah TKP di lokasi pembunuhan korban di rumah tersangka. Korban ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumah tersangka.

Jamaludin yang masih duduk di bangku kelas 1 ditemukan tewas di kamar mandi, di sebuah rumah di Jalan Albaido RT 14 RW 09, No.62, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)