BNN SUDAH BERBUAT, PEMDA DKI CUEK PEREDARAN NARKOBA – Poskota.co
Wednesday, September 20

BNN SUDAH BERBUAT, PEMDA DKI CUEK PEREDARAN NARKOBA

DJ wanita diatas panggung
DJ wanita diatas panggung

POSKOTA.CO – Peredaran narkoba di Diskotik Mille’s Lokasari Jakbar makin marak, meski pengunjung berkurang dari malam panjang sebelumnya. Sepinya pengunjung diskotik Mille’s karena acap kali anggota dari Badan Narkotika Nasional sering menongkrongi diskotik tersebut.

Namun sayangnya bandar besar di diskotik itu sudah mengetahuinya, paska penangkapan kaki tangan bandar besar narkoba Mille’s bernama Wawan.

Wawan pun nampaknya pasang badan, dan tidak mau memberikan keterangan kepada BNN. Akibatnya, kata pengunjung setia Mille’s BNN kesulitan menangkap bandas besar, yang diinformasikan juga ikut nimbrung meperdagangkan narkoba jenis ekstasi di diskotik eksotis milik pria paruh baya berinisial BBG.

“Tak mungkin petugas gak tahu. Pasti tahu. Hanya saja mungkin mencari yang lebih besar. Tapi gak papalah, yang penting kita pengunjung gak diganggu. Apalagi saya ini gak narkoba, cuma ‘minum’ saja,” kata salah seorang pengunjung, Sabtu (21/5) malam.

Seperti diketahui, BNNP pernah meringkus kaki tangan bandar narkoba di diskotik Mille’s pada Sabtu (16/4) dini hari lalu.

Bandar itu adalah Wawan, disebut sebagai salah satu kaki tangan bandar ‘resmi’ di Diskotik Mil’les. Dia tertangkap oleh sejumlah polisi wanita (Polwan) yang melakukan penyamaran di sana.

Polwan-polwan itu membuka sebuah ruangan sebelum rombongan polisi dari Polres Jakarta Barat dan petugas dari BNNP DKI Jakarta menggerebek dan melakukan pemeriksaan di diskotik Mil’les.

Polwan-polwan itu kemudian memesan Narkoba melalui LC di sana. Tetapi kemudian justru Wawan yang datang membawa Narkoba ke dalam ruangan.

Saat petugas datang dan mulai menggerebek diskotik, rupanya Wawan sang bandar tengah berada di room yang disewa para Polwan dan tengah mengantarkan pesanan narkoba itu. Dia pun kemudian diringkus. Dari Wawan, petugas mendapatkan barang bukti sebanyak 7 butir ekstasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.