ANDY CHANDRA: KEBIJAKAN PEMERINTAH TAK MEMIHAK, NELAYAN MUARA BARU MOGOK KERJA – Poskota.co

ANDY CHANDRA: KEBIJAKAN PEMERINTAH TAK MEMIHAK, NELAYAN MUARA BARU MOGOK KERJA

POSKOTA.CO – Rencana mogok kerja para nelayan di daerah Muara Baru bukan hanya sekadar isapan jempol.
Senin (10/10) ini puluhan ribu nelayan, buruh, anak buah kapal (ABK) dan tenaga kerja tidak langsung menggelar aksi mogok kerja.

Sebanyak 85 ribu nelayan pelabuhan mogok kerja dan tidak melakukan aktivitas di pabrik dan pengolahan ikan di Muara Baru.

Aksi mogok kerja nelayan ini dibenarkan oleh Ketua Paguyuban Pengusaha Perikanan Muara Baru (P3MB) Tachmid Widiasto Pusoro.

Andy Chandra, ketua Apkin
Andy Chandra, ketua Apkin

“Mogok kerja nelayan dan buruh di Pelabuhan Muara Baru diikuti 10 ribu buruh, 35 ribu anak buah kapal (ABK) dan 40 ribu tenaga pekerja tidak langsung. Jadi dengan sebanyak 85 ribu nelayan, buruh dan pekerja yang mogok melumpuhkan aktivitas di pelabuhan,” kata Tachmid.

Kondisi ini pun sentak menjadi perhatian banyak kalangan termasuk dari Ketua Asosiasi Pengusaha Kepiting Indonesia (Apkin) Andy Chandra.

Andy Chandra menegaskan, aksi para nelayan hari ini telah dilakukan, bahkan besok dan seterusnya dikabarkan akan terus melakukan mogok.

Tidak hanya di Jakata, di daerah Bali, Pati dan Bitung, menjelaskan Andy, juga telah melakukan mogok kerja tersebut. “Mogok hari ini telah dilakukan, besok dan seterusnya, bahkan info dari teman-teman Bali sudah dari kemarin serta diikuti oleh Pati dan Bitung, semua sudah melakukan aksi solidaritas,” terangnya.

Tak memihak nelayan
Andy menuturkan, nelayan saat ini memang menghadapi banyak persoalan banyak kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada nelayan.

“Mogok kerja itu ekspresi kekecewaan dari nelayan, tidak mungkin tidak ada masalah lalu mereka mogok kerja,” sentil tokoh bernama lengkap Tjandra Setiadji itu.

Andy mengaku sedih dengan informasi yang ia terima tentang aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para nelayan di Muara Baru itu. “Sedih sekali saya mendengarnya, seharusnya mereka kerja tapi merasa haknya dirampas. Akhirnya mereka mogok, sekali lagi sedih,” cetus Andy.

Bahkan Andy pun yang aktif di beberapa LSM itu mengaku ikut merasakan apa yang dirasakan para nelayan tersebut. “Coba kita pikirkan bersama, kenapa sektor perikanan sekarang menurun pendapatannya?” tanya Andy yang juga presiden Suara Independen Rakyat Indonesia (SIRI) itu.

Andy berharap, suara nelayan kali ini didengar demi memperbaiki perekonomian negara, karena beberapa persen dari sektor perikanan.

“Suara rakyat harus diperhatikan, mereka mogok berarti ada masalah,” kata Andy kembali menegaskan. “Atau nunggu saya ikut mogok?” sergah Andy sambil bekelakar.

Kenaikan tarif sepihak
Sementara itu, Paguyuban Pengusaha Perikanan Muara Baru (P3MB) Tachmid Widiasto Pusoro menyatakan, mogok dipicu kebijakan Perum Perindo yang menaikkan tarif sewa lahan sebesar 450 persen dari Rp236 juta menjadi Rp1,558 miliar per hektar per tahun.

Perum Perindo juga memperpendek jangka waktu sewa lahan dari 20 tahun menjadi lima tahun, sehingga tidak memberikan kepastian dalam usaha.

“Mogok kerja itu berdampak luas bagi perindustrian ikan di Indonesia. Tentu saja dengan pelabuhan yang lumpuh total, serta berhentinya perindustrian baik pabrik ikan maupun pengolahan ikan akan berdampak pada nelayan dan buruh,” kata Tachmid.

Ini karena, lanjut Tachmid, ada kenaikan sepihak yang mencapai 450 persen. Kebijakan ini akan membuat pengusaha ikan gulung tikar. Hal itu akan merembet pada puluhan ribu buruh, nelayan dan pedagang ikan yang akan menganggur.

Banyak kerugian
Selain itu, akibat nelayan mogok banyak menimbulkan kerugian. Kerugian itu tak hanya diderita pihak nelayan tapi juga pemerintah.

Tachmid mengatakan, kerugian itu akibat uang tidak berputar di kawasan pelelangan ikan Muara Baru. Padahal, uang berputar di tempat penjualan ikan tersebut bisa mencapai Rp20 miliar per hari. “Muara Baru merupakan pemasok ikan terbesar di Pulau Jawa dan Sumatera,” jelas Tachmid, Senin (10/10).

Tachmid menjelaskan, kerugian di sisi nelayan karena 1.600 kapal mempekerjakan sekitar 35 ribu ABK. Sedangkan di bagian prosesing sekitar 10 ribu buruh yang langsung dan tidak langsung 40 ribu. “Jika ditotal, ada sekitar 85 ribu buruh yang tidak bekerja akibat nelayan mogok,” pungkas Tachmid. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.