ADA MAIN SEGEL BANGUNAN DI CEMPAKA PUTIH – Poskota.co

ADA MAIN SEGEL BANGUNAN DI CEMPAKA PUTIH

POSKOTA.CO – KETEGASAN dan sikap garang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam menertibkan jajarannya yang nakal kembali diuji anak buahnya sendiri.

Kali ini anak buah Ahok di Suku Dinas Penataan Kota Jakarta Pusat nekat menurunkan papan segel dari bangunan yang bermasalah. Tidak tanggung-tanggung dua papan segel dari bangunan tersebut dicopot alias diturunkan sekaligus.

Bangunan yang bermasalah yang diturunkan papan segelnya itu berlokasi di Jalan Percetakan Negara Raya No.30 RT 04 / RW 01 Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih Jakarta Pusat.

Penurunan kedua papan segel itu dilakukan pada Rabu siang (2/3) lalu. Bangunan itu disegel lantaran pemiliknya hendak mengubah rumah tinggal itu menjadi restoran tanpa melalui prosedur perijinan yang seharusnya.

Penurunan papan segel ini sebenarnya sudah yang kedua kalinya. Awalnya bangunan tersebut disegel Suku Dinas Penataan Kota Jakarta Pusat pada 17 November 2014. Namun pada 25 Desember 2014, atau setelah disegel sebulan lebih, pemilik bangunan menurunkan segel itu.

Kemudian 9 Januari 2015, pihak Sudin Penataan Kota Jakarta Pusat kembali menyegel bangunan tersebut. Bahkan saat itu langsung dipasang dua papan segel sekaligus, yakni segel standar yang dipasang di tembok bangunan, dan segel mati yang diikat rantai di gerbang bangunan, sebagai tanda bangunan tersebut terlarang dimasuki orang.

Namun, setelah setahun lebih, tepatnya pada Rabu siang (2/3) lalu, tahu-tahu kedua segel itu diturunkan begitu saja oleh beberapa petugas Sudin Penataan Kota Jakarta Pusat.

Kepala Seksi Penataan Kota Kecamatan Cempaka Putih Ilham Kasio mengatakan kalau penurunan kedua papan segel itu memang dilakukan langsung oleh petugas Sudin Penataan Kota Jakarta Pusat, tanpa berkoordinasi dengan pihaknya.

”Mereka dari Sudin Penataan Kota Jakarta Pusat mengatakan kalau pemilik bangunan sudah mengajukan permohonan penurunan segel yang dilampiri IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) yang diterbitkan tahun 1980.

Tapi untuk teknisnya sebaiknya tanyakan langsung saja ke Sudin. Yang jelas penurunan kedua papan segel itu tanpa koordinasi dulu ke sini,” beber Ilham saat ditemui wartawan beberapa hari lalu langsung dikantornya.

Namun diakui Ilham, kalau pemilik bangunan itu pernah menemui dirinya saat dirinya baru saja menjabat sebagai Kasie Penataan Kota Kecamatan Cempaka Putih pada November 2015 lalu.

”Dia bilang ke saya mau masuk ke bangunannnya untuk bersih-bersih. Saya jawab tegas gak bisa. Karena bangunan itu disegel mati, yang artinya tak boleh siapapun keluar masuk di bangunan itu walaupun pemiliknya. Saya katakan ke dia (pemilik bangunan) kalau bapak nakal makanya disegel mati,” tandas Ilham.

Sedangkan Wakil Walikota Jakarta Jakarta Pusat Arifin menegaskan kalau setiap bangunan bermasalah yang disegel harus membuat IMB baru. ”Kalau gak ada IMB harus disegel ulang, segera saya minta Kasudin Penataan Kota Jakarta Pusat agar memasang ulang segel-segel itu. Gak bisa dibiarkan yang seperti ini,” tegas Arifin dikantornya, Senin (7/3).

Dijelaskan Arifin, setiap bangunan yang disegel karena bangunan tersebut bermasalah. Begitu juga penyegelan yang dilakukan di bangunan tersebut, lantaran pemiliknya hendak mengubah rumah tinggal menjadi restoran.

”Mas, kalau saya beli rumah meskipun rumah itu sudah ada IMB-nya, tapi begitu saya mau tambah satu kamar saja di bagian depan maka harus buat IMB baru. Apalagi ini, dari rumah mau diubah menjadi restoran,” papar Arifin yang dikenal tegas terhadap pelanggaran bangunan di Jakarta ini.

Ia menambahkan, apapun yang namanya surat permohonan berikut surat pernyataan yang berisi janji-janji hendak megembalikan ke fungsi semula tak bisa dijadikan rujukan untuk menurunkan papan segel, apalagi sampai dua sekaligus.

”Gak ada itu surat-surat permohonan dan pernyataan janji, apalagi digunakan juga surat IMB tahun 1980. Buat saya patuhi saja undang-undang dan peraturannya,” pungkas Arifin.

Untuk diketahui, pemilik bangunan Akim menyodorkan IMB No.7752/IMB/PG/1980 tanggal 13 Mei 1980 atas nama Samoli Gunawan, selaku pemilik bangunan kedua. Bangunan lalu dimiliki Wo Chen Chin alias Acin.

Untuk diketahui Samoli dan Acin sudah meninggal dunia belasan tahun lalu. Selanjutnya pemilik bangunan terakhir adalah Akim. Anehnya, entah bagaimana caranya, Akim bisa menggerakkan pihak Sudin Penataan Kota Jakarta Pusat untuk menurunkan kedua papan segel itu dirumahnya.

Padahal sesuai UU No.28 tahun 2002 tentang bangunan dan gedung, Peraturan Pemerintah No.36 tahun 2005, dan Peraturan Gubernur DKI Jakarta 128 tahun 2012 menyebutkan setiap peralihan fungsi bangunan, maupun perubahan harus mengajukan pembuatan IMB.

Sementara itu, Kasudin Penataan Kota Jakarta Pusat Deddy Widyarman saat hendak dikonfirmasi melalui ponselnya di nomor 0812 9514 259 enggan menjawab panggilan ponsel.

Begitu pula Kadis Penataan Kota DKI Jakarta Iswan Ahmadi saat dihubungi berkali-kali nomor ponselnya di 0815 995 8045 juga enggan menjawab, sms pun enggan menolak. (oko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)