oleh

Hadapi ‘Perang’ Modern, Kemenhan ‘Persenjatai’ Gen-Z dengan Buku

​JAKARTA – Di ruangan perpustakaan Gedung Gatot Soebroto, Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta Pusat, suasana mendadak reflektif. Tidak ada deru mesin tempur atau kilat sangkur di sana. Yang ada hanyalah tumpukan literatur dan diskusi tajam yang membedah arah masa depan bangsa.

Pada ​Selasa (12/5/2026), Kementerian Pertahanan RI menggelar Defence Intellectual Management Book Club bertema, “Membangun Intelektualisme dan Kedaulatan Bangsa”. Sebuah tajuk yang terdengar akademis, namun membawa pesan ‘perang’ yang sangat nyata: Perang Intelektual.

​​Staf Khusus Menhan Bidang Tata Negara, Dr. Kris Wijoyo Soepandji, S.H., M.P.P., yang memimpin acara diikuti 40 intelektual muda tersebut, melontarkan pernyataan menohok dalam sesi wawancara doorstop. Di hadapan mahasiswa dan peneliti muda, ia menyebut media sosial telah membombardir logika manusia hingga menjadi dangkal. “Membaca buku itu ibarat angkat beban,” ujarnya, dengan nada mantap.

“Kalau mau otot fisik kuat, kita ke gym. Tapi kalau mau otot intelektual kuat, ya baca buku. Kita ingin generasi muda punya disiplin berpikir, bukan sekadar penonton yang hanyut dalam arus algoritma,” sambung Dr. Kris.

​Langkah Kemenhan ini merupakan upaya ‘detoksifikasi’ bagi Generasi Z dan Alfa agar tidak menjadi korban informasi sampah (hoaks) yang dapat melumpuhkan ketahanan mental bangsa.

​​Diskusi memanas saat dua buku kontroversial naik ke meja bedah: Revolusi karya sejarawan Belgia, David van Reybrouck, dan naskah sejarah UUD 1945 karya (Alm) RMAB Kusuma. Dr. Kris mengingatkan satu hal krusial, waspadai kepentingan di balik pena.

​”Penulis asing punya kacamata mereka sendiri. Kita tidak boleh naif. Jangan sampai kita mencari kebenaran sejarah, tapi malah terjebak membela kepentingan bangsa lain,” tegasnya.

​Ia bahkan memberi contoh telak soal standar ganda dunia. Bagaimana mungkin sebuah negara bicara soal keadilan HAM internasional, sementara mereka sendiri belum mengakui ‘dosa’ sejarahnya di Tanah Air kita? Pesannya jelas, kebenaran sejarah harus berpihak pada keselamatan NKRI.

​Melalui program Book Club dan Lorong Sejarah yang rutin digelar, Kemenhan ingin mengubah citra perpustakaan dari tempat sunyi menjadi pusat pergerakan intelektual. Fasilitas Perpustakaan Wawasan Nusantara kini diposisikan sebagai ‘medan latihan’ bagi pelaku pertahanan masa depan.

​Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai lini, antara lain:

  • ​Internal Kemenhan: Sekretaris Jenderal yang diwakili Kepala Tata Usaha dan Protokol, serta jajaran pejabat eselon.
  • ​Akademisi dan profesional: Perwakilan organisasi Langkah Inovasi Indonesia (LII), pakar hukum internasional, dan konsultan strategis.
  • ​Media global: Jurnalis dari Reuters dan Bloomberg, yang menunjukkan bahwa isu kedaulatan intelektual Indonesia sedang menjadi sorotan dunia.
  • Delegasi mahasiswa S2.

​​Sebagai penutup, Dr. Kris menekankan bahwa menjadi pintar saja tidak cukup. Mengutip semangat Bung Karno, ia menegaskan bahwa intelektualisme Indonesia harus memiliki ‘terang’ — sebuah hikmat yang bersumber dari keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa.

​”Tanpa nilai spiritual, sejarah hanya akan menjadi deretan angka mati. Namun dengan hikmat, sejarah adalah ‘pisau analisis’ paling tajam untuk menjaga rumah besar kita, Indonesia, di tengah carut-marut geopolitik dunia,” pungkasnya. (*/aga)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *