WANITA TENGAH BAYA TEWAS TERLINDAS KERETA API – Poskota.co

WANITA TENGAH BAYA TEWAS TERLINDAS KERETA API

mayat yang ditemukan
mayat yang ditemukan

POSKOTA.CO – Wanita tengah baya Tetty Nababan, 42 tahun, Rabu (9/3) tewas mengenaskan tertabrak kereta api di perlintasan sebidang tanpa palang di Bulak Kapal, Bekasi Timur.

Siang itu korban mengendarai sepeda motor Honda Beat B-6949-KOZ dari selatan melaju menuju utara. Tanpa tengok kanan-kiri korban langsung menyeberang rel.

Korban sudah diperingatkan warga, diduga tak kedengaran, korban nekat melintas rel. Di saat bersamaan, Kereta Api Cirebon Expres melintas dari arah Jakarta. “Korban tertabrak lalu terseret,” kata Viktor, saksi mata di tempat kejadian.

Juru bicara Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota, Inspektur Satu Puji Astuti mengimbau agar masyarakat berhati-hati bila melintas di perlintasan sebidang. Sebab, perlintasan itu merupakan daerah rawan kecelakaan kereta api. “Kecelakaan kereta paling banyak di perlintasan sebidang,” kata Iptu Puji.

Pemerintah Kota Bekasi, berencana membangun jalan layang dan underpass di titik tersebut. Namun, pembangunannya hingga saat ini belum terealisasi karena terkendala pembebasan lahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)