NYABU, 2 ANGGOTA KODAM CENDERAWASIH DITANGKAP – Poskota.co

NYABU, 2 ANGGOTA KODAM CENDERAWASIH DITANGKAP

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Dua anggota TNI AD yang bertugas di Kodam XVII Cenderawasih ditangkap karena diduga menjadi pengedar dan pengguna narkotika jenis sabu sabu.

Data yang dihimpun Antara di Jayapura, Senin mengungkapkan, kedua anggota ditangkap Sabtu (5/3) sekitar pukul 00.00 WIT, dan tim gabungan TNI AD melakukan penangkapan terhadap Kopda I dan Kopda LT,di komplek perumahan kodam lama, Jalan Setiabudi, Kota Jayapura.

Kopda I bertugas dilingkungan Topdam dan Kopda LT bertugas Denmadam Kodam XVII Cendrawasih.

Saat ditangkap, kedua diduga sudah menggunakan barang haram karena ditemukan alat isap (bong), ungkap sumber yang tidak ingin diungkapkan identitasnya.

Ada pun barang bukti yang diamankan terdiri atas lima bungkus sabu sabu seberat 4.2 Gram, satu dus amunisi senjata softgun berisi 50 butir, timbangan digital dan lainnya.

Sementara itu Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Hinsa Siburian kepada Antara di Jayapura membenarkan adanya penangkapan terhadap kedua anggota namun hingga kini masih diperiksa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)