GUBERNUR SULUT AJAK REMAJA GEREJA JAUHI NAPZA – Poskota.co

GUBERNUR SULUT AJAK REMAJA GEREJA JAUHI NAPZA

ILUSTRASI
ILUSTRASI

POSKOTA.CO – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey mengajak remaja gereja masehi injili di Minahasa (GMIM) menjauhi narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza).

“Jangan sampai remaja terjerumus pada penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang ini, masa depan bisa rusak,” ajak Gubernur kepada ribuan remaja gereja yang menggelar ibadah selebrasi Paskah di lapangan Lembong Desa Tenga Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Senin.

Menurut Gubernur, sebagaimana laporan Kepolisian Daerah (Polda) Sulut, situasi kamtibmas sampai pada Pebruari 2016 menyebutkan pelaku maupun korban kejahatan atau pelanggaran kebanyakan didominasi oleh kaum remaja dan pemuda dengan berbagai modus operandi.

Penyebabnya, kata dia, dilatarbelakangi oleh pengaruh minuman beralkohol, narkoba serta obat-obat terlarang lainnya.

Karena itu, ajak dia, generasi muda gereja hendaknya menjadikan paskah sebagai motivasi spiritual sehingga memiliki ketangguhan iman dalam menghadapi derasnya tantangan di era globalisasi dan era masyarakat ekonomi Asean yang telah bergulir saat ini.

“Marilah secara bersama-sama merefleksikan dan merenungkan kembali peran dan tanggungjawab sebagai generasi bangsa di masa depan serta penerus kerajaan Allah di dunia ini,” katanya.

Menurut Gubernur, paskah menjadi momentum kebangkitan remaja GMIM menemukan kesejatian identitas sebagai generasi muda yang cerdas secara intelektual, matang dalam emosi, dewasa dalam iman, dan takut akan Tuhan.

Sebelumnya, pada perayaan selebrasi paskah Kapolda Sulut Brigjen Polisi Drs Wilmar Mapaung SH telah mencanangkan “Remaja GMIM Pelopor Kamtibmas”.

Sebanyak 24 ribu remaja GMIM yang tersebar di 938 jemaat dan 111 wilayah dari tujuh kabupaten dan kota se Sulut menghadiri ibadah selebrasi yang dipimpin Pdt HWB Sumakul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)