DIDUGA MENISTAKAN AGAMA, RAPPER MALAYSIA DITANGKAP – Poskota.co
Wednesday, September 20

DIDUGA MENISTAKAN AGAMA, RAPPER MALAYSIA DITANGKAP

POSKOTA.CO – Pihak Polisi Diraja Malaysia (PDRM) melakukan penangkapan terhadap seorang penyanyi rap kontroversial di negeri jiran itu, Namewee. Lewat lagu dan video musik terbarunya, ia dianggap menghina Islam.

Namewee yang bernama asli Wee Meng Chee ditangkap di Bandara Internasional Kuala Lumpur, saat baru kembali dari Singapura pada Minggu (21/8).

Musisi kelahiran Johor berusia 33 tahun itu ditahan di bandara sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Kemudian petugas berwenang membawanya ke Penang untuk penyelidikan lebih lanjut. Wee Meng Chee akan diproses di pengadilan.

Wee Meng Chee penyanyi Malaysia (tengah) ditangkap DPRM di Bandara Internasional Kuala Lumpur, saat baru kembali dari Singapura pada Minggu (21/8). Wee ditangkap karena diduga menghina Islam dalam video lagu terbarunya yang diunggah ke Youtube.
Wee Meng Chee penyanyi Malaysia (tengah) ditangkap DPRM di Bandara Internasional Kuala Lumpur, saat baru kembali dari Singapura pada Minggu (21/8). Wee ditangkap karena diduga menghina Islam dalam video lagu terbarunya yang diunggah ke Youtube.

Kepala Kepolisian Penang, Komisaris Datuk Abdul Ghafar Rajab mengatakan, penangkapan Wee Meng Chee akan memudahkan penyelidikan laporan diajukan atas video musiknya yang menampilkan masjid terapung Penang di Tanjung Bungah sebagai latar belakang.

Diklaim bahwa Wee Meng Chee diduga menghina Islam dalam produksi video musik terbarunya. Organisasi nonpemerintah telah mengajukan 20 laporan ke polisi terhadap rapper yang sudah tak asing lagi dengan hal kontroversial.

Dalam video lagu terbarunya berjudul ‘Oh My God’ yang diunggah ke kanal Youtube, yang mengumumkannya melalui Facebook. “PDRM sila tengok MV baru Namewee!” tulis Wee dalam akun Facebook-nya. Wee terlihat menyanyi rap di sekitar area beberapa tempat ibadah di Malaysia. Tak sendiri, dirinya juga diiringi beberapa orang yang meramaikan klip video itu.

Kontroversi
Wee Meng Chee memang berhasil meraih popularitas berkat aksi-aksi kontroversi sebelumnya. Video musik berdurasi empat menit tersebut disutradarai sekaligus diproduksi oleh Wee Meng Chee sendiri juga menampilkan band asal Taiwan, Nine-One-One.

Menurut Wee, lagu terbarunya itu dimaksudnya untuk memperlihatkan kerukunan antarumat beragama di Malaysia. Video klip lagu itu pertama kali dirilis Juli dan diperbarui pada 20 Agustus.

Pada video yang dirilis Juli, Wee bernyanyi di depan kuil Buddha, gereja dan masjid. Namun, saat mengeluarkan versi terbaru, tidak ada penampilan dirinya di depan masjid.

Karena keluhan dari orang-orang yang menonton video itu, termasuk beberapa lembaga swadaya masyarakat di Malaysia, pihak kepolisian negara itu akhinya menangkap Wee. Saat ini, dirinya tengah dalam proses interogasi.

Sebelumnya, penyanyi yang dikenal melantunkan lagu-lagu berbahasa Mandarin itu juga pernah hampir tersangkut kasus hukum akibat karya seninya. Dalam sebuah lagu, Wee seakan mempertanyakan dari mana energi nasional Malaysia berasal. Ia juga menampilkan parodi lagu kebangsaan negara itu yang dianggap sebagai lelucon. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)