TUNA WISMA MABUK BERAT, JARAH JAM TANGAN – Poskota.co

TUNA WISMA MABUK BERAT, JARAH JAM TANGAN

Korban NA (tengah) dan pelaku MA (kanan) membuat surat pernyataan di Mapolsek Tambora, Jakarta Barat, Rabu (10/5).
Korban NA (tengah) dan pelaku MA (kanan) membuat surat pernyataan di Mapolsek Tambora, Jakarta Barat, Rabu (10/5).

POSKOTA.CO – Seorang lelaki berinisial MA (24) asal Desa Cikulur, Lebak Banten ditangkap pemilik rumah lantaran tertangkap tangan mencuri sebuah jam tangan merek ‘Fosil’ seharga Rp500.000 milik NA(38) di Jl Krendang, Kelurahan Duri Utara, Tambora Jakarta Barat, Rabu (10/5) dinihari.

Penangkapan terhadap pelaku MA bermula sekitar pukul 03.50 WIB, korban yang sedang berada di dalam rumah terkejut melihat seorang lelaki tak dikenal masuk ke dalam rumah.

Saat berada di dalam rumah dan melihat situasi aman terkendali, kondisi pelaku yang sedang dalam pengaruh minuman beralkohol itu, lalu nekat menjarah jam tangan yang berada di atas meja.

Setelah berhasil mencuri jam tangan seharga Rp500.000 itu kemudian saat pelaku akan melarikan diri langsung ditangkap korban yang juga pemilik rumah, ketika digeledah didapati barang bukti dari saku celana pelaku.

Warga yang mengetahui ada tamu tak diundang sempat melayangkan bogem mentah ke wajah pelaku.

Untuk menghindari amuk massa, kemudian pelaku diamankan dan dibawa petugas ke Mapolsek Tambora Jakbar dengan mobil patroli.

Setelah dilakukan investigasi dan pemeriksaan terhadap korban dan saksi-saksi oleh petugas Tim II Unit Reskrim Polsek Tambora Jakbar atas kejadian tersebut, korban tidak membuat laporan kepolisian atau melakukan penuntutan terhadap pelaku.

Sementara itu pelaku MA, oleh petugas dikirim ke Panti Dinas Sosial Kedoya Jakarta Barat, karena tidak pelaku tidak mempunyai tempat tinggal tetap ataupun identitas yang melekat pada diri pelaku.
(hariri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)