SERANGAN-SERANGAN YANG TAK TERLIHAT PEMICU DAN DAMPAKNYA – Poskota.co

SERANGAN-SERANGAN YANG TAK TERLIHAT PEMICU DAN DAMPAKNYA

Brigjen Crisnanda Dwi Laksana

DI era digital, siapa kawan siapa lawan belum tentu terlihat. Bisa saja secara aktual baik namun secara virtual melakukan serangan. Berita-berita hoax, penanaman kebencian taburan provokasi konflik semakin marak dan semakin menjadi-jadi. Benar-salah, baik-buruk diaduk menjadi satu. Sesuatu yang terus disampaikan pada waktu tertentu berulang terus-menerus pada frekuensi yang sama akan menjadi referensi yang dianggap akurat.
Sistem informasi dan pendataan yang serampangan menjadi biangkeladi atas serangan-serangan yang tidak nampak. Mengapa demikian? Kepastian sumber data yang akurat dan akuntabel serta mudah diakses akan memberikan wacana bagi publik untuk tidak mudah tergerus sesuatu yang menyesatkan atau memprovokasi. Setidaknya pusat komunikasi dan informasi yang terpercaya bisa menjembatani atau setidaknya bida menjadi rujukan jika ada sesuatu yang meragukan.

Lowongnya sistem-sistem tersebut dari pihak-pihak yang memberi jaminan keakurasian data memicu data dan informasi menjadi bola liar. Dampak dari absennya sistem data komunikasi dan informasi yang intensif, publik kehilangan standar atau soko guru untuk mereduksi atau setidaknya tidak tergerus info-info hoax. Adakah para birokrat yang bertugas bagian data dan analisa bangga akan tugasnya? Kreatif mengeluarkan produk-produk yang informatif edukatif dan menangkal isu?

Kalau boleh jujur dikatakan mereka sama sekali tidak berharap dan tidak menginginkan bekerja di tempat data dan analisa. Bisa dipahami karena masih adanya jabatan basah dan kering. Pada bagian data dan analisa dianalogikan kering bahkan tandus. Belum lagi political will pimpinannya yang kurang peduli ini semakin memperburuk suasana bagian data dan analisa. Ketidakpedulian ini akan berdampak pada apresiasi dan penggunaan data yang menjadi kelas ‘mbek’ atau tingkatan terbawah.

Data dan analisa sebagai pelengkap laporan dan pertanggungjawaban keuangan semata. Analisa data yang semestinya dibangun dengan sistem-sistem aplikasi berbasis IT bisa-bisa dikembalikan ke era manual yang parsial dan konvensional. Data dan analisanya selain bida untuk pencerahan, counter issue, juga bisa menjadi bahan menentukan prediksi antisipasi dan solusi.

Sadar akan sistem data dan analisa yang akurat ini merupakan bagian dari revolusi mental dalam merombak birokrasi yang tidak rasional dan sarat pendekatan-pendekatan personal. Serangan-serangan yang tidak nampak sekarang ini justru yang dominan dan mendominasi, yang semakin membabi buta bahkan dapat mengunci nalar dan menggerus logika. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)