POLISI DALAMI KASUS PENYEBARAN FITNAH TERKAIT ‘JOKOWI UNDERCOVER’ – Poskota.co
Wednesday, September 20

POLISI DALAMI KASUS PENYEBARAN FITNAH TERKAIT ‘JOKOWI UNDERCOVER’

Irjen Pol Boy Rafli Amar
Irjen Pol Boy Rafli Amar

POSKOTA.CO – Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri masih mendalami kasus penyebaran fitnah yang melibatkan penulis buku ‘Jokowi Undercover’, Bambang Tri Mulyono.

“Penyidik melakukan pendalaman materi di media sosial, usai penelusuran sejak Desember 2016,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Selasa (3/1).

Menurut hasil penyelidikan sementara, Bambang menjual buku tersebut secara langsung dengan mempromosikannya melalui akun Facebook miliknya dan selebaran. “Akun Facebook Bambang Tri selama ini dijadikan sebagai media pemasaran,” kata Boy.

Polisi telah menahan tersangka Bambang Tri Mulyono, penulis buku ‘Jokowi Undercover’, yang menurut dugaan polisi dibuat tanpa dukungan data primer dan sekunder yang dapat dipertanggungjawabkan. “Tersangka tidak memiliki dokumen pendukung sama sekali terkait tuduhan pemalsuan data Bapak Jokowi saat pengajuan sebagai calon presiden di KPU Pusat,” jelas Boy.

Tebarkan kebencian
Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Rikwanto mengatakan, polisi menduga tersangka menebar kebencian menggunakan buku tersebut.

Rikwanto mengatakan, tuduhan dalam buku ‘Jokowi Undercover’ hanya berdasarkan sangkaan, persepsi dan perkiraan pribadi penulisnya. “Motif tersangka sebagai penulis hanya didasarkan atas keinginan untuk membuat buku yang menarik perhatian masyarakat,” ungkapnya.

Tersangka, menurut Rikwanto, telah menebarkan kebencian kepada keturunan bekas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tidak tahu menahu tentang peristiwa G-30 S/PKI Madiun 1948 dan 1965 menggunakan bukunya.

Rikwanto lebih jauh menuturkan, tersangka juga menebarkan kebencian kepada kelompok masyarakat yang bekerja di dunia pers terkait pernyataan Bambang Tri Mulyono di halaman 105 bukunya bahwa Jokowi-Jusuf Kalla adalah pemimpin yang muncul dari dan dengan keberhasilan media massa melakukan kebohongan kepada rakyat.

“Selain itu, pada halaman 140, ia menyebut Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, adalah basis PKI terkuat se-Indonesia, padahal tahun 1966, PKI sudah dibubarkan,” terang Rikwanto.

Rikwanto menambahkan, polisi sudah memeriksa dua saksi, anggota Kepolisian Daerah Jawa Tengah, dalam penyelidikan perkara itu. Polisi juga akan meminta keterangan dari ahli teknologi informasi, ahli bahasa, ahli sejarah dan ahli sosiologi.

Dalam penyelidikan perkara tersebut, polisi juga sudah menyita barang bukti berupa komputer, telepon genggap dan flash disk milik tersangka; buku ‘Jokowi Undercover’ tulisan tersangka; dokumen data Presiden Jokowi saat pemilihan presiden dari KPU Pusat, KPUD DKI Jakarta dan KPUD Surakarta; serta hasil pemeriksaan laboratorium forensik dan siber.

Polisi menjerat tersangka Bambang Tri menggunakan Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), karena menebarkan kebohongan atau kebencian pada kelompok masyarakat tertentu serta Pasal 207 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), karena dengan sengaja di depan umum menghina penguasa atau badan umum di Indonesia. (*/ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,‎" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)