oleh

Ketua RW Usul Pasien OTG Covid-19 Isolasi Mandiri di Hotel, Bukan di Rumah

POSKOTA.CO – Kalangan pengurus Rukun Warga (RW) mengusulkan kepada pemerintah pusat dan daerah agar pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-1 diisolasi mandiri di hotel atau di tempat khusus, karena di rumah pribadi akan terasa kurang nyaman dan warga sekitar pun bisa was-was.

Ketua RW 032 Bojong Rawalumbu, Syamsir dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 12 September 2020, mendesak pemerintah dapat merawat pasien OTG atau pasien ringan Covid di tempat khusus, seperti hotel atau pun wisma. Sebab menjalani karantina mandiri di rumah berdampak phisikis (mental) kepada anggota keluarganya, termasuk warga sekitar. Jika ditampung di hotel akan menghindarkan pasien OTG berinteraksi dengan anggota keluarganya.

“Pasien OTG tersebut tidak bisa kemana-mana. Demikian juga anggota keluarganya, benar-benar terisolasi. Kalau pemerintah menyediakan tempat khusus seperti hotel atau wisma, sungguh tepat dan ini sebenarnya akan memudahkan tim medis merawat pasien,” jelas Syamsir

Persoalan lain, kata Syamsir, menjawab pertanyaan, adalah distribusi bantuan pangan kepada pasien OTG isolasi mandiri di rumah. Warga hanya mengandalkan bantuan dan kepedulian warga sekitar, belum ada bantuan khusus kepada keluarga pasien OTG. “Bantuan makanan siap saji atau bentuk sembako didrop oleh pengurus RT atau warga ke rumah pasien OTG. Untuk menghindari kontak fisik maupun interaksi, biasanya bantuan kebutuhan rumah tangga itu ditaro di pagar rumah, setelah itu baru diberi tahu kepada keluarga pasien via telepon atau whatsaap. Emang agak repot sih” jelas Pak RW ini.

Pak RW ini tidak menyangkal lonjakan jumlah kasus baru positif Covid-19 beberapa hari terakhir meroket. Petugas medis kewalahan dan rumah sakit dikabarkan penuh dengan pasien positif Covid. Hal ini juga terkait dengan tingkat kedisiplinan warga terhadap protokol kesehatan makin kendor.

Ia berharap keberadaan pasien OTG juga harusnya dapat terdeteksi dan tertangani. Bila terbukti positif dengan hasil test swab, maka pasien tersebut harus dipisahkan atau dikarantinakan di tempat khusus. Jangan hanya mengandalkan upaya karantina mandiri di rumah, hanya bermodalkan kepedulian warga sekitar.

“Penggunaan stadion atau wisma oke dan bagus. Tapi pasien OTG yang karantina mandiri di rumah pun harus menjadi perhatian pemerintah dong! Coba kerjasama organisasi atau wadah bidang perhotelan untuk merumuskan solusinya, sekalian dapat memanfatkan hotel-hotel yang lagi kosong,” kata Syamsir, pensiunan wartawan ibukota itu.

Sebagai aparat terbawah, pengurus RT/RW paling mengetahui kondisi riil apabila ada pasien isolasi mandiri di rumah. Karena hal itu akan bersinggungan dengan interaksi sosial di tengah-tengah pemukiman warga. Kalau isolasi mandiri maka segala kebutuhan pasien dan keluarganya terpenuhi. Siapa yang terbebani ya tidak lain warga lingkungan setempat dalam kurun waktu dua pekan. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *