oleh

Ganggu Lingkungan, Warga Jati Cempaka Bekasi Minta Keberadaan Lapak Barang Bekas di RW 04 Ditinjau Ulang

POSKOTA.CO – Warga kelurahan Jati Cempaka, Pondok Gede, Kota Bekasi meminta keberadaan lapak barang bekas di RW 04 kelurahan Jati Cempaka ditinjau ulang. Sebab keberadaan lapak di atas lahan sewa tersebut sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan warga sekitar.

Hal tersebut mengemuka pada musyawarah warga yang melibatkan perwakilan warga dari komplek Vila Wadas Indah, Vila Wadas Asri, Vila Wadas Manunggal, komplek Greenville, Komplek 27 Wadas Indah, pemilik lahan lokasi kebakaran, tokoh masyarakat, Ketua RT 06 RW 04 dan  Ketua RT 08 RW 04, Ketua RW 04 , Lurah Jati Cempaka serta Babin Kamtib, Minggu (12/9/2021). Musyawarah warga tersebut digelar pasca insiden kebakaran yang melanda lapak barang bekas pada 26 Agustus 2021 lalu dimana api sempat merambat ke rumah warga di kompleks Vila Wadas Indah.

“Kebakaran tanggal 26 Agustus lalu membuat warga trauma. Karena dampak dari kebakaran tersebut benar-benar kami rasakan, baik materiil maupun non materiil,” kata Abrianto, Koordinator Kompleks Vila Wadas Indah.

Warga lanjut Abrianto telah berkirim surat yang ditandatangani oleh warga kepada ketua RT, ketua RW, lurah, Camat bahkan Walikota Bekasi. Intinya warga keberatan jika ada lapak barang bekas di sekitar kompleks perumahan. Sebab tidak hanya berpotensi menimbulkan kebakaran, lapak barang bekas juga menebarkan bau busuk ke perumahan.

“Kami meminta agar aparat menegakkan kembali aturan lingkungan dan tata guna bangunan pada permukiman,” sambungnya.

Sikap keberatan dengan keberadaan lapak barang bekas tersebut tidak hanya datang dari warga Kompleks Perumahan Vila Wadas Indah yang lokasinya paling dekat. Warga kompleks perumahan lain juga menyatakan keberatan yang serupa.

Hartanto yang merupakan salah satu tokoh masyarakat, menyatakan  bahwa dampak kebakaran yang dari lapak tersebut telah berimbas pada warga komplek Wadas Indah. Warga tidak hanya ikut menjadi korban kebakaran, tetapi juga sempat dibuat panik. “Rumah warga akan yang terkena api,” tuturnya.

Ia mengaku tidak tahu apakah lapak barang bekas tersebut memiliki ijin resmi atau tidak. Tetapi intinya, keberadaan lapak sangat mengganggu warga sekitar.

“Di lokasi juga ada kegiatan tempat pembuangan sampah rumah tangga sementara. Ini tentu sangat riskan dan mengganggu lingkungan selain dari bau juga tumpukan sampah yang datang dari luar komplek, yang terkadang dari hasil pemilahan tidak jarang yang kurang bagus dari hasil pemilahan di bakar dilokasi tersebut. Tentu saja ini sangat membahayakan warga sekitar, artinya telah mengganggu keamanan,” lanjutnya.

Dua pekan setelah kebakaran tepatnya tanggal 5 September, warga Vila Wadas Indah, kata Wiratno, perwakilan warga, juga telah melakukan pertemuan internal yang dihadiri pengurus RT untuk memberikan masukan terkait keberadaan lapak.

Musyawarah yang berlangsung sangat demokratis tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan. Pertama, warga menolak keberadaan lapak barang bekas di sekitar kompleks Vila Wadas. Warga Villa Wadas Indah sangat keberatan di bangun kembali penimbunan sampah pasca kebakaran, karena terdapat kerugian materiil yakni kebakaran sebagian rumah milik warga kompleks. Sedang kerugian immaterial yakni ketakutan atau trauma secara psikologis untuk lansia.

Kedua, warga meminta agar pemilik lapak hendaknya mentaati ketentuan yang mengatur tata pengelolaan sampah. Dalam hal ini aparat juga harus mensyaratkanh lebih ketat  lagi peraturan terkait tata kelola sampah dan lingkungan.

Ketiga,  warga juga meminta agar pengadaan hidran air disegerakan. Ini untuk mencegah terjadinya kebakaran di kompleks perumahan.

Sementara itu dari Babinsa AIPDA Lamberthes menyatakan bahwa terkait dengan penyelidikan, berdasarkan informasi terbaru diperoleh kesimpulan bahwa insiden kebakaran tidak ada unsur kesengajaan. Tetapi untuk mengantisipasi kejadian serupa, ke depan harus ditegakkan peraturan atau legalitas usaha, perencanaan usaha, SOP, peralatan yang harus dipenuhi dan lainnya.

Dari haril masyawaran tersebut, Lurah Jati Cempaka Amir, menyampaikan bahwa musyawarah yang dilakukan warganya untuk menemukan solusi terbaik bagi  masyarakat sebagaimana mestinya. Ia meminta pemilik lahan untuk benar-benar memperhatikan kepentingan warga sekitar saat akan menyewakan lahannya. “Kami mendukung hasil musyawarah ini demi keamanan dan ketertiban lingkungan,” kata Lurah.

Ia juga mengingatkan warga untuk memperhatikan kebersihan saluran air di sekitar tempat tinggal. Karena seringkali warga abai terhadap sampah yang berada di saluran air. “Mari kita sama-sama menjaga lingkungan terutama selokan air agar tidak penuh dengan sampah,” tutup Lurah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *