SATRES NARKOBA POLRESTA DEPOK CIDUK BEKAS ANGGOTA TNI AL LAGI NYABU – Poskota.co

SATRES NARKOBA POLRESTA DEPOK CIDUK BEKAS ANGGOTA TNI AL LAGI NYABU

Mantan anggota TNI AL, DLN(45/dua kiri), pegawai Pemkot Depok MSH(34/dua kanan) diamankan di Mapolsekta Depok karena terlibat penyalahgunaan narkotika jenis sabu.
Mantan anggota TNI AL, DLN(45/dua kiri), pegawai Pemkot Depok MSH(34/dua kanan) diamankan di Mapolsekta Depok karena terlibat penyalahgunaan narkotika jenis sabu.

POSKOTA.CO – Mantan anggota TNI yang pernah terlibat dalam kasus pembunuhan Direktur PT Aneka Sakti Bhakti (Asaba) pada 2003 lalu, kini kembali terjerat kasus hukum. Saat tengah menikmati narkoba bersama seorang temannya, mantan anggota TNI berpangkat kopral satu itu pun dibekuk aparat Satres Narkoba Polresta Depok.

Tertangkapnya mantan anggota TNI berisial DLN(45) ini berawal dari penangkapan MSH(34), pegawai Pemkot Depok. Penangkapan dilakukan aparat Satres Narkoba Polresta Depok di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Senin (8/5) lalu.

Wakil Kepala Polresta Depok Faizal Ramadhani mengungkapkan, DLN merupakan bekas anggota TNI Angkatan Laut berpangkat kopral satu. Ia pernah terlibat dalam kasus pembunuhan Direktur PT Asaba Boedyharto Angsono.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Depok Komisaris Putu Kholis Aryana menambahkan, DLN saat itu berperan membantu pelarian Kopda Marinir Suud Rusli, eksekutor pembunuhan Boedyharto Angsono. “Jadi yang bersangkutan yang menjemput Suud Rusli sesaat setelah mengeksekusi Direktur Asaba,” tutur Putu dalam konferensi pers, Jumat (12/5).

Meski tak terlibat langsung, Putu menyatakan, DLN pernah dihukum penjara setelah Polisi Militer Angkatan Laut Indonesia (Pomal) melakukan penyidikan. DLN pun dipecat atas perbuatannya itu. ?
Saat penggeledahan terhadap DLN, polisi mendapati sabu seberat 0,3 gram dari tangan DLN, sementara sabu seberat 0,26 gram diamankan dari MSH. Jaringan pemasok barang haram tersebut pun dibidik. Putu mengatakan, kedua tersangka merupakan tetangga satu kontrakan.

Kepada wartawan, DLM mengakui pernah menjadi anggota TNI berangkat kopral. DLN sempat juga menjawab pertanyaan wartawan dengan nada tinggi. Sementara itu, tersangka lainnya, MSH mengaku baru menggunakan sabu selama dua bulan. Dia mengklaim, tak ada lagi PNS lain yang ikut mengonsumsi sabu itu.

DLN mengaku menyesal karena terseret kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Kedua tersangka dikenakan Pasal 114 Ayat (2) Sub Pasal 112 Ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (*/arya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)