PROVOKATOR MEDSOS TANJUNGBALAI DICOKOK – Poskota.co

PROVOKATOR MEDSOS TANJUNGBALAI DICOKOK

POSKOTA.CO – Petugas Unit IV Subdit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mengamankan Ahmad Taufik (41), yang diduga menjadi provokator media sosial (medsos) terkait kerusuhan Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Taufik dicokok setelah menyebarkan informasi yang berisi ujaran kebencian di dua akun Facebook-nya sekaligus. Taufik diringkus di daerah Jakarta dengan kondisi tak berdaya tanpa pelawanan, karena Taufik sudah empat tahun sakit.

Wakil Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Hengki Haryadi mengatakan, pesan yang dituliskan Taufik tersebut berkaitan dengan kasus kerusuhan yang terjadi di Tanjungbalai, Medan pada 30 Juli 2016 lalu.

“Pelaku membuat akun Facebook menggunakan handphone menulis informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian dan SARA,” ujar Hengki kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa (2/8).

Taufik menuliskan ujaran kebencian tersebut sehari setelah kerusuhan Tanjungbalai terjadi, yaitu pada Minggu (31/7). Taufik menuliskan, “Tanjungbalai Medan rusuh 30 Juli 2016..!! 6 vihara dibakar buat saudara muslimku mari rapatkan barisan… Kita buat tragedi 98 terulang kembali #Allahu_Akbar…”.

Menurut Hengki, beberapa aksi bentrok yang terjadi selama ini selalu bermula dari ujaran kebencian terlebih dahulu, salah satunya seperti kejadian di Tanjungbalai kemarin.

“Hasutan dari media sosial membuat cepat proses konflik di TKP. Kita kaitkan di kasus Polda beberapa lalu seperti kerusuhan sopir taksi, suporter di GBK, dan ini (Tanjungbalai). Kerusuahan selalu didahului dengan asutan di media sosial,” ucap Hengki.

Tidak Puas
Di tempat yang sama, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Awi Setiyono menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka menuliskan ujaran kebencian tersebut karena merasa tidak puas dengan pemerintah saat ini.

“Alasannya dari hasil pemeriksaan karena adanya ketidakpuasan dengan pemerintah sekarang, karena ekonomi dan harga-harga mahal,” jelas Awi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.