PRIA TANPA IDENTITAS TEWAS DITIKAM KAWANAN PENODONG DI JEMBATAN BESI TAMBORA – Poskota.co
Wednesday, September 20

PRIA TANPA IDENTITAS TEWAS DITIKAM KAWANAN PENODONG DI JEMBATAN BESI TAMBORA

Seorang pemuda belum diketahui identitasnya menjadi korban penodongan disertai penikaman dengan empat luka tusuk di punggungnya, yang terjadi di Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (30/4) dinihari WIB.
Seorang pemuda belum diketahui identitasnya menjadi korban penodongan disertai penikaman dengan empat luka tusuk di punggungnya, yang terjadi di Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (30/4) dinihari WIB.

POSKOTA.CO – Sub Unit Buru Sergap (Buser) Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Tambora Polres Metro Jakarta Barat, dalam waktu singkat berhasil membekuk satu dari dua kawanan penodong yang mengakibatkan korban tewas di Jl Jembatan Besi III, Kelurahan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (30/4) dinihari WIB.

IS, pelaku penodongan di Jl Jembatan Besi III, Kelurahan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (29/4) dinihari WIB, diringkus Buser Polsek Tambora.
IS, pelaku penodongan di Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (30/4) dinihari WIB, diringkus Buser Polsek Tambora.

Kapolsek Tambora Jakarta Barat Kompol M Syafi’i SIK didampingi Kanit Reskrim AKP Antonius menjelaskan, anggotanya berhasil menangkap pelaku penodongan berinisal IS saat melarikan diri ke Arah Gang ‘RR’ Jembatan Besi.

Sementara dua teman pelaku lainnya AL (22) dan SM(21) buron, dan masih pengejaran dan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Sementara identitas korban yang diperkirakan berusia 35 tahun itu masih belum diketahui.

Peristiwa yang menggegerkan warga di pagi buta itu berawal saat saksi yang merupakan pedagang pecel lele di sekitar lokasi, saat hendak menutup dagangannya melihat korban dikeroyok oleh tiga laki-laki remaja yang tidak dikenal.

Pada saat itu saksi mendengar hardikan pelaku kepada korban, “anak mana luh”. Belum sempat menjawab, kemudian korban dipukuli para pelaku.

Korban berusaha menghindar dengan berlari, namun pelaku terus diburu dua orang pelaku lainnya dengan melakukan penikaman menggunakan senjata jenis clurit tepat mengenai punggung sebelah kiri.

Korban pun ambruk dan tewas bersimbah darah dengan empat luka tusukan persis di luar tenda dagangan milik saksi. Kemudian saksi melihat para pelaku mengambil dompet dan membuka tas ransel korban namun tidak diambilnya.

Melihat korbannya tak bergerak, para pelaku kemudian kabur ke arah Gang’RR’ Jembatan Besi.

Warga yang mendengar keributan di luar, segera mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), dan melihat posisi korban sudah tidak bernyawa.

Setelah mendapat laporan dari warga, selanjutnya petugas dari Polsek Tambora mengidentifikasi jasad korban, dan didapati empat luka tikaman di bagian punggung sebelah kiri.

Kemudian tanpa membuang waktu, anggota dari Sub Unit Buser Reskrim Polsek Tambora segera melakukan pengejaran, dan berhasil meringkus satu pelaku. Sedangkan dua pelaku lainnya masih dalam pengejaran Tim Buser Polsek Tambora Jakarta Barat.

Dalam catatan kepolisian, pelaku berinisial SM (21) ternyata pernah dibui atas kasus yang sama, dan pada tahun 2015 pelaku divonis bebas setelah menyelesaikan masa hukuman di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba.

Kini tersangka SI mendekam di balik jeruji besi Mapolsek Tambora, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelaku dijerat Pasal 365 KUHP jo 338 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. (*/hariri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.