POLISI JOMBANG TEMBAK PELAKU PENCURIAN – Poskota.co

POLISI JOMBANG TEMBAK PELAKU PENCURIAN

Pembunuh
ilustrasi

POSKOTA.CO – Aparat Kepolisian Resor Jombang, Jawa Timur, menembak seorang pelaku pencurian bernama Sup (31) asal Desa Candimulyo, Kecamatan Jombang Kota, sebab melawan petugas saat hendak ditangkap.

“Pelaku ini hendak kabur saat akan kami tangkap, sehingga kami terpaksa melumpuhkannya,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jombang AKP Wahyu Hidayat di Jombang, Jumat.

Ia mengatakan, pelaku merupakan seorang residivis. Ia pernah terlibat dalam berbagai kasus kejahatan yang terjadi di sejumlah desa di Kabupaten Jombang. Beberapa kasus itu bahkan sampai melukai korbannya.

Pelaku, kata dia, pernah terlibat dalam kasus perampasan sepeda motor di jalan Desa Plosogeneng, Jombang. Pelaku bahkan memukul korbannya dengan balok kayu hingga korbannya meninggal dunia.

Walaupun dihukum penjara, pelaku kembali melakukan kejahatan di sejumlah lokasi. Ia diketahui merampas tas seorang ibu di Kecamatatan Tambakeras, Kabupaten Jombang, hingga ia dibebaskan awal 2015 dan kembali melakukan kejahatan.

Terakhir, pelaku diketahui terlibat dalam pencurian telepon seluler milik warga di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Kasus itu dilaporkan ke polisi dan petugas pun mengusutnya.

Dari berbagai hasil pemeriksaan serta olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi mengetahui pelaku adalah Sup. Aparat pun mengincar pelaku dan berupaya menangkapnya. Namun, saat akan ditangkap pelaku berusaha untuk kabur, sehingga kaki pelaku terpaksa ditempat petugas.

Selain membekuk Sup, polisi juga menahan Suy,40, warga Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan. Dari hasil pemeriksaan polisi, Suyitno terlibat sebagai penadah barang-barang hasil curian yang dilakukan oleh Sup. Polisi pun terus mengembangkan kasus ini, sebab diduga masih ada pelaku lain yang terlibat dan belum tertangkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)