POLISI ISLAM PUN DIANGGAP KAFIR – Poskota.co

POLISI ISLAM PUN DIANGGAP KAFIR

identitas pembom Mapolresta Solo
identitas pembom Mapolresta Solo

POSKOTA.CO – Mudahnya mengkafirkan orang yang tak sepaham, sehingga menyebut polisi pun kafir. Maka doktrin para teroris polisi sebagai target utamanya. Hal itu dibuktikan dalam aksi di Mapolresta Solo Jateng.

Komisaris Jenderal Tito Karnavian Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan, polisi dianggap sebagai kafir, karena memerangi perbuatan mereka.

Doktrin yang dianut membuat para militan teroris menyasar polisi sebagai musuh utama. Padahal, banyak polisi yang beragama Islam, tetap saja jadi sasaran.

“Nur Rohman pelaku bom di Mapolresta Solo ini pernah ikut JAKDN (Jamaah Anshar Khilafah Daulah Nusantara), bergabung juga dengan kelompok Arif Hidayatullah di Bekasi,” kata Tito saat menghadiri open house Panglima TNI di Balai Sudirman, Tebet, Rabu, 6 Juli 2016.

Nur Rohman tak terkait langsung dengan kelompok Bahrun Naim yang merencanakan serangan ke Thamrin, Januari 2016. “Dia lebih ke serangan saat Natal dan tahun baru, tapi berhasil kita gagalkan. Delapan tertangkap, tapi cuma satu ini (Nur Rohman) yang lolos,” ujarnya.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pun sudah memastikan Nur Rohman adalah bagian dari JAKDN. Jaringan itu, menurut Badrodin, terafiliasi dengan kelompok radikal ISIS di Timur Tengah.

Aksi Nur Rohman yang membawa bom daya ledak rendah sambil mengendarai motor matic, melukai Brigadir Bambang Adi Cahyo dari Polresta Surakarta. Bambang terluka di bagian wajah saat mencoba mencegat Nur Rohman yang menerobos masuk ke halaman polres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_445" align="alignleft" width="300"] Kuasa hukum pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Surjadi Sumawiredja dalam pilkada Jawa Timur 2013, Kenny Hasibuan, menunjukkan surat yang akan diberikan kepada Mendagri Gamawan Fauzi di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (3/2). (ANTARA)[/caption] POSKOTA.CO - Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Suryadi Sumawiredja meminta Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi membatalkan jadwal pelantikan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) terpilih Soekarwo-Saifullah Yusuf, 12 Februari 2014. "Kami ke sini untuk menemui Mendagri guna menjelaskan permohonan klien kami (Khofifah-Herman) untuk tidak melantik pasangan Soekarwo-Saifullah," kata Kuasa Hukum Khofifah, Romulo HSA Silaen, di Jakarta, Senin. Menurut Romulo, permohonan pembatalan pelantikan ini karena ada pernyataan dari Akil (mantan Ketua MK Akil Mochtar) bahwa dalam putusan panel yang dimenangkan adalah Khofifah-Herman. "Ini karena ada statement dari Pak Akil bahwa dalam putusan panel yang dimenangkan adalah Khofifah, kenapa setelah Akil ditangkap, putusan itu berubah. Ada yang merugikan klien kami," katanya. Selain itu, Romulo menilai, MK telah melanggar undang-undang MK, yang tidak melibatkan ketua dalam RPH. "Ada cacat hukum dari putusan MK, pertama tidak melibatkan Akil sebagai ketua panel, dan tidak sesuai isi putusan panel yang diputus oleh panel sebelumnya, yang 3 orang itu, Akil, Maria, Anwar Usman, ini melanggar pasal 28 ayat 1 Undang-Undang MK, yaitu diputuskan oleh 9 atau dalam keadaan luar biasa 7 orang, dan dipimpin oleh ketua MK, putusan itu tidak melibatkan Akil dan putusan itu berbeda dengan putusan panel yang ditetapkan sebelumnya," katanya. Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Dedy Suprayitno mengatakan hingga saat ini  belum ada rencana pengunduran pelantikan Soekarwo-Saifullah Yusuf pada 12 Februari 2014. "Rencana itu masih berjalan, pelantikan sudah direncanakan, belum ada (pengunduran)," kata Dedy. (djoko/ant)