POLISI BEKUK PENCULIK NENEK SUMARMINAH – Poskota.co

POLISI BEKUK PENCULIK NENEK SUMARMINAH

Solehudin alias Joko (32/tengah), penculik nenek Sumarminah saat digiring ke Mapolresta Depok, Rabu (4/1) malam.
Solehudin alias Joko (32/tengah), penculik nenek Sumarminah saat digiring ke Mapolresta Depok, Rabu (4/1) malam.

POSKOTA.CO – Setelah menjadi buronan Tim Jatanras Polda Metro dan Satreskrim Polresta Depok, Solehudin alias Joko (32), pelaku penculikan nenek Sumarminah (65) yang terjadi pada 27 Desember 2016, akhirnya diringkus.

Penculik yang meminta tebusan Rp10 juta kepada keluarga korban ini dicokok polisi saat sedang santap malam di rumah kerabatnya di Desa Cinangneng, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Rabu (4/1) malam.

Wakasat Reskrim Polresta Depok Ajun Komisari Polisi (AKP) Malvino Sitohang mengatakan, tertangkapnya pelaku oleh jajarannya dan Polda Metro terjadi setelah adanya upaya menghubungi Solehudin. Polisi yang menyamar sebagai anak korban, menjanjikan akan menyerahkan uang tebusan Rp7 juta dari Rp10 yang diminta sebelumnya.

Selanjutnya, pelaku yang telah terpancing pun menyetujui pertemuan itu dengan mengarahkan petugas yang menyamar itu menuju sebuah tempat di wilayah Cinangneng, Bogor. Setelah tiba di lokasi, puluhan anggota polisi ini yang sebelumnya telah mengecek sinyal telepon korban, langsung meringkus pelaku.

“Awalnya, pelaku bersikukuh minta uang Rp10 juta. Tapi setelah dibujuk dan ditawarin uang Rp7 juta, pelaku pun bersedia, dan kami pun diarahkannya untuk bertemu ke wilayah Parung,” tegas Malvino di Mapolresta Depok.

Malvino menambahkan, saat ditangkap, pelaku tengah menyantap makan malam. Sebelum dibawa ke Mapolresta Depok, pelaku pun diberi kesempatan untuk menyelesaikan santap malamnya itu.

Pada saat bersamaan, para anggota polisi berseragam pun datang dan menunjukkan surat penangkapan terhadap Solehudin yang terlibat penculikan seorang nenek diserta ancaman permintaan uang tebusan sebesar Rp10 juta.

“Biar keluarganya tidak bertanya-tanya kenapa Solehudin, kami bawa ke Polres. Sempat diberikan waktu lima menit untuk minum sebelum kami bawa. Apalagi pelaku kan habis makan tidak mungkin langsung dimasukkan ke dalam mobil,” ujar Malvino.

Malvino lebih lanjut memaparkan, dari hasil penyidikan dan pengakuan pelaku sementara ini, Solehudin menjemput Sumarminah pada 27 Desember 2016, dari rumah Sumarminah di Perumahan Bukit Cengkeh Berbunga, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya. Penjemputan itu dikarenakan antara pelaku dan korban memang sudah saling mengenal, terlebih lagi antara korban dan pelaku ada urusan peminjaman sejumlah uang. Namun untuk masalah utang-piutang ini, polisi masih mendalami kasusnya.

“Dugaan kami masih masalah utang-piutang, tetapi masih didalami lagi. Pelaku yang menjemput korban dengan motor, karena mereka sudah janjian. Dari pelaku kami menyita telepon selular milik korban. Antara pelaku dan korban, memang sudah saling mengenal,” jelas Malvino. (*/arya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.