POLDA RIAU UNGKAP SINDIKAT PROSTITUSI ONLINE LIBATKAN ANAK BAWAH UMUR – Poskota.co

POLDA RIAU UNGKAP SINDIKAT PROSTITUSI ONLINE LIBATKAN ANAK BAWAH UMUR

POSKOTA.CO – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah Riau mengungkap praktik prostitusi melalui media sosial dalam jaringan (online), Facebook, yang melibatkan anak di bawah umur. Tiga muncikari menjadi tersangka, dan dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak dengan acaman hukuman 10 tahun penjara.

Direktur Kriminal Umum Polda Riau Kombes Pol Surawan dalam keterangannya di Pekanbaru, Rabu (21/9), mengatakan, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 296 atau 506 KUHP. “Ketiga tersangka diancam hukuman 10 tahun penjara,” kata Surawan.

Ketiga tersangka, ujar Surawan, terdiri dari dua pria dan seorang wanita itu ditangkap pada Selasa (20/9) malam di sebuah hotel berbintang di Kota Pekanbaru yakni, RT alias Edo (20), DDS alias Odi (18) merupakan tersangka pria yang diamankan, dan N (20) wanita muncikari yang terlibat sindikat tersebut.

Dari pengungkapan tersebut, polisi juga menyelamatkan lima orang korban yakni, G (17), D (16), W (19), T (18) dan L (19).

Pengungkapan sindikat prostitusi dalam jaringan (daring) tersebut berawal dari temuan sebuah akun Facebook dengan nama ‘Alvin Maulana’. Akun tersebut berhasil dilacak oleh tim Cyber Patrol Subdit III Ditreskrimum Polda Riau, beberapa waktu lalu.

Dari penelusuran tim Cyber Patrol, akun tersebut kerap menjajakan wanita-wanita di bawah umur untuk dijadikan pemuas nafsu. “Tim kemudian melakukan upaya under cover buy atau penyamaran,” urai Surawan.

Setelah negosiasi dengan RT disetujui, tersangka kemudian membawa dua wanita yang masing-masing berusia 16 dan 17 tahun. Untuk kedua gadis di bawah umur itu, RT meminta bayaran sebesar Rp6 juta. “Saat itu juga, kami langsung ciduk tersangka RT. Sementara wanita yang dibawa RT kami jadikan saksi,” ujar Surawan.

Tidak berhenti sampai di situ, polisi kembali melakukan pengembangan hingga ditangkap dua muncikari lainnya yakni Odi dan N. Pemeriksaan sementara, ketiga tersangka adalah jaringan yang sama, dan telah menjalankan praktik prostitusi selama enam bulan terakhir.

“Total korban para tersangka sejauh ini ada lima orang. Dua di antaranya masih di bawah umur dan tiga lainnya berusia 18 dan 19 tahun. Kami terus melakukan pengembangan terkait kasus ini,” tutur Surawan.

“Dalam Setiap kali transaksi, muncikari memberikan upah sebesar Rp700 ribu-Rp 1 juta pada korban. Itu tergantung tarif yang disepakati. Meski dari pengakuan mereka tarif yang dipatok Rp3 juta,” tambah Surawan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.