PENCULIK MAHASISWI KEDOKTERAN UNSOED TERTANGKAP, KORBAN MASIH SYOK – Poskota.co

PENCULIK MAHASISWI KEDOKTERAN UNSOED TERTANGKAP, KORBAN MASIH SYOK

POSKOTA.CO – Seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Angkatan 2014 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Sofia Nur Atalina (20), yang dilaporkan diculik sekitar pukul 15.20 WIB oleh sejumlah orang tak dikenal saat memfotokopi berkas tugas kuliah di dekat kampusnya pada Rabu (7/9), telah ditemukan.

Aparat Polres Banyumas, Jawa Tengah, berhasil menangkap salah seorang pelaku di Dusun Cipari, Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran pada Rabu (7/9) malam sekitar pukul 22.45 WIB. Petugas menembak kaki pelaku karena berusaha kabur saat penangkapan.

Berdasarkan keterangan polisi, tersangka penculikan bernama Wahyu Pudiyanto (24), warga Gumelem, Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Saat penangkapan, pelaku menggunakan kendaraan milik korban Honda Brio berwana merah dengan nomor polisi R 9243 BK. Korban berada di dalam mobil yang dikendarai oleh pelaku. Korban saat ini sudah dalam pengamanan polisi.

Menurut keterangan tersangka kepada polisi, ia melakukan kejahatan bersama empat orang temannya yang bernama Oo, Pepen, Dion (Sidareja) dan Wulung (Banjarnegara). Sebellum melakukan aksinya, mereka bertemu di Komplek Rumah Sakit Banyumas. Kemudian menuju ke RS Margono dekat Kampus Kedokteran Purwokerto dengan menggunakan kendaraan L300. Mereka kemudian melakukan penculikan serta perampasan kendaraan roda empat milik korban.

Para pelaku melakukan pemerasan terhadap korban dengan cara memaksa korban memberitahukan PIN ATM BNI 46 milik korban. Setelah itu para pelaku meminta agar keluarga korban mentransfer sejumlah uang.

Menurut Kapolres Banyumas AKBP Gidion Arif Setyawan, sebelumnya pelaku sempat menelepon keluarga mahasiswi Unsoed itu untuk meminta uang tebusan sebesar Rp60 juta. “Pelaku sempat menelepon keluarga korban minta uang tebusan,” ujar Kapolres, Kamis (8/9).

Dalam pelariannya, para pelaku dengan kendaraan milik korban berputar-putar di daerah Patikraja menuju Sidareja ke arah Pangandaran. Sesampai di Kalipucang pelaku dihalau oleh Polsek Kalipucang, dan akhirnya tertangkap di Dusun Cipari, Desa Bojongsari, Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Polisi juga menyelamatkan korban dan diamankan di Mapolsek Kalipucang Pangandaran. Korban saat ini masih syok.

Atas perbuatannya tersebut, pelaku dijerat Pasal 328 KUHP tentang Penculikan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Sementara tersangka penculik lainnya masih dalam pengejaran aparat kepolisian. “Kami masih mengejar empat pelaku yang melarikan diri. Pelaku saat ini diamankan di Mapolres Banyumas berikut barang bukti satu unit mobil Honda Brio warna merah bernopol R 9243 BK milik korban,” pungkas Gidion. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.