PEMBUNUH PEMILIK TOKO KELONTONG TERNYATA PASANGAN SESAMA JENIS – Poskota.co
Wednesday, September 20

PEMBUNUH PEMILIK TOKO KELONTONG TERNYATA PASANGAN SESAMA JENIS

POSKOKOTA.CO – Dalam waktu singkat, aparat kepolisian berhasil mengungkap pembunuhan Sumarmin (40), pemilik toko kelontong di Pondok Pucung Indah I, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Pelaku ternyata adalah pasangan sesama jenis korban.

Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan, motif pelaku membunuh korban dilatarbelakangi masalah hubungan asmara antara korban dengan pelaku, Jacobus Putu S (33).

“Korban mengajak hubungan intim dan ditolak pelaku saudara Putu, akhirnya cekcok mulut, dan tersangka Putu dikata-katain korban hingga tersinggung,” jelas Hendy dalam keterangannya, Selasa (13/9).

Jacobus Putu S (33), pelaku pembunuh pemilik toko kelontong di Pondok Aren, Tangsel.
Jacobus Putu S (33), pelaku pembunuh pemilik toko kelontong di Pondok Aren, Tangsel.

Pelaku ditangkap oleh tim gabungan dari Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Polres Tangsel dan Polsek Pondok Aren pimpinan Kompol Awaludin Amin, pada Selasa (13/9) pagi di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro Sektor IX.

Pembunuhan berawal ketika korban datang ke lokasi pada Kamis (8/9) sekitar pukul 21.30 WIB. Korban saat itu menutup warungnya, kemudian berhubungan intim dengan pelaku selama setengah jam.

Tetapi korban kemudian mengajak pelaku untuk berhubungan intim kembali, namun ditolak pelaku. Pelaku pun kesal hingga terjadi cekcok mulut dengan korban yang mengata-ngatai pelaku.

Pelaku pun tersinggung dan kemudian kalap. Ia kemudian pergi ke dapur untuk mengambil sebilah pisau.

“Tersangka mengambil pisau dapur dan kemudian menusuk dada korban, kemudian korban berontak lalu dipukul dengan panci, lalu korban ditusuk lagi lehernya dan dibekap dengan bantal hingga korban meninggal,” jelas Hendy.

Setelah membunuh korban, pelaku kemudian mengambil uang Rp500 ribu dari laci, serta sejumlah rokok. Setelah membunuh korban, pelaku kemudian membuang celana, sandal dan pisau di rumah kosong.

“Selanjutnya pada hari Jumat pagi Putu meminjam mobil ke H Dani. Setelah itu pelaku menjemput pacar perempuannya di Alf Misi,” sambung Hendy.

Setelah itu pelaku melarikan diri ke Klaten, Jateng. Setelah sampai di Yogyakarta, pelaku menjual handphone miliknya di sebuah counter di kawasan Yogyakarta.

“Pelaku sempat bersembunyi di rumah tantenya,” ujar Hendy.

Selanjutnya dari Yogyakarta, pelaku kembali ke Jakarta dan tiba sekitar pukul 12.00 WIB pada Jumat itu.

Tetapi kemudian jejak pelarian pelaku berakhir. Pelaku ditangkap di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro Sektor IX. Pelaku saat ini masih diperiksa intensif. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.