LUKAI TIGA KORBAN, POLISI RINGKUS PERAMPOK DI BANDARA HANG NADIM – Poskota.co

LUKAI TIGA KORBAN, POLISI RINGKUS PERAMPOK DI BANDARA HANG NADIM

POSKOTA.CO – Anggota Kepolisian Resor Kota (Polresta) Barelang Kota Batam berhasil meringkus AS, terduga perampokan di Bida Asri Batam Kota saat berada di Bandara Internasional Hang Nadim, Kamis sore.

“AS ditangkap di Bandara Hang Nadim saat hendak kabur,” kata Kasatreskrim Polresta Barelang Kompol Memo Ardian di Batam, Kamis (29/9) malam.

Memo mengutarakan, AS terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas pada bagian kaki karena mencoba kabur saat dibawa untuk pengembangan kasus perampokan yang terjadi pada Kamis pagi tersebut.

“Saat ini terduga pelaku AS masih diperiksa oleh penyidik di Polresta Barelang untuk mengetahui motif perampokan yang dilakukan,” kata Kompol Memo.

“Polresta Barelang masih terus mengembangkan kasus perampokan dengan melukai tiga korban tersebut sehingga bisa diungkap dengan tuntas,” sambung Memo.

Kejadian bermula pada Kamis (29/9) sekitar pukul 08.00 WIB terjadi perampokan di Perumahan Bida Asri 1 Blok D Batam Kota, Kota Batam, diduga dilakukan tiga pelaku yang akhirnya kabur setelah melukai tiga orang dalam rumah sasaran.

Menurut saksi di lokasi, satu orang pelaku perampokan awalnya turun dari sebuah mobil sedan menghampiri rumah sasaran, dan disambut pemilik rumah bernama Ho Djoe Liong (60) yang berjualan kelontongan. Tiba-tiba korban terlibat perkelahian dengan pelaku di depan tokonya.

Sementara itu anak dari korban, Noriven (28) menjelaskan, ada tiga korban yang terluka dalam kejadian tersebut. Selain bapaknya yang luka di pelipis mata, ibunya bernama Gwat Ha (53) luka di telinga, dan adiknya Noriren Afrita Sari Ho (24) luka di bagian kepala belakang.

“Saya tidak tinggal di sini (Bida Asri-red), mendengar ada perampokan saya bergegas. Perampok sepertinya dilawan bapak saya, sehingga terjadi perkelahian hingga luka. Ibu dan adik saya juga luka dianiaya,” jelas Noriven.

Kapolsek Batam Kota Kompol Arwin mengatakan, kemungkinan perampokan dilakukan oleh tiga pelaku menggunakan satu mobil. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara