INTANNN..INTAAAAN, JANGAN TINGGALKAN MAMAKMU… – Poskota.co
Saturday, September 23

INTANNN..INTAAAAN, JANGAN TINGGALKAN MAMAKMU…

POSKOTA.CO – Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang, ketika melihat Grafik detak jantung di layar monitor mesin EKG terlihat semakin melemah.

Bumi mini terasa runtuh, kedua orangtua Intan, yang kena lemparan Bom Molotov akhirnya berpulang ke rumah Bapa. Keduanya bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya.

Kepala mereka tertunduk ditepi ranjang sambil menangis panjang manggil nama anaknya, “Intann….intan, jangan tinggalkan mamak naak, boru sainannnn, Intaannn….,” seakan ibunya tak rela pergi mendahului untuk selamanya.
Di ruang ICU itu menjadi pertemuan terakhir.

Intan, bocah berusia 2 tahun korban bom molotov
Intan, bocah berusia 2 tahun korban bom molotov

Intan Olivia Banjarnahor,2,5, Anita Kristobel Sihotang,2, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga,4, Triniti Hutahaya,3, bersama anak anak sekolah minggu lainnya tampak sangat ceria pagi itu.

Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang dibawa orangtuanya ikut kebaktian ke gereja. Hal biasa saat orang tua sedang beribadah, anak anak kecil ini bermain di halaman gereja. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang sebelumnya telah selesai beribadah sekolah minggu.

Selamat jalan ananda Intan Olivia. Betapa berat 14 jam penderitaanmu itu. Api membakar kulit dagingmu hingga wajah cantikmu berubah mengerikan. Luka gosong sekujur tubuhmu begitu mengerikan.

Kini, Tuhan mendekapmu. Mendekap sejuk dan teduh jiwamu yang terbang bersama para malaikat. Kini tubuh gosongmu cantik kembali. Bumi ini bukanlah tempatmu bermain lagi. Surgalah tempatmu bermain bersama teman temanmu dari seluruh bangsa.

Ketua DPD RI Mohammad Saleh mengecam keras aksi teror ini. “Penyerangan terhadap Gereja Oikumene di Samarinda ketika umat sedang beribadah pada hari Minggu, 13 November 2016, merupakan tindakan tidak beradab yang mengganggu stabilitas dan mencoreng wajah bangsa kita.

Pelaku yang ditangkap
Pelaku yang ditangkap

Terkait kasus pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda, Polisi kembali mengamankan lima orang diduga terlibat teror tersebut. Kelima terduga pelaku berhasil diringkus usai peristiwa nahas tersebut terjadi.

Menurut Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, teror tersebut dilakukan oleh orang orang jaringan lama, “para pelaku merupakan kelompok jaringan lama yakni Pepi Fernando.

Salah satuya yakni (J), yang merupakan residivis pelaku bom di Serpong, Tangerang Banten. (J) diamankan pada saat kejadian. namun ada lima orang lagi diduga pelaku lain yang sudah ditangkap dan dalam penyidikan lebih lanjut,” ujar Kapolri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.