oleh

‘Sexual Consent’ Berdasar Persetujuan adalah Haram

ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “ … janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang terburuk”. (QS. Al-Isra, ayat 32). “ … Pezina perempuan dan pezina laki-laki masing-masing mereka hendaklah kamu hukum dera seratus kali, dan janganlah kamu dipengaruhi oleh rasa belas-kasihan terhadap hukum Agama Allah, jika kamu sungguh-sungguh beriman kepada Allah dan hari kiamat. Hukuman itu hendaklah disaksikan oleh sejumlah kaum Muslimin”. (QS. An-Nur ayat 2).

Istilah Sexual Consent pada waktu akhir-akhir ini menghangat dibicarakan orang dan terbaca dalam medsos. Konsep Sexual Consent, pendidikan seksual berdasarkan persetujuan atau yang beradasarkan kesepakatan suka sama suka, adalah bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya Indonesia atau adat timur dan ini akan memberikan peluang seluas-luasnya bagi kebebasan seksual.

Dengan demikian Sexual Consent berarti sama dengan protitusi, pelacuran. Karena protitusi juga melakukan hubungan badan dengan kesepakatan, transaksi, suka sama suka tanpa ikatan pernikahan. Bisa jadi istilah “sexual consent” ini adalah penjelmaan dari “free-sex”, kata “free-sex” berasal dari kata “free-sexuil intercourse” artinya hubungan seksual yang bebas. Jelas ini adalah perzinahan, dan perzinahan adalah haram.

Sexual Consent adalah bertentangan dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 3 dan 5, dan Undang-Undang Sisdiknas. Dimana tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa.

Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang menghalalkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan tanpa ikatan perkawinan atau nikah. Inilah perbedaan yang prinsipil antara binatang dan manusia. Binatang bila sudah dewasa, maka ia akan mencari teman hidup sendiri dan melakukan hubungan seksual tanpa diajarkan, karena ia didorong oleh suatu naluri untuk memelihara keturunan. Binatang secara fitrah mematuhi hukum alam. Binatang tidak diberi Allah akal dan mereka akan dipimpin dan dibimbing oleh Allah sendiri secara langsung.

Berbeda dengan manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling baik dan sempurna, baik bentuk dan susunan tubuhnya, manis mukanya dan jiwanya. Allah memberi manusia akal, yang memungkinkan dia menjadi khalifah di muka bumi ini. Dia dapat menguasai binatang dan tumbuh-tumbuhan, dan dapat memanfaatkan segala yang diciptakan Allah untuknya, bahkan bumi ini diserahkan Allah kepadanya.

Dalam soal hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, Allah memberikan peraturan, petunjuk, dan pelajaran buat mereka, inilah yang dikenal sebagai pendidikan seks (sexual-education), yaitu Allah mengharamkan hubungan seks diantara laki-laki dan perempuan tanpa pernikahan atau seks bebas atau seks suka sama suka atau seks atas dasar persetujuan. Jadi manusia yang melakukan hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, berarti sama dengan binatang, bahkan lebih rendah lagi, karena binatang berbuat secara fitrah, tetapi manusia dengan melanggar hukum Allah.

Sexual contens adalah perbuatan yang keji dan dimurkai Allah karena Sexual Contens merupakan nama lain dari free sex, free sex adalah perzinaan, perzinaan adalah haram dalam hukum Islam, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw, “ … tidak ada suatu dosa sesudah syirik di sisi Allah yang lebih besar daripada seseorang laki-laki yang meletakkan maninya ke dalam rahim perempuan yang tidak halal baginya”. (Kitab Ibnu Katsir, Juz 3: 283).

Dari Abu Umamah r.a dia berkata, “Seorang pemuda datang kepada Nabi Saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku melakukan zina.’ Maka para sahabat datang kepadanya dan menghardiknya. Para sahabat tersebut berkata kepada pemuda tersebut, ‘Diam, diam!’ maka Rasulullah Saw. bersabda kepada pemuda itu, ‘Mendekatlah kepadaku’, maka pemuda itu mendekat ke arah Rasulullah. Setelah dekat, Rasulullah berkata, ‘Apakah engkau suka (ingin} berzina dengan ibumu?’ Pemuda itu menjawab. ‘Demi Allah yang telah menciptakanku, aku tidak ingin (mungkin) melakukannya.’ Selanjutnya ia berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak mungkin ingin melakukan perzinaan dengan ibu mereka’.

Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan putrimu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda itu berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak menyukai untuk berzina dengan anak perempuan mereka.’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan saudara perempuanmu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda itu berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak mencintai untuk berzina dengan saudara perempuan mereka.’

Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan bibi dari bapakmu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda itu berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak akan menyukai untuk berzina dengan bibi dari bapak mereka.’ Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mau berzina dengan bibi dari ibumu?’ Pemuda itu berkata, ‘Demi Allah yang telah menciptakan aku, aku tidak menyukainya.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Seluruh umat manusia tidak akan menyukai berzina dengan bibi dari ibu mereka’.”

Abu Umamah selanjutnya berkata, “Maka Rasulullah Saw. lalu meletakkan tangannya ke pundak pemuda itu sambil bersabda, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.’ Akhirnya pemuda tersebut tidak macam-macam lagi dan menjadi pemuda yang baik.” (HR, Muslim).

Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian berbuat zina, karena sesungguhnya perbuatan zina itu mengandung empat perkara, yaitu: dapat melenyapkan wibawa dari penampilan, dapat memutuskan rezeki, dapat membuat murka Allah Yang Maha Pemurah, dan mengharuskan tinggal abadi di neraka (bila orang yang melakukannya menganggap halal perbuatan zina).” (HR. Thabrani melalui Ibnu Abbas r.a.).

Pengertian kalimat, “Dan memastikan pelakunya masuk neraka untuk selama-lamanya” dengan suatu ketentuan, yaitu bila orang yang bersangkutan menghalalkan perbuatan zinanya itu. Akan tetapi, jika ia tidak menghalalkannya, maka ia tidak menghuni neraka untuk selama-lamanya, melainkan ada batasannya sesuai dengan kadar dosa-dosanya.

Maka sexual consent atau hubungan seksual antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan suka sama suka atau berdasarkan persetujuan tidak ada kekerasan kedua belah pihak tanpa ikatan perkawinan atau free sex, jelas diharamkan dalam Islam dan dilarang di semua agama pun. Free sex akan mengakibatkan anak-anak zina, anak diluar nikah, penyakit kelamin, penyalahgunaan alat-alat/obat-obat anti hamil, merusak akhlak dan budi pekerti.

Free-sex hanya dapat dihalangi dengan meningkatkan pendidikan agama terhadap diri kita sendiri, istri dan anak-anak kita, memimpin anak-anak kearah jalan yang benar dengan memberi contoh yang baik, mengawasi anak-anak dan istri supaya jangan terjerumus ke dalam dunia free-sex, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merangsang seksual, seperti buku-buku pornografis, dan seumpamanya. Wallahu A’lam bish Showab.

Karsidi Diningrat
*Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Angota PB Al Washliyah di Jakarta.
*Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar