oleh

Masjid Merupakan Penyelamat dari Azab Allah

MASJID adalah tempat memupuk iman kepada Allah Swt. Masjid adalah pangkal dari iman, ilmu dan amal. Masjid adalah sumber motivasi dan tekad untuk berbakti kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya, dimulai dengan mendirikan shalat, melaksanakan rukun Islam dan mengimplementasikan rasa dan hasil keluhuran kehendak dari manusia yang bertaqwa. Pangkal dari gerak pikiran, gerak rasa dan gerak kehendak yang baik dimulai di dalam masjid.

Masjid adalah rumah Allah yang dibangun atas dasar taqwa, yakni rumah rahmat, pertolongan, dan kebaikan-Nya karena mustahil Allah mempunyai tempat. Barang siapa yang menziarahi rumah Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi Allah untuk menghormati orang-orang yang berkunjung kepada-Nya di dalam masjid-masjid, yaitu Dia akan mencurahkan rahmat, pertolongan, dan kebaikan-Nya kepada mereka yang berziarah ke masjid. Salah satu penghormatan bagi orang yang sering bolak-balik masjid dalam rangka shalat jamaah di dalamnya ialah orang tersebut dijuluki sebagai orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya Aku benar-benar akan menimpakan azab kepada penduduk bumi, tetapi apabila Aku memandang kepada orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku (masjid-masjid) dan orang-orang yang saling menyayangi demi karena Aku, serta orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur, maka Aku kesampingkan azab-Ku dari mereka.” (HR. Baihaqi melalui Anas r.a.).

Ada tiga golongan orang yang menyebabkan dunia ini selamat dari murka Allah Swt. bila Dia murka. Mereka adalah orang-orang yang meramaikan masjid dengan zikir, salat, dan membaca Qur’an. Golongan kedua adalah orang-orang yang saling mengasihi di antara sesama mereka karena Allah Swt. Dan golongan yang ketiga ialah orang-orang yang shalatul lail pada waktu sahur seraya memohon ampun kepada Allah. Makna dari hadits ini, apabila Allah murka dan hendak menimpakan azab kepada penduduk dunia, lalu Dia memandang kepada ketiga golongan orang tersebut, maka azab itu dicabut-Nya kembali.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. apabila menurunkan azab dari langit kepada penduduk bumi, maka azab tersebut dihindarkan dari orang-orang yang meramaikan masjid-masjid.” (HR. Asakir melalui Anas r.a.).

Tiada suatu azab pun yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada suatu penduduk bumi, melainkan azab tersebut tidak akan mengenai orang-orang yang menghidupkan masjid-masjid. Yang dimaksud dengan mereka yang meramaikan dan menghidupkan masjid-masjid ialah orang-orang yang selalu mengerjakan ibadah di dalam masjid sehingga masjid tampak ramai dan hidup, tidak sepi.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Apabila kalian melihat seseorang yang terbiasa masuk masjid, maka saksikanlah oleh kalian bahwa dia orang beriman karena sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 18, “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah-lah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka mereka lah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain juga Nabi Saw. bersabda, “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya; dan anggaplah dirimu akan mati (besok). Hendaknya engkau merasa takut akan do’anya orang yang teraniayaya, sebab do’anya pasti dikabulkan. Peliharalah salat subuh dan isya, datanglah untuk berjamaah pada kedua salat tersebut karena jika kalian mengetahui pahala yang terdapat pada kedua salat itu niscaya kalian akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Thabrani melalui Darda).

Hadits ini mengandung perintah tentang empat perkara terpenting dalam agama, yang salah satunya adalah, kerjakanlah salat Subuh dan Isya secara berjamaah di masjid karena sesungguhnya pahala kedua salat tersebut, yang dilakukan secara berjamaah sangat besar, sehingga diungkapkan “sekalipun kamu harus merangkak untuk mendatanginya, mengingat pahalanya yang besar itu.” Dalam riwayat lain disebutkan seandainya kamu harus melakukan undian untuk menghadirinya, niscaya kamu akan melakukan undian untuknya.

“Tiada suatu salat pun yang lebih utama dari pada salat fajar (salat subuh) pada hari Jum’at yang dilakukan dengan berjamaah; aku menduga bahwa tiada seorang pun dari kalian yang mengerjakannya melainkan ia diampuni (dosanya).” (HR. Hakim dan Abu Ubaidah)

Dalam hadits yang lainnya, Nabi Saw. telah bersabda, “Sesungguhnya rumah-rumah Allah di bumi ini adalah masjid-masjid, dan sesungguhnya merupakan suatu keharusan bagi Allah memuliakan orang yang mengunjungi-Nya dalam masjid-masjid.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Mas’ud r.a.). “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid, selain dalam masjid.” (HR. Adarqathani).

Juga dalam hadits yang lain disebutkan, “Jadikanlah kalian di dunia ini seakan-akan tamu, jadikanlah masjid-masjid sebagai rumah kalian; biasakan lah hati kalian selalu ingat akan Allah, perbanyak lah berpikir dan menangis, serta janganlah hawa nafsu kalian melalaikan kalian dari perkara akhirat. Kalian membangun rumah-rumah yang tidak akan kalian tempati (untuk selamanya), dan kalian mengumpulkan harta yang tidak akan kalian makan (untuk selamanya), serta kalian mencita-citakan hal-hal yang tidak bakal kalian capai.” (HR. Abu Na’im melalui al-Hakam ibnu Umair).

Jadikanlah masjid sebagai rumahmu, yakni gunakanlah sebagian waktumu untuk solat dan _beri’tikaf_ di dalam masjid.

Ada orang-orang yang mendapat naungan dari Allah di bawah ‘Arasy-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya ialah orang-orang yang mengamalkan ketiga hal berikut, yakni mengerjakan wudhu` dengan sempurna di waktu malam yang sangat dingin, berangkat ke masjid untuk menunaikan salat jamaah di malam yang gelap, dan suka memberi makan kepada orang yang kelaparan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya dimiliki olehnya, niscaya Allah akan menaungi nya di bawah naungan ‘Arasy pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, yaitu: berwudhu` dalam keadaan yang tidak menyenangkan; berjalan ke masjid di kegelapan malam; dan memberi makan kepada orang yang lapar.” (HR. al-Ashbahani melalui Jabir).

Hadits-hadits yang disebutkan di atas adalah mengutamakan salat berjamaah, dimana salat berjamaah itu dilakukannya di masjid. Semoga kita tetap berusaha untuk menggunakan masjid sebagai tempat salat berjamaah dan masjid merupakan rumah Allah yang membawa keberkahan terhindar dari azab-Nya. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Karsidi Diningrat, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *