oleh

Ketaatan Bukan Terhadap Keburukan Kezaliman

ALI bin Abi Thalib salah seorang sahabat Nabi dan khalifaur Rasidhun yang ke-4, mengatakan bahwa, “Orang yang berbuat zalim atau lalim, orang yang membantunya, dan orang yang rida kepadanya adalah tiga orang yang sama (buruknya).”

Salah satu sifat orang mukmin ialah tidak berbuat zalim kepada orang lain apapun kedudukan diri kita. Terkadang sebagian dari diri kita beranggapan bahwa kezaliman terbatas pada kezaliman penguasa kepada rakyatnya. Kezaliman penguasa kepada rakyatnya memang bukanlah perkara biasa. Hal itu akan membangkitkan penentangan akibat tidak adilnya kesejahteraan, di samping juga sebab-sebab yang lain.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa, 4:59)

Ketaatan adalah nilai hidup yang paling agung. Jika tidak ada ketaatan maka tidak ada keimanan kepada Allah. Jika tidak ada ketaatan maka akan berhentilah siklus kehidupan. Karena, semua sisi kehidupan ini, apa pun macamnya, tidak lain kecuali hasil dari ketaatan suatu kekuatan kepada kekuatan lain yang melingkupinya. Ketaatan kepada anak manusia, contoh, — salah satunya adalah pemimpin, — dibolehkan selama apa yang diperintahkannya itu merupakan perwujudan ketaatan kepada Allah. Namun, jika yang diperintahkannya itu merupakan maksiat kepada Allah, maka ia tidak berhak ditaati.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Hai Ibnu Adam! Taatlah kepada Rabbmu, maka kamu termasuk orang berakal, dan janganlah mendurhakai-Nya karena kamu akan dinamai seorang yang jahil.” (HR. Abu Na’im melalui Abu Hurairah r.a.).

Orang yang taat kepada Rabb-nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dinamakan orang yang berakal. Akan tetapi, apabila ia durhaka kepada-Nya, dinamakan orang yang jahil (bodoh) sebab, durhaka kepada Allah akan mengakibatkan kebinasaan, dan hanya orang yang bodoh yang mau menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan. Sedangkan orang yang berakal pasti tidak akan mau berbuat hal-hal yang berakibat membinasakan dirinya sendiri karena sesungguhnya tidak sekali-kali Allah Swt. melarang sesuatu, melainkan di dalamnya terkandung kemudaratan dan kebinasaan bagi pelakunya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Tunduk dan taatlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah hamba sahaya Habsyah yang kepadanya mirip dengan zabib (anggur kering).” (HR. Bukhari).

Hadits ini menganjurkan agar kita taat dan patuh kepada orang yang memerintahkan urusan kita dengan memakai ungkapan mubalaghah. Atau dengan kata lain, sekalipun orang yang memerintah urusan kita itu adalah orang yang hina. Makna hadits ini mengandung pengertian mubalaghah karena para ulama telah sepakat bahwa tampuk pemerintahan termasuk urusan yang sangat penting, hal ini tidak boleh dipegang.oleh hamba sahaya dan wanita.

Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, “Ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf (perkara yang bajik)”. (HR. Bukhari dan Muslim melalui Ali k.w.). “Taat hanyalah dalam hal yang ma’ruf.” (HR. Muslim, Abu Daud dan Nasai).

Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam ke-ma’ruf-an, yakni dalam hal-hal yang baik saja. Adapun jika seseorang diperintahkan untuk berbuat kedurhakaan, maka tiada ketaatan baginya dan janganlah ia menuruti perintah itu, sekalipun yang menyuruhnya kedua orang tuanya sendiri. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS. Lukman: 15).

Juga dalam hadits yang lain beliau Saw bersabda, “Tunduk dan taat merupakan suatu kewajiban bagi seorang Muslim dalam hal yang ia sukai atau dalam hal yang ia benci selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk maksiat, maka ia tidak boleh tunduk dan tidak boleh taat.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Umar r.a.).

Dalam hadits di atas telah disebutkan bahwa ketaatan atau tunduk patuh itu hanya dalam kebajikan saja. Hadits tersebut di jelaskan dengan gamblang dalam hadits ini, yang maksudnya ialah bahwa tidak ada tunduk atau patuh bila diperintahkan untuk maksiat terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta.

Kembali kepada masalah kezaliman. Kita perlu ingat bahwa terdapat bentuk lain dari kelaliman yang terkadang diri kita lalai darinya, atau menganggapnya remeh, padahal di sisi Allah Swt. merupakan kesalahan yang besar. Yaitu, berbuat zalim kepada sesama manusia.

Di dalam bergaul dengan manusia, terkadang kita berbuat lalim kepada seseorang. Namun, jangan kita anggap perbuatan itu sebagai hal biasa. Yang demikian itu bisa lebih berbahaya daripada kezaliman penguasa kepada rakyatnya.

Lidah, jika salah menggunakannya, dapat menjadi alat berbahaya untuk berbuat zalim sesama manusia. Dan seburuk-buruknya kezaliman adalah berbuat zalim kepada orang yang lemah, sengsara.

Salah satu penyebab kezaliman adalah sikap tergesa-gesa dalam mengambil tindakan, keputusan. Janganlah tergesa-gesa dalam menghukumi peristiwa-peristiwa yang dihadapi di dalam hidup, terutama yang menyangkut kezaliman rerhadap orang. Karena, sikap tergesa-gesa akan menyebabkan penyesalan dan merugi, dan itu akan melukai hati dan perasaan orang banyak.

Ali bin Abi Thalib berwasiat kepada anak-anaknya, “Janganlah kamu berbuat zalim sebagaimana kamu tidak ingin dizalimi.” “Wahai anakku, seburuk-buruknya bekal untuk hari kiamat adalah berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah.”
Wallahu A’lam bish-Shawabi .

*Karsidi Diningrat adalah Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta.
* Penulis/pengasuh rubrik Rohani poskotaonline (poskota.co)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *