oleh

Hiasilah Diri dengan Kejujuran

 96 total views,  6 views today

ALLAH subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat, 41: 30).

Kejujuran adalah pilar utama keimanan. Kejujuran adalah kesempurnaan kemuliaan, saudara keadilan, roh pembicaraan, lisan kebenaran, sebaik-baiknya ucapan, hiasan perkataan, sebenar-benarnya pembicaraan, kebaikan segala sesuatu. Pada kejujuran terdapat kelezatan rohani yang tidak akan dirasakan seorang pendusta. Sementara dusta adalah lawan dari jujur, sangat tercela, baik besar maupun kecil.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Hendaklah kamu bersikap jujur karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan sementara kebajikan membawa ke surga. Tidaklah seseorang senantiasa bersikap jujur dan berusaha keras memilih jalan kejujuran kecuali ia nantinya akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Jauhilah kebohongan karena sesungguhnya ia membawa kepada keburukan sedangkan keburukan itu menghantarkan orang ke neraka. Tidaklah seseorang senantiasa bersikap dusta dan memilih jalan kedustaan kecuali ia nantinya akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.” (HR. Bukhari & Muslim).

Biasakanlah berlaku jujur karena kejujuran dapat mengantarkan pelakunya kepada kebajikan, dan kebajikan itu akan menunjukkan pelakunya ke dalam surga. Demikianlah makna yang dikandung oleh bagian pertama dari hadits ini yang kesimpulannya ialah menganjurkan kepada kita agar selalu berlaku jujur. Apabila seseorang berlaku jujur terus menerus, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.

Bagian kedua dari hadits ini memperingatkan kita agar menjauhi dusta, karena dusta dapat mengantarkan pelakunya kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan menunjukkan pelakunya kepada neraka. Bilamana seseorang terus-menerus berdusta maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta, alangkah celakanya jika sudah demikian.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Janganlah kalian berdusta, karena sesungguhnya perbuatan dusta itu berlawanan dengan iman.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits yang pertama telah disebutkan bahwa pendusta itu dapat menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan-perbuatan durhaka, dan perbuatan yang durhaka itu dapat menyeret pelakunya ke dalam neraka. Hal ini menunjukkan bahwa berdusta merupakan perbuatan yang berdosa, maka tidak heranlah apabila dalam hadits ke dua ini disebutkan bahwa berdusta itu bertentangan dengan iman. Pada prinsipnya semua perbuatan dosa bertentangan dengan iman.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl, 16: 105). “Dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali-Imran, 3:61).

Dalam hadits yang lain juga Rasulullah Saw. telah bersabda, “Amal surga adalah jujur, apabila seorang hamba berbuat jujur berarti ia telah bertaqwa, apabila ia bertaqwa berarti ia beriman, dan apabila ia beriman berarti ia masuk surga. Amal neraka adalah dusta, apabila seorang hamba berdusta berarti ia telah berbuat durhaka, dan apabila ia berbuat durhaka berarti ia telah ingkar, dan apabila ia ingkar berarti ia masuk neraka.” (HR. Ahmad melaui Ibnu Umar r.a.).

Dalam hadits terdahulu telah disebutkan bahwa jujur akan membawa pelakunya kepada ketaqwaan, dan ketaqwaan akan membawanya kepada iman; serta iman akan mengantarkannya ke dalam surga. Akan tetapi, dusta akan membawa pelakunya kepada kedurhakaan; dan kedurhakaan akan menyeret pelakunya kepada kekufuran, serta kekufuran; akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Karena itulah maka dalam hadits ini disebutkan bahwa jujur merupakan sikap ahli surga, sedangkan dusta merupakan sikap ahli neraka.

Diperkuat dengan hadits di bawah ini, “Jujurlah kalian, sesungguhnya jujur itu salah satu pintu surga, dan hati-hatilah kalian terhadap dusta karena dusta itu adalah salah satu pintu neraka.” (HR. Al-Khatib melalui Abu Bakrah).

Dalam hadits yang lain juga Rasulullah Saw telah bersabda, “Seseorang hamba belum sempurna imannya sehingga ia meninggalkan dusta sekalipun dalam bergurau, dan meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar.” (HR. Ahmad).

Iman seseorang masih belum sempurna sebelum ia meninggalkan dusta, sekalipun dalam bergurau; dan sebelum meninggalkan berdebat, sekalipun ia benar. Dapat disimpulkan dari hadits ini bahwa berdusta itu tidak diperbolehkan sekalipun dalam bergurau; dan juga berdebat, sekalipun orang yang bersangkutan benar.

Dalam hal ini salah seorang Khalifah Rasidun, mengatakan bahwa, “Takutlah kamu dari dusta yang kecil maupun dusta yang besar, yang dilakukan dengan sungguh-sungguh ataupun dengan bercanda. Karena, jika seseorang berdusta kecil maka hal itu akan mendorongnya untuk berani berdusta besar.” “Kejujuran mendatangkan rezeki, khianat membawa pada kemiskinan.” (HR. ad-Dailami).

Jujur artinya apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang ada dalam hati kita. Tentunya, hal itu harus sesuai dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan. Semoga kita tetap melakukan kejujuran agar kita berbahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Anggota PB Al Washliyah- Jakarta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *