oleh

Empat Sifat Nabi Muhammad SAW dan Profesi Wartawan

HAMPIR satu jam saya dan rekan Dr Acep Aripudin, dosen Ilmu Dakwah dan Budaya UIN SGD Bandung ngobrol di sebuah ruangan. Diskusi yang digelar adalah mengenai topik terhangat mulai dari agama sampai politik. Di akhir diskusi di luar dugaan Kang Acep menutup obrolan yang mengejutkan, “Pada diri wartawan melekat sifat Nabi Muhammad SAW sebagai cahaya dalam mengungkap sebuah kebenaran di muka bumi.”

Ungkapan Kang Acep yang dibarengi kepulan asap rokok dari mulutnya itu membuat saya menjadi penasaran. Bahkan ungkapan dia bak tugas mata kuliah dari seorang dosen untuk mahasiswanya. Sebagai seorang praktisi saya tidak mau menyerah begitu saja. Setelah dilakukan pencarian dari beberapa literasi saya menemukan jawaban mengenai empat sifat Nabi SAW sebagai cahaya pada profesi wartawan.

Pertama, sifat Nabi Muhammad SAW yang melekat pada diri wartawan sebagai obor dalam menjalankan profesinya adalah shiddiq (benar). Seorang wartawan profesional ia akan mengangkat atau mengungkap sebuah kebenaran. Kebenaran yang diwacanakan wartawan pada medianya bukan hanya kebenaran semu, namun kebenaran yang betul betul benar. Benar, yang dimaksud bukan kebenaran subjektif tapi benar dalam arti objektif.

Kedua, sifat Nabi yang bersemayam pada diri wartawan adalah amanah. Setiap wartawan dan persnya harus bekerja amanah atau dapat dipercaya sehingga wartawan (pers) memiliki kredibilitas di mata publiknya. Dengan mengedepankan sifat amanah pers tidak mungkin menjadi cemoohan khalayaknya. Oleh karenanya, panca indera seorang wartawan pada hakikatnta merupakan amanah dari panca indera pembacanya.

Ketiga, sifat Nabi SAW yang melekat pada diri wartawan adalah tabligh yakni merupakan tugas para nabi dan rasul-Nya sebagai penyampai amanah Allah Swt kepada umat manusia. Wartawan tiada lain bertugas sebagai juru dakwah atau tabligh yakni menyampaikan kebenaran yang hakiki. Penyampaian kebenaran bisa melalui lisan atau melalui tulisan. Media massa dan wartawan profesional senantiasa mengabarkan mengenai kebenaran sekalipun pahit untuk ditelan.

Sifat Nabi keempat yang menempel pada diri wartawan yakni fathanah atau kepintaran/kecerdasan. Seorang wartawan dalam tabligh-nya harus berpegang teguh pada sifat fathanah terutama ketika wartawan melakukan news hunting, news writing, news editing dan publishing.

Dalam wawancara wartawan harus pandai menggali fakta, memilih sumber berita, termasuk dalam pemilihan fakta. Wartawan yang fathanah memiliki kemampuan dalam mewacanakan sebuah fakta sesuai dengan masyarakat pembacanya.

Merujuk pada sifat Nabi SAW sebagaimana diuraikan tadi sangatlah jelas bahwa pada diri wartawan sangat melekat sifat-sifat tersebut dan keempat sifat tersebut nyatanya tertuang pada kode etik jurnalistik atau kode etik wartawan Indonesia sebagai kode etik profesi. Misalnya, Kode Etik Jurnalistik Pasal 4 dengan tegas menyatakan bahwa wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Bohong dalam penafsirannya adalah sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Begitu pula misalnya Pasal 1 menyebutkan wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita akurat, berimbang dan tidak beri’tikad buruk. Pasal ini ditafsirkan bahwa independen artinya memberitakan peristiwa sesuai dengan suara hati nurani tanpa paksaan, serta intervensi pihak lain. Akurat dalam konteks ini adalah dipercaya, objektif dan tidak berniat buruk kepada seseorang atas berita tersebut.

Empat sifat Nabi Muhammad SAW sebagaimana diuraikan memang harus menjadi modal utama bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Terlebih seorang wartawan dan persnya harus betul betul mengaplikasikan keempat sifat tersebut agar pers bisa bekerja lebih profesional. Pers sebagai ujung tombak untuk menyatakan sebuah kebenaran harus berdiri tegak pada tugas dan fungsi utamanya.

Ketika pintu pintu utama sudah tidak mampu menyatakan sebuah kebenaran maka pers harus berani menyuarakan kebenaran sekalipun penuh tantangan. Celakanya adalah ketika pers dan wartawannya turut tejebak ke dalam lembah keniscayaan kebenaran pun terasa mahal dan sulit untuk disuarakan pers dan wartawan yang dipandang masyarakat berani dalam mengungkap kebenaran harus berdiri tegak dan jangan sampai turut berselingkuh dengan keniscayaan. Hanya pers dan wartawan yang mampu berani mengaplikasikan sifat sifat Nabi Muhammad SAW-lah yang akan tumbuh di hati pembacanya karena mereka menilainya sebagai pers yang tidak lupa akan jati dirinya.

Dr H Dono Darsono
Penulis adalah pemerhati, praktisi media, dan pengajar di Prodi Jurnakistik, Fakuktas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *