oleh

Bersegera Berbuat Kebajikan

ALLAH SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, ayat 148, : ” … Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Dalam surat An-Nahl, ayat 90, Allah Swt. berfirman, : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Kesempatan berbuat kebajikan terbuka luas, seluas bumi ini. Semua langkah yang kita ayunkan di jalan Allah, dan semua amal yang kita lakukan untuk mencari keridhaanNya, merupakan kebajikan yang akan mendapat ganjaran. Pernahkah kita menemukan sebongkah batu tergeletak di tengah jalan, kemudian kita menyingkirkannya supaya orang tidak tersandung. Hal ini adalah kebajikan, yang pelakunya tentu mendapat ganjaran.

Al-Mawardi berkata, “Orang yang sudah mampu melakukan suatu kebaikan seyogyanya segera melakukannya, karena saat itu adalah kesempatannya untuk berbuat baik dan mendapatkan keuntungan. Jangannya kita menundanya karena yakin dengan kemampuannya. Janganlah kita menundanya karena masih ada kesempatan. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita orang-orang yang beriman untuk berinfak di jalan-Nya dan mengharap ridha-Nya.

Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah, 2:254).

Berbuatlah kebajikan sebagaimana Allah Swt telah berbuat kebajikan kepadamu. Janganlah meremehkan perbuatan baik, walaupun hanya perbuatan kecil. Berusahalah menjadi diri kita yang suka berkhidmat kepada orang lain. Pernahkah kita melihat orang-orang yang dengan giat berbuat khidmat kepada orang lain? Berusahalah menjadi seperti mereka.

Berbuat kebajikan merupakan hal yang diperintahkan tanpa memandang kepada siapa pun kita berbuat baik. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Berbuatlah kebajikan kepada orang yang layak menerimanya dan juga kepada orang yang tidak layak menerimanya; apabila kebajikanmu tepat mengenai orang yang layak menerimanya berarti engkau telah memberikannya kepada ahlinya, dan apabila kamu tidak mengenai orang yang layak menerimanya berarti kamu sendirilah yang menjadi ahlinya.” (HR. al-Khatib melalui Ibnu Umar r.a).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. bersabda, : “Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba yang suka menolong kawannya ...(HR. Muslim)

Sebab betapa banyak orang yang pada mulanya merasa yakin dengan kemampuannya, namun akhirnya menyesal saat kemampuannya hilang; betapa banyak orang yang percaya dengan kekuatannya, namun akhirnya harus menanggung malu saat kekuatannya hilang. Seandainya kita cerdas dalam menghadapi bencana waktunya dan dapat menjaga diri dari dampak pemikirannya, ia pasti akan dapat menghindarkan diri dari kerugian dan memperoleh ganjaran yang membahagiakan.

Tergesa-gesa, dalam arti terburu-buru sehingga menimbulkan kesalahan dalam berpikir dan bertindak, tidak dianjurkan; namun tergesa-gesa dalam arti bersegera dan berlomba-lomba di dalam kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan Islam.

Al-Qur’an dan sunnah Nabi telah memberikan perhatian yang besar terhadap perlombaan di dalam berbuat kebajikan. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mendorong orang untuk berlomba-lomba melakukan kebajikan.

Kompetisi — di dalam semua ranah kehidupan — tidak boleh berubah menjadi perseteruan, dan harus berlangsung dengan fair. Yang demikian itu tidak akan mungkin terjadi kecuali jika: a. Tujuannya adalah keridhaan Allah Swt, b. Bukan untuk kepentingan diri dan kekuasaan, dan c. Jauh dari ruang lingkup urusan dunia dan segala macam perhiasannya.

Karena itu, hendaknya orang yang sehat bersedekah dengan kesehatannya, orang yang berilmu bersedekah dengan ilmunya, dan orang yang berpandangan luas bersedekah dengan kebijaksanaannya.

Jadi, seyogyanya setiap orang yang mempunyai keunggulan, bersedekah dengan keunggulan nya. Dengan demikian, perbuatan baik adalah mata uang yang beredar di pasar orang-orang shaleh dan modal dagang mereka.

Nabi Saw bersabda, : “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, perbuatanmu memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah, kamu memberi petunjuk kepada orang yang tersesat adalah sedekah, kamu menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari tengah jalan adalah sedekah, dan tindakanmu menuangkan air dari ember saudaramu adalah sedekah.”

Allah yang memberikan kehidupan dan harta kepada kita mewajibkan agar sebagian dari harta itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, kaum fakir miskin, dan kepentingan umum yang penting bagi masyarakat. Di antara yang membuat jiwa orang kaya siap menginfakkan hartanya adalah menyalurkannya untuk kepentingan umum. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Karsidi Diningrat

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *