oleh

Tim Unkris Raih Hibah Pendanaan PKM Kemendikbudristek, Usung Pengelolaan Buper Taman Bincarung

JAKARTA – Tim Universitas Krisnadwipayana (Unkris) berhasil lolos dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tahun 2023 yang digelar oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek. Program berjudul Pemberdayaan Pengelola Kawasan Bumi Perkemahan Taman Bincarung (Dusun Pasir Angling, Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat) melalui Pendekatan Arsitektur Ekologis dan Pariwisata serta Manajemen berbasis Digital tersebut selanjutnya akan mendapatkan bantuan pendanaan (hibah) dari DRTPM Kemendikbudristek.

Dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, progam tersebut diusulkan oleh tim dosen Unkris dengan melibatkan 5 mahasiswa. Adapun tim tersebut adalah Dr. Ali Khumaidi, S.Kom, M.Kom (Prodi Teknik Informatika) sebagai ketua, Nazaruddin Khuluk, ST, M.Si (Prodi Arsitektur), dan Diajeng Reztrianti, SE, MM (Prodi Manajemen) sebagai anggota.

Dalam pelaksanaan program, tim Unkris akan bermitra dengan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Taman Bincarung, yang diketuai oleh Cecep Dodi.

Adapun kegiatannya meliputi pertama, memberikan pelatihan character building ke mitra untuk membangun kinerja pengelolaan, mekanisme kerja, pembuatan profil dan dokumen pendukung lainnya, pembuatan laporan kegiatan dan rencana pengembangannya.

Lalu memberikan pelatihan manajemen keuangan kepada pengelola, membangun dan memberikan pelatihan aplikasi manajemen dan keuangan, website buper, mengadakan konsultasi dan bimbingan terkait rencana pengembangan kawasan Buper Taman Bincarung melalui Pendekatan Arsitektur Ekologis dan Pariwisata

Selain itu tim juga akan mengadakan pelatihan digital marketing, pelatihan aplikasi desain dan pelatihan capacity building untuk pembuatan proposal kerjasama dan komunikasi pada mitra.

Dalam keterangannya, Ketua Tim PKM Unkris Dr. Ali Khumaidi, S.Kom, M.Kom mengatakan Bumi Perkemahan (Buper) Pasir Angling atau Buper Taman Bincarung sudah ada sejak tahun 1990. Kawasan hutan di kelola oleh Perum perhutani dengan status hutan produksi dan di tanami pohon pinus sebelumnya pernah menjadi lokasi latihan TNI. Pengelolaan Buper Pasir Angling melibatkan aparat setempat dan warga masyarakat.

”Namun pengelolaan berjalan hanya sebentar karena pohon pinus yang ada mulai di tebang oleh Perum Perhutani sekitar tahun 1993. Dampaknya Buper yang biasa melakukan aktivitas di kawasan mulai redup dan sepi,” jelasnya.

Pada tahun 2019 melalui Keputusan Kepala Desa Suntenjaya nomor: 145/SK.75/Ds/II/2019 menetapkan Kelompok Usaha Perhutani Sosial (KUPS) Taman Bincarung yang diketuai oleh Cecep Dodi diberikan kewenangan pengelolaan.

Buper Taman Bincarung memiliki luas sekitar 10 hektar dan dikelilingi oleh hutan pinus yang asri. Memiliki potensi pengembangan lebih lanjut, lokasi Buper cukup luas untuk aktivitas dan dekat dengan curug. Dalam pengelolaan Buper dimulai secara bertahap dengan keterbatasan pendanaan.

Sejak tahun 2021 setelah pandemi covid 19 bertahap pengembangan faslitas dibangun dengan bahan yang ada disekitar dan dana hasil dari pengunjung. Saat ini Buper Taman Bincarung banyak menjadi aktivitas mahasiswa, siswa dan pecinta alam yang melakukan kegiatan di kawasan tersebut, mulai dari diklat, camping ground serta pendakian ke gunung bukit tunggul.

Pengelola Buper memiliki harapan besar untuk kemajuan Buper Taman Bincarung sehingga terus mengadakan perbaikan dan pembangunan sesuai dengan apa yang diketahui. Pada Bulan Februari 2022 membentuk kelompok sadar wisata melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat nomor: 556/Kep 494-Disparbud/2022.

Buper Taman Bincarung berada ditapak yang masih sangat alami, lingkungan sekitarnya pun masih sangat asri dengan pepohonan rindang, udara yang bersih dan sejuk serta air yang jernih. Maka dari itu akan sangat sesuai jika penataan massa bangunan pada kawasan bumi perkemahan dirancang dengan konsep ekologis dengan memanfaatkan potensi alam lingkungan sekitar tanpa merusaknya dan menjaga kelestarian alam tapak.

Konsep kawasan yang ekologis juga sangat unik untuk menarik minat pengunjung dan sangat mendukung fungsi kawasan bumi perkemahan sebagai sarana edukasi tentang alam. Pengembangan dan promosi yang tepat untuk mengoptimalkan potensi Buper. Dengan arsitektur yang menarik dan unik, bumi perkemahan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan menginap di tempat tersebut. Wisatawan dapat menikmati suasana yang berbeda dari biasanya dan mengabadikan momen indah di tempat tersebut.

Saat ini Buper Taman Bincarung telah memiliki media sosial Facebook dengan 952 pengikut yang digunakan sebagai media informasi dan promosi. Biaya tiket untuk camping sebesar Rp20 ribu dan kunjungan sebesarRp 5 ribu. Walaupun harga tiket cukup terjangkau dan telah melakukan promosi online namun perlu peningkatan kunjungan.

Model promosi masih secara konvensional yaitu dari mulut ke mulut dan media sosial Facebook, ditambah hasil pencarian dari youtube ada 11 video yang diposting oleh pengunjung. Banyak masukan dari pengunjung agar menambah fasilitas dan spot kegiatan namun pengelola hingga saat belum bisa membuat pengembangan dan mapping kawasan, adanya keterbatasan dana dalam pembangunan area hanya dari sisa dana masuk setelah pembelanjaan dan menggunakan bahan yang ada dari lingkungan sekitar dengan model bangunan seuai pengetahuan pengelola. Buper ini memiliki potensi pengembangan menjadi Wisata Edukasi dan keluarga. Buper ini merupakan kawasan produsen kopi terbaik di Lembang sehingga berpeluang dibuka spot edukasi mulai dari penanaman, panen, produksi hingga penyajian kopi.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal dengan pengelola Buper Taman Bincarung Tim PKM Unkris menyimpulkan sejumlah kendala dalam pengelolaan dan pengembangan Buper. Diantaranya, pertama pengelolaan masih dilakukan secara konvensional, termasuk pengelolaan keuangan. ”Uang yang diperoleh dari penjualan tiket belum ada pencatatan dan laporan rutin. Hanya kuitansi saja yang dikumpulkan sebagai bukti ke anggota pengelola,” ujar Ali.

Kendala lainnya, tim menemukan bahwa pengembangan kawasan Buper yang meliputi pembangunan spot fasilitas lebih mengandalkan masukan pengunjung dan pengunjung dibebaskan camping pada area yang ada. Pengelola Buper belum memiliki rencana pengembangan kawasan Buper berbasis arsitektur pariwisata.

Tim juga melihat bahwa pengelola Buper yang aktif memanfaatkan waktu kosong dengan memanfaatkan kayu disekitar untuk membuat atau memperbaiki fasilitas. Mitra belum memiliki pengetahuan arsitektur ekologis, agar dapat memanfaatkan bahan disekitar untuk membangun sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan.

Dilihat dari pengunjung, selama ini Buper hanya dikunjungi oleh komunitas pendidikan, dan kurang untuk pengunjung keluarga.

Sementara untuk media promosi, meski sudah ada media sosial tetapi ternyata belum maksimal pemanfaatannya. Pengelola lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut yang tentu saja jangkauannya terbatas.

”Kami juga melihat bahwa kemampuan mitra dalam menjalin kerjasama dengan pihak eksternal sangat rendah terbukti dengan kegiatan yang digagas namun tidak berkelanjutan. Pengelola belum memiliki pengetahuan membuat proposal kerjasama dan komunikasinya,” tutup Ali. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *