oleh

Terbukti Memalsukan Akta Autentik, Fikri Salim Divonis Enam Tahun Penjara

POSKOTA.CO – Terdakwa kasus memasukan data palsu dalam akta otentik, Fikri Salim divonis enam tahun penjara oleh Pengadilan Jakarta Pusat, Senin (30/11/2020). Sidang dipimpin Hakim Tuty Haryadi SH berlangsung secara virtual.

Atas vonis itu, terdakwa Fikri Salim masih pikir-pikir apakah menerima putusan tersebut atau banding. “Sesuai keteranga para saksi dan fakta persidangan terdakwa terbukti bersalah,” kata Hakim Tuty.

Vonis hakim sesuai dengan tuntutan Jaksa Guntur Adi Nugraha SH sebelumnya. Terdakwa melanggar pasal primair Pasal 263 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP subs Pasal 263 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau kedua 378 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau ketiga Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tidak ada hal yang meringankan terdakwa dalam perkara ini. Sebaliknya kata hakim-hakim yang memberatkan, terdakwa tidak merasa menyesal, terdakwa tidak berterus terang, tindakan terdakwa merugikan orang lain dan terdakwa tidak bisa mengembalikan semua kerugian pelapor.

Sesuai keterangan saksi dan fakta persidangan, menurut hakim, terdakwa terbukti memalsukan surat pengikatan jual beli sebidang tanah di Casua, Bogor dari penjual Leonova Marlius dengan Sertipikat Hak Milik No 525/Cisarua.

Harga tanah yang disepakati Rp1.100.000 per meter, tapi di akta pengikatan diubah menjadi Rp2.000.000. Perubahan harga ini diketik ulang oleh Junaedi, yang divonis empat tahun di pengadilan yang sama. Saksi Junaidi mengaku mengetik ulang akta pengikatan atas perintah terdakwa Fikri Salim.

Pengikatan jual beli yang diketik saksi Junaidi adalah yang masih kosong kemudian memasukan data termasuk mengubah harga tanah menjadi Rp2 juta permeter. Dokumen yang asli yang hanya Rp1,1 meter persegi. Harga tanah keseluruhan menjadi Rp1.4.400.000.

Dokumen yang telah diubah tersebut diserahkan kepada Fikri Salim dan diserahkan kepada bagian administerasi keuangan, Syamsudin. Sedangkan dokumen yang asli juga diserahkan oleh Junaidi kepada Fikri setelah dimasukkan ke dalam map.

Seperti diketahui, Fiksi Salim alias Kiki, dengan nomor perkara 760/Pid.B/2020/Pn.Jkt.Pst diadukan oleh Prof Dr Lucky Aziza, pemilik PT Jakarta Media. Dia dituduh memasukkan data dalam akta autentik, pemalsuan surat dan penggelapan dalam jabatan serta penipuan.

Laporan Polisi Nomor: 7846/XII/2019/PMJ/Dit Reskrimum, Tanggal 03 Desember 2019 inilah yang menyeret ke kursi pesakitan PN Jakarta Pusat. Awalnya, pada tahun 2018, Prof Dr Lucky hendak membeli tanah, dan membelinya dari Leonova Marlius tapi harga dimark up oleh Fikri cs dari Rp1,100.000 per meter menjadi Rp2.000.000 per meter dengan mengubah akta pengikatan jual beli.

Pengikatan jual beli yang Rp2 juta itulah, yang kemudian diserahkan kepada bagian adminstrasi keuangan Syamsudin, yang kemudian mencairkannya melalui tiga cek Bank BNI atas nama Lucky Aziza.

Cek yang dikeluarkan Prof Lucky adalah cek BNI yang tandatanganinya di Jalan Sutan Syahrir No 6 RT 010/02 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng Jakarta Pusat, dengan masing-masing cek ditulis nama penjual Leonova Marlius.
Rinciannya: Cek BNI Nomor CE 424659 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp500.000.000, tertanggal 13 September 2018. Kemudian, cek BNI Nomor CG 110122 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp440.000.000 tertanggal 12 Desember 2018, serta cek BNI Nomor CG 313738 atas nama Dokter Lucky Aziza Bawazir senilai Rp500.000.000 tertanggal 6 Maret 2019.

Kasus ini terungkap setelah Prof Lucky melunasi pembayaran, Sertipikat Hak Milik No 525/Cisarua atas nama Lionova Marlius tersebut, kemudian dibuatkan Akta Jual Beli No 444/2018 tanggal 11 Desember 2018 yang dibuat berhadapan dengan PPAT Arfina Purbohadi SH, tetapi sampai dengan saat ini Prof Lucky (PT Jakarta Medika) belum menerima sertifikat atas nama Prof Lucky dan salinan akta jual belinya, walaupun sudah lunas sejak Maret 2019. (omi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *