oleh

Polda Metro Ungkap Jaringan Narkoba Iran dengan  Barang Bukti 1,129 Ton Sabu

POSKOTA.CO–Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo  menyampaikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat yang berhasil mengungkap narkoba jaringan internasional asal Timur Tengah (Iran)-Indonesia. Barang bukti yang disita sebanyak 1,129 ton narkoba jenis sabu.

Sebelumnya Polri juga berhasil melakukan pengungkapan narkoba jaringan internasional yang berasal dari Timur Tengah sebanyak 2,5 ton narkoba jenis shabu. “Selama Mei dan Juni 2021 kurang lebih 3,6 ton narkotika jenis sabu masuk Indonesia. Indonesia banjir narkoba di masa pandemi Covid-19,” kata Kapolri Listyo Sigit di Polda Metro Jaya, Senin (14/6/2021).

Sementara Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan,  kejahatan transnasional atau Transnational Organized Crime (TOC) adalah fenomena jenis kejahatan yang melintasi perbatasan internasional.

“Ini melanggar hukum beberapa negara atau memiliki dampak terhadap negara lain. Salah satu bentuk TOC adalah perdagangan narkotika yang dilakukan secara illegal,” kata Komjen Agus.

Menurutnya, TOC masuk ke Indonesia sehingga menjadi ancaman nyata terhadap gangguan Kamtibmas. Ketika seluruh dunia secara bersamaan termasuk Indonesia mengalami pandemi Covid-19, sesuai dengan hakekat ancaman, situasi ini merupakan ambang gangguan (faktor korelatif kriminogen), yaitu ancaman yang apabila dibiarkan dalam kurun waktu tertentu bisa berubah menjadi ancaman faktual.

Kata Komjen Agus, akibat terjadinya kontraksi ekonomi dan disrupsi ekonomi memberikan beberapa dampak sosial bagi masyarakat sehingga meningkatnya angka kemiskinan maupun angka pengangguran. ” Selain itu timbul rasa panik di masyarakat yang disertai meningkatnya aksi kejahatan,” ujar Agus.

Situasi ini diperparah dengan peran penyalahgunaan narkoba sebagai stimulant terjadinya situasi tersebut. Fakta empiris membuktikan ternyata penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan kejahatan konvensional, khususnya kejahatan jalanan, seperti pencurian dengan kekerasan, curanmor dan yang lainnya.

“Pelaku kejahatan jalanan dalam melakukan kejahatannya tidak lagi didasarkan atas motif ekonomi, melainkan dorongan akan kebutuhan untuk menggunakan narkoba,” terangnya.

Kejahatan konvensional lanjut Kombes Agus didahului dengan penggunaan narkoba dapat memberikan dampak negatif yang mendalam bagi pelaku berupa hilangnya empati, hilangnya rasa takut serta cenderung brutal.

Fakta ini juga ditemukan pada kejahatan yang berimplikasi kontijensi seperti kerusuhan, konflik horizontal yang mana agresifitas massa yang cendrung destruktif serta anarkis ternyata sebagian pelakunya dibawah pengaruh narkoba.

Di saat pemerintah khususnya aparat penegak hukum disibukkan dengan tugas-tugas penanganan pandemi Covid-19, kata Kombes Agus lagi pemulihan ekonomi nasional, timbul fenomena maraknya penyelundupan narkoba khususnya dari sindikat internasional yang memanfaatkan situasi pandemi ini.(Omi/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *